Penduduk Kalimantan Barat di belahan pesisir menggantungkan hidupnya pada alam. Mengumpulkan rupiah dengan melaut. Kondisi cuaca baik, nelayan mampu membawa hasil tangkapan yang memuaskan namun, bila kondisi cuaca ekstrem nelayan bisa merugi bahkan mendapat musibah, hilang tidak pulang lagi ke daratan.
“Keselamatan bagi nelayan masih sangat minim. Banyak nelayan yang pergi kelaut tidak pulang. Tidak tersedianya tim sar. Janganlah disamakan dengan Negara Jepang yang jaminan keselamtan nelayannya sangat tinggi, ada yang dipantau melalui pesawat dan sebagainya, tim SAR saja sangat jarang,” ungkap salah seorang warga Muara Kakap, Herman, Selasa (16/3) di Kakap.
Herman yang sehari-harinya bertugas sebagai staf Tata Usaha di Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 4 Kabupaten Kubu Raya mengharapkan agar warga yang berprofesi sebagai nelayan memiliki jaminan keselamatan. Nasib nelayan sangat memprihatinkan. Kondisi alam tidak bisa diprediksi.
“Nalayan inikan sangat sering berhadapan dengan badai dan ombak, untuk mengatasinya disiasati dengan bobot kapalnya. Berdasarkan pengalaman kalau berat kapal 3 ton masih bisa menghadapi ombak yang satu dua meter, tapi kalau sudah tiga hingga lima meter sudah tidak terjangkau. Solusinya pulang atau berlindung di tepi pulau,” kata Herman yang juga pernah menjadi awak kapal negara Jepang.
Menurutnya banyak sekali kekurangan. Nasib nelayan masih sangat ditentukan oleh faktor alam. Kalau mendapatkan musibah, mereka hanya bisa menyewa kapal milik nelayan lainnya, alternatif lain meminta bantuan keluarga yang juga bekerja sebagai nelayan.
“Sepuluh tahun terakhir ini banyak nelayan yang meninggal. Memang ajal sudah ditentukan, tapi usaha untuk keselamatan masih minim, hingga saat ini dinas belum menyediakan solusi bagi nelayan. Kita masih banyak kekurangan,” kata Herman.
Meskipun jaminan keselamatan sangat minim, para nelayan masih bersemangat untuk melaut. Terutama musim ikan, meskipun badai besar, para nelayan tetap menangkap ikan, udang dan sotong. Cuaca ekstrem tidak terlalu dipedulikan, saat itulah hasil tangkapan cukup memuaskan.
“Mulai dari bulan lima hingga bulan dua belas musim ikan, udang dan sotong. Kalau pulang kita biase dapat hasil tangkapan yang cukuplah untuk simpan-simpan. Kalau rezekiny bagus selama satu musim, bisa juga untuk beli kapal baru,” aku salah seorang nelayan di Muara Kakap, Ibrahim.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
