You are here

Mungkinkah Gambut sebagai Energi Alternatif?

Itulah pertanyaan yang mungkin sering ada di benak masyarakat. Terlebih lagi ternyata Kalimantan Barat memiliki kekayaan lahan gambut terbesar di Indonesia, yaitu seluas 4,61 juta hektar. Hal ini didorong pula dengan alasan bahwa bagaimanapun energi adalah infrastruktur dasar yang sangat diperlukan manusia untuk kehidupan. Namun, kebutuhan energi yang semakin hari semakin meningkat tidaklah linier dengan laju penyediaan energi. Ini akan memicu krisis-krisis di bidang lainnya. Latar belakang tersebut kemudian mendorong para peneliti untuk berupaya mencari sumber energi alternatif, salah satunya dalam bentuk bioetanol.

Inilah yang mendorong 4 orang peneliti dari Fakultas Teknik dan FMIPA Universitas Tanjungpura untuk melakukan penelitian bersama. Keempat peneliti tersebut sebagai ketuanya adalah Dr.Eng. Ferry Hadary, ST., M.Eng dengan anggotanya, Lucy Arianie, S.Si, M.Si; Ir. Danial, MT dan Sri Rezeki, S.Si. Keunikan dan tren dunia tentang energi menjadikan Kementerian Pendidikan Nasional DIKTI memberikan dana penelitian melalui Penelitian Strategis Nasional Tahun 2010 kepada para peneliti tersebut dan diselesaikan selama 8 bulan.

Dasar pemilihan gambut sebagai bahan baku bioetanol didasarkan untuk mengantisipasi krisis pangan karena selama ini yang umum digunakan adalah dari jagung dan tebu. Tentu ini sangat mengkhawatirkan karena akan menimbulkan kompetisi baru akan ketersediaan bahan baku untuk pangan, pakan dan sumber energi. Tingkat emisi yang relatif rendah dan kaya akan lignoselulosa juga menjadikan gambut berpotensi untuk dikonversikan menjadi bioetanol.

Gambut diketahui kaya serat/lignosellulosa yang berasal dari tumbuhan. Bahan-bahan lignoselulosa ini di antaranya residu hutan dan limbah pertanian (rumput, alang-alang, sekam padi, sisa-sisa hasil panen, bonggol jagung dan lain sebagainya). Oleh karena itu gambut berpotensi untuk dapat dikonversi menjadi bioetanol melalui pemecahan lignoselulosa menjadi gula sederhana yang akhirnya diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi.

Penelitian ini dimulai dengan pengambilan sampel di Desa Galang, Kabupaten Pontianak. Sampling gambut dilakukan di area yang jauh dari aliran air karena dapat membuat selulosa terurai. Gambut yang diambil adalah pada kedalaman 40-60 cm dari permukaan tanah yang disebut gambut jenis fibrik dan hemik. Secara kasat mata, jenis ini memiliki ciri-ciri yaitu berwarna coklat.

Secara garis besar proses penelitian dimulai dengan pengeringan gambut pada suhu 105oC selama 16 jam dan kemudian disimpan dalam desikator untuk mempertahankan kelembabannya agar konstan. Selanjutnya ukuran gambut diperkecil hingga 120 mesh. Setelah itu dilakukan beberapa analisa untuk mengetahui kadar masing-masing komponen senyawa lignin, selulosa dan hemiselulosa.

Secara sederhana, jika kadar lignin tinggi maka produk bioetanolnya sedikit. Begitu juga dengan hemiselulosa. Semakin tinggi hemiselulosa juga akan membuat semakin sedikit bioetanolnya. Sedangkan bioetanol dihasilkan dari konversi selulosa yang harus dihidrolisa terlebih dahulu dengan asam mineral untuk memperoleh glukosa yang dapat difermentasi.

Pada penelitian ini konsentrasi glukosa sebelum dan sesudah fermentasi diukur untuk mengetahui jumlah konversi glukosa menjadi produk. Dengan kata lain, bioetanol itu hasil dari fermentasi glukosa. Sehingga semakin banyak produk bioetanolnya maka semakin sedikit glukosa yang tersisa karena sebagian glukosanya sudah diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti ini kemudian memperoleh bahwa ternyata gambut mengandung 68% lignin; 20,6% selulosa; 6,6% hemiselulosa; dan 4,8% kandungan lainnya. Kadar bioetanol yang diperoleh dengan suhu inkubasi 30oCĀ  selama 5 hari adalah sebanyak 0,05% yang dihasilkan dari pengukuran sekitar 1 mL larutan hasil fermentasi yang dihasilkan.

Apa makna dari angka-angka tersebut di atas? Para peneliti dari Fakultas Teknik dan FMIPA ini kemudian menjelaskan ilustrasi sebagai berikut. Di Negara Brazil, bensin dicampur dengan 20-25% bioetanol atau 0,8 liter bensin berbanding 0,2 liter bioetanol atau 200mL bioetanol. Jika ini dikomparasikan dengan hasil penelitian mereka, maka hasil bioetanol dari penelitian ini yang sejumlah 0,05% dari kira-kira 1mL larutan hasil fermentasi itu adalah = 0,05mL bioetanol gambut (dari 5 gram tanah gambut). Sehingga untuk memperoleh 200mL bioetanol untuk campuran bensin berarti diperlukan (200mL:0,05mL) ? 5 gram gambut = 20.000 gram gambut atau = 20 kg gambut. Walaupun demikian, masih ada kelanjutan proses yang harus dilakukan pada penelitian ini, yaitu uji bahan bakar. Adapun parameter untuk uji ini adalah uji kalor pembakaran, uji angka cetane dan angka oktan, uji viskositas dan uji flash point.

Hasil penelitian ini bagaimanapun membuktikan ketepatan metode yang digunakan dan adanya kemungkinan bahwa gambut juga bisa menjadi energi alternatif, walaupun dari 20 kg gambut ternyata hanya dihasilkan 0,05mL bioetanol.