Pontianak dan Jakarta, agak terganggu dengan berita bahwa Brigjen Drs. Erwin TPL
Tobing mendapat tugas baru sebagai Widyaiswara di Pendidikan Kepolisian,
Lembang, JaBar. Tugas lamanya selaku KaPolDa KalBar digantikan oleh Brigjen Drs.
Sukrawardi Dahlan yang sebelumnya menjabat KaPolDa SulUt. Sarapan pagi saya
terganggu bukan disebabkan oleh masalah pemindahan tempat tugas. Permutasian di
kalangan pejabat negara adalah wajar dan seharusnya dilakukan dalam menciptakan
suasana dan semangat baru. Namun, itu lebih disebabkan oleh fakta bahwa hubungan
‘Bang’ Erwin, begitu ia biasa dipanggil di luar MaPolDa, yang begitu khas dan
special dengan berbagai lapisan dan golongan masyarakat KalBar, akan segera
menjadi kenangan dan berakhir secara formal sejak diserahterimakan kepada
penggantinya di MaBes Polri Kamis, 19/8 yang lalu (Ptk. Post, 22/8-2008:3;
Equator, 22/8-2010:9).
Hubungan Khas, tegas tidak kompromi.
Hubungan khas yang dijalin oleh BrigJen. Drs. Erwin Tobing baik mengandung
unsur positif seperti persahabatan, perhatian, perlindungan dan pembinaan
terutama terhadap rakyat kecil seperti hubungan dengan penduduk Kampung
Beting, pedagang Kaki Lima, dan pedagang kecil lainnya; dengan mereka pencari
keadilan, pejabat negara yang sering dicari kesalahannya, para akademisi yang
bekerja sama ikut membesarkan polisi dalam memperkuat masyarakat madani serta
membantu fihak-fihak yang diperlakukan tidak adil; dan LSM yang bekerja
membangun perdamaian dan pencegahan dan solusi konflik. Kekhasan dan keunikan
hubungan itu juga ditampilkan oleh ‘Bang’ Erwin dengan sikap tidak kompromi
terhadap mantan kriminal kambuhan atau mereka yang melakukan kriminalitas dan
pelanggar hukum lainnya, dan mereka yang pernah bertindak anarkis, serta
pengedar Miras dan Narkoba.
Hubungan khas itu dilengkapi pula dengan perintah “tembak ditempat” terhadap
mereka yang bertindak anarkhis, melakukan kekerasan dan kekacauan dalam
masyarakat. Sikap tegas itu bertambah khas dengan tambahan bahwa tembak ditempat
dilakukan dengan peluru ‘karet.’ Namun, hubungan baik Bang Irwin dengan berbagai
lapisan dan golongan masyarakat serta sikap tegas tanpa pilih bulu terhadap
pelanggar sudah tentu akan diteruskan oleh KaPolDa KalBar yang baru: Brigjen
Pol. Drs. Sukrawardi Dahlan.
Masyarakat KalBar mengucapkan terima kasih dan penghargaan setulus-tulusnya
kepada Bang Erwin yang telah memberikan terbaik bagi KalBar selama bertugas di
daerah ini. Kami ucapkan selamat bertugas dan sukses ditempat baru, semoga Tuhan
merestui anda dan keluarga. Bagi KaPolDa baru, BrigJen. Pol. Drs. Sukrawardi
Dahlam, masyarakat KalBar mengucapkan selamat datang, selamat bertugas. Mari
kita besarkan lagi polisi di daerah ini dengan membuang segala macam penyakit
social yang mungkin masih ada di dalamnya. Rakyat KalBar akan mendukung anda
setiap saat dalam mengejar ketertinggalan daerah ini.
Haus akan Persahabatan
Setiap KaPolDa yang bertugas di KalBar terbiasa bersilaturahmi dengan tokoh
masyarakat, Bang Erwin juga melakukan hal seperti itu. Dalam silaturahmi di
rumah, kami mengobrol ngalur ngidul; akhirnya saya berpendapat bahwa ia memiliki
kepedulian dan keprihatinan mendalam baik terhadap anggota kepolisian itu
sendiri maupun terhadap masyarakat kecil. Hal inilah yang membuat BrigJen yang
murah senyum ini berada di hati masyarakat KalBar dan dekat dengan dunia
akademis. Karena itu pula, kami berdua, hampir tidak pernah absen berkomunikasi
satu dengan lain paling tidak tiga minggu sekali melalui SMS, tilpon, dan bahkan
bertemu di kantornya untuk berdiskusi tentang perlunya polisi menjadi lebih
professional, berwibawa dan dekat dengan masyarakat.
Ketika berada di Bandung pertengahan Januari 2010 lalu, saya mendapat SMS dari
beliau agar segera pulang ke Pontianak untuk menjadi moderator dalam acara
penyelesaian kasus ‘Seruan Pontianak.’ Kasus tersebut melibatkan 77 penanda
tangan seruan, anggaplah sebagai tesis. Kemudian ada 7 lembaga adat serta
sejumlah fihak yang keberatan dengan seruan itu sebagai antitesis. Mantan
KaPolDa prihatin dengan suasana panas antara tesis dan antitesis. Ia tampil
tegar dan mengajak saya mendampinginya selaku penengah atau sintesis. Saya hanya
dapat menulis sebuah artikel dan dikirim via E-mail ke PolDa dan dimuat dalam
tiga surat kabar Pontianak untuk menyejukkan suasana kontroversi sekitar Seruan
itu. Dengan arifnya, sang Mantan KaPolDa, layaknya seorang abang bersama “obat
penyejuk” dari Bandung, akhirnya kasus, yang sempat memanaskan kota Khatulistiwa
ini, menjadi dingin kembali,
Jaringan dengan Luar Negeri.
Ketika bertemu dengan Prof. Dr. Timo Kivimaki dan saya awal Nopember 2009 lalu,
dengan sedikit bergurau tapi serius, Mantan KaPolDa yang satu ini, mengundang
secara khusus Prof. Timo -- Dosen University of Helsinki, Finlandia dan
University of Copenhagen, Denmark-- agar datang lagi ke KalBar untuk memberikan
pendidikan dan latihan kepada para KaPolRes, KaPolSek beserta jajaran dan
perwira polisi di lingkungan PolDa KalBar seperti kami lakukan sebelumnya. Saya
heran dan meragukan. Punyakah PolDa dana khusus untuk mendatangkan Profesor,
seperti Timo Kivimaki, warga Negara Finlandia yang menjadi peneliti senior di
Nordic Institute of Asian Study (NIAS) di Copenhagen, Denmark. “Mengundang pakar
dari Eropah bukan perkara mudah,” fikir saya. Biaya untuk itu sangat mahal.
Universitas-universitas besar di Jawa mengalami kesulitan biaya mendatangkan
seorang dosen tamu.
Karena kedekatan kami sejak tahun 2000, apalagi ia adalah mitra UNTAN dan
beberapa PemKab dan PemKot di KalBar sebagai dosen tamu dan trainer, Prof. Timo
menerima undangan itu, bahkan ia datang ke Pontianak bersama kawannya, Prof.
Dr. Tonnesson, dari Norwegia, Juni 2010, untuk memberikan pelatihan kepada para
pejabat PolDa dengan menggunakan seluruh biaya dari pemerintahnya dan Uni
Eropah, tanpa membebani PolDa dan UNTAN. Kedua Prof tersebut, Bang Irwin dan
saya juga punya obsesi yang sama untuk memberdayakan polisi di PolDa KalBar
dalam masyarakat Madani.
Kewaspadaan dan Pencegahan.
Selama di KalBar, mantan KaPolDa ini banyak menghabiskan waktu di lapangan.
Hampir sebagian besar kawasan kecamatan di seluruh kabupaten dan kota di daerah
ini telah dikunjunginya. Bang Erwin akan mengintensifkan kunjungannya bilamana
terjadi ketidakamanan di kawasan itu, seperti ekses negatif dari PilKaDa.
Karena itu, ia sampai dua sampai tiga kali ke Sintang dan Ketapang dengan jumlah
tim dan perhatian jauh lebih besar, karena PilKaDa pada dua daerah ini mengalami
sedikit masalah. Untuk mencegah kekerasan, ia memerintahkan jajarannya pada
kabupaten-kabupaten tersebut untuk tembak ditempat terhadap para perusuh.
“Gertak” atau “ancaman” ala “Sumatera Utara” ini ternyata berhasil membuat calon
perusuh di KalBar berfikir 10 kali untuk melakukannya.
Seminar Makalah Kesultanan Melayu
Keprihatinan kami terhadap kontroversi mengenai satu hal yang tidak berdasarkan
pada motif yang logis dan rasional, anarkhisme dan kekerasan tampaknya tidak
berbeda, walau Bang Erwin dan saya tidak berasal dalam spesialisasi keilmuan
yang sama. Karena itulah ketika terjadi kontroversi dalam sebuah makalah yang
menyatakan bahwa Kesultanan dari kelompok etnis tertentu adalah “perompak” dan
tugu/patung naga di Singkawang termasuk ritual/tidak sehingga penempatannya
dipersoalkan. Hal itu memicu pembelahan tiga kelompok etnis bersaudara yang
mengarah pada pembakaran dan kekerasan lainnya. Kami berdua sepakat bahwa kasus
makalah dan patung naga mesti diselesaikan secara terpisah. Pro-kontra makalah
dibicarakan dalam seminar akademis sedangkan patung naga diselesaikan melalui
penelitian ilmiah atau polling.
Dalam konteks ini, mantan KaPolDa KalBar ini tidak hanya sekedar memiliki
strategi yang bersifat teknokratis dan praktis berkenaan dengan tugas
kepolisian. Namun lebih dari itu, ia memiliki pemahaman cukup terhadap paradigma
dan perspektif sosial budaya dan ekonomi dalam memahami masalah sosial,
khususnya di KalBar. Karena itu, seminar akademis tentang makalah Melayu
didukung sepenuhnya oleh mantan KaPolDa KalBar dengan seluruh jajarannya.
Kasus Singkawang ini membawa juga hikmah terutama bagi kerjasama yang begitu
sinergis antara Kantor Sekretariat Wakil Presiden, UNTAN, STAIN, PolDa, Lembaga
Jaringan Studi Konflik dan Perdamaian Indonesia (ICPSN) dan Yayasan Swadaya Dian
Khatullistiwa (YSDK). Hal menarik dalam seminar itu adalah KaPolDa hadir
menyampaikan kata sambutan, walaupun ia harus menghadiri acara penting yang
sudah diagendakan lama sebelumnya dan sudah akan mengirim seseorang mewakilinya.
Ini terbukti bahwa KaPolDa memiliki kepedulian dan komitmen yang tidak diragukan
terhadap perdamaian dan kehidupaan akademis. (Dosen FISIPOL UNTAN dan Ketua Indonesia Conflict and Peace Study Network/ICPSN)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
