You are here

Pendidikan di Indonesia Kurang Sentuhan Spiritual

Sistem pendidikan Indonesia dinilai kurang dalam sentuhan spiritualitas. Hal ini menyebabkan para siswa dan mahasiswa kering dalam nurani yang berdampak kepada perilaku sehari-hari.

"Padahal, dalam sistem Pendidikan Nasional ditegaskan tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia yang beriman, bertakwa, dan bermental baik. Namun, tujuan itu kurang dijabarkan dalam kurikulum pendidikan," kata Ketua Sekolah tinggi ilmu kesehatan (Stikes) Dharma Husada Bandung (DHB), Dr. Hj. Suryani Soepardan, M.M, di sela-sela zikir bersama mahasiswa dan Brimob Polda Jabar.

Untuk memenuhi kebutuhan nurani mahasiswa, kata Suryani, lembaga pendidikan memiliki keleluasan dalam implementasinya. "Di Stikes DHB dibiasakan setiap pagi seluruh karyawan, mahasiswa, dan dosen membaca Asmaul Husna, Almatsurat, dan salawat nabi," katanya.

Sedangkan ketika terdengar azan salat semua aktivitas dihentikan. "Termasuk kuliah dan rapat juga berhenti untuk melaksanakan salat berjemaah dan baca Alquran. Di luar Senin dan Kamis dibiasakan makan bersama di kampus," ucapnya.

Alokasi anggaran makan bersama dari kampus untuk menambah keakraban dan efektivitas waktu. "Kalau makan di luar kampus akan banyak waktu terbuang. Makan berjemaah juga membuat suasana persaudaraan makin kental karena bisa saja terjadi sepiring berdua," katanya tersenyum.

Sedangkan Presiden Mahasiswa Stikes DHB, Didim Mardiyana mengatakan, mahasiswa juga menerima pembinaan "soft skill" untuk pengembangan bakat dan minat yang dimasukkan dalam perkuliahan. "Seluruh mahasiswa pada semester I diwajibkan mengikuti pelatihan ESQ sebelum orientasi pengenalan kampus (Opspek)," katanya.

Sedangkan untuk menjaga spiritualitas dan perilaku, kata Didim, diadakan renungan ESQ setiap bulan. "Alhamdulillah mahasiswa mengenal tujuan dan misi hidup di dunia ini. Hidup ini sebagai ibadah sehingga siap ditempatkan di mana saja ketika sudah lulus misalnya di daerah tertinggal," ucapnya.