You are here

Gejolak Indonesia Malaysia Dilihat dari Sudut Pendidikan

Pemberitaan media massa yang gencar soal hubungan Indonesia-Malaysia tidak memiliki dampak besar bagi dunia pendidikan Indonesia. “Pendidikan Indonesia tidak terlalu jelek, justru merugikan pendidikan Malaysia jika terjadi perang. Alasannya banyak pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Malaysia,” ujar Aswandi, pakar pendidikan dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Kamis, (2/9).


Aswandi menuturkan, kalau terjadi konflik perang Indonesia-Malaysia, memang ada pengaruh tapi tidak berarti harus mempertaruhkan idealisme warga negara Indonesia yang ingin menempuh pendidikan tinggi.


“Pendidikan Indonesia juga jangan tergantung dengan Malaysia. Pendidikan diibaratkan investasi. Malaysia sebenarnya hati-hati jika terjadi konflik fisik. Karena pendidikan menjadi pendapatan negaranya. Contoh negara Australia, pendapatan negara  terbesar kedua dari pendidikan setelah domba. Pendidikan bagi sebagian negara menjadi sumber devisa negara,” terangnya.


Aswandi sebenarnya sangat menyesalkan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. “Pimpinan kita tidak tegas terhadap persoalan Indonesia Malaysia. Bukan persoalan sikap perang, tapi pembenahan diri kita di semua bidang,” ungkap Dekan FKIP ini.


“Saya mendapat informasi dari 12 orang Indonesia yang belajar ke Kuala Lumpur Malaysia. Tidak ada masalah di sana dengan gejolak yang terjadi. Malah mereka heran dengan keributan di media massa,” tambahnya.  


Mahasiswa Indonesia yang belajar ke Malaysia mengatakan, tidak terpengaruh dengan konflik Malaysia-Indonesia. Mahasiswa Indonesia di negeri Jiran sampai sejauh ini tidak mengalami teror yang ditujukan kepada mahasiswa Indonesia selama belajar di negeri Jiran.


“Sujud salat bersama-sama, saya terkejut dengan kondisi pemberitaan saat ini. Saya tidak tahu, justru istri saya yang menelepon memberitahukan kepada saya. Teman-teman orang Malaysia justru baik kepada kami. Seharusnya Indonesia malu dengan memanasi situasi,” kata Zainal Arifin, kandidat Doctor ICT Program English Language, University of Malay menambahkan.  


Menurutnya, orang Malaysia tidak mungkin benci dengan Indonesia. Bahkan ada saudara sedarah dengan Malaysia, dan tidak mungkin perang. Sepanjang kota Kuala Lumpur, mahasiswa Indonesia tertib mengikuti peraturan. Jika terjadi perang, para mahasiswa, kata Zinal, akan mengajukan petisi menolak langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Pemerintah memang punya otoritas, tapi kami akan melawan.


Alasan masalah ini berlarut-larut kata Zainal, karena ini tindakan politikus yang memanasi kondisi haus akan kekuasaan. “Saya pulang bukan karena dipaksa atas situasi gejolak tapi karena ingin lebaran di Indonesia.”


Sementara itu Andry Hudaya anggota Komisi D DPRD Provinsi Kalbar mengatakan, secara langsung tidak ada dampak dalam dunia pendidikan, tapi secara tidak langsung jangka panjang mengganggu hubungan pelajar kedua negara.


“Saya kira jika terjadi konflik menimbulkan kerugian bagi dua negara. Masalah ini bisa diselesaikan baik-baik. Jangan orang-orang Jakarta melemparkan kritik, karena Kalbar yang menjadi korban. Ada kabupaten-kabupaten di Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ada warga yang menghidupi nafkahnya dengan Malaysia,” ungkapnya.


Andry mengatakan, lebih baik lakukan proses penyelesaian dengan diplomasi. Perang bukan solusi, karena korbannya anak dan ibu-ibu terutama di Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia. “Malaysia adalah sesungguhnya sahabat bagi negara Indonesia. Jalur diplomatik adalah cara terbaik. Dulu Malaysia belajar dengan kita, sekarang kita yang belajar dengan Malaysia karena Indonesia lalai dalam hal pendidikan. Pendidikan bagi Indonesia hal yang kesekian, tapi Malaysia, pendidikan yang utama,” terangnya.