You are here

BRIGJEN POL DRS. ERWIN TPL TOBING BERAKAR DI HATI MASYARAKAT

Pada pagi, 7/8 – 2008, sarapan saya yang ditemani oleh dua Koran terbitan

Pontianak dan Jakarta, agak terganggu dengan berita bahwa Brigjen Drs. Erwin TPL

Tobing mendapat tugas baru sebagai Widyaiswara di Pendidikan Kepolisian,

Lembang, JaBar. Tugas lamanya selaku KaPolDa KalBar digantikan oleh Brigjen Drs.

Sukrawardi Dahlan yang sebelumnya menjabat  KaPolDa SulUt. Sarapan pagi saya

terganggu bukan disebabkan oleh masalah pemindahan tempat tugas. Permutasian di

kalangan pejabat negara adalah wajar dan seharusnya dilakukan dalam menciptakan

suasana dan semangat baru. Namun, itu lebih disebabkan oleh fakta bahwa hubungan

‘Bang’ Erwin, begitu ia biasa dipanggil di luar MaPolDa, yang begitu khas dan

special dengan berbagai lapisan dan golongan masyarakat KalBar, akan segera

menjadi kenangan dan berakhir secara formal sejak diserahterimakan kepada

penggantinya di MaBes Polri Kamis, 19/8 yang lalu (Ptk. Post, 22/8-2008:3;

Equator, 22/8-2010:9).

Hubungan Khas, tegas tidak kompromi.

Hubungan  khas yang dijalin oleh BrigJen. Drs. Erwin Tobing baik mengandung

unsur positif seperti persahabatan, perhatian,  perlindungan dan pembinaan

terutama terhadap   rakyat kecil seperti hubungan dengan penduduk Kampung

Beting, pedagang Kaki Lima, dan pedagang kecil lainnya;  dengan  mereka pencari

keadilan, pejabat negara yang sering dicari kesalahannya, para akademisi yang

bekerja sama ikut membesarkan polisi dalam memperkuat masyarakat madani serta

membantu fihak-fihak yang diperlakukan tidak adil; dan LSM yang bekerja

membangun perdamaian dan pencegahan dan solusi konflik. Kekhasan dan keunikan

hubungan itu juga ditampilkan oleh ‘Bang’ Erwin dengan sikap tidak kompromi

terhadap mantan kriminal kambuhan atau mereka yang melakukan kriminalitas dan

pelanggar hukum lainnya, dan mereka yang pernah bertindak anarkis, serta

pengedar Miras dan Narkoba.


Hubungan khas itu dilengkapi pula dengan perintah “tembak ditempat” terhadap

mereka yang bertindak anarkhis, melakukan kekerasan dan kekacauan dalam

masyarakat. Sikap tegas itu bertambah khas dengan tambahan bahwa tembak ditempat

dilakukan dengan peluru ‘karet.’ Namun, hubungan baik Bang Irwin dengan berbagai

lapisan dan golongan masyarakat serta sikap tegas tanpa pilih bulu terhadap

pelanggar sudah tentu akan diteruskan oleh KaPolDa KalBar yang baru: Brigjen

Pol. Drs. Sukrawardi Dahlan.


Masyarakat KalBar mengucapkan terima kasih dan penghargaan setulus-tulusnya

kepada Bang Erwin yang telah memberikan terbaik bagi KalBar selama bertugas di

daerah ini. Kami ucapkan selamat bertugas dan sukses ditempat baru, semoga Tuhan

merestui anda dan keluarga. Bagi KaPolDa baru, BrigJen. Pol. Drs. Sukrawardi

Dahlam, masyarakat KalBar mengucapkan selamat datang, selamat bertugas. Mari

kita besarkan lagi polisi di daerah ini dengan membuang segala macam penyakit

social yang mungkin masih ada di dalamnya. Rakyat KalBar akan mendukung anda

setiap saat dalam mengejar ketertinggalan daerah ini.

Haus akan Persahabatan

Setiap KaPolDa yang bertugas di KalBar terbiasa bersilaturahmi dengan tokoh

masyarakat, Bang Erwin juga melakukan hal seperti itu.  Dalam silaturahmi di

rumah, kami mengobrol ngalur ngidul; akhirnya saya berpendapat bahwa ia memiliki

kepedulian dan keprihatinan mendalam baik terhadap anggota kepolisian itu

sendiri maupun terhadap masyarakat kecil. Hal inilah yang membuat BrigJen yang

murah senyum ini berada di hati masyarakat KalBar dan dekat dengan dunia

akademis. Karena itu pula, kami berdua,  hampir tidak pernah absen berkomunikasi

satu dengan lain paling tidak tiga minggu sekali melalui SMS, tilpon, dan bahkan

bertemu di kantornya untuk berdiskusi tentang perlunya polisi menjadi lebih

professional,  berwibawa dan dekat dengan masyarakat.

Ketika berada di Bandung pertengahan Januari 2010 lalu, saya mendapat SMS dari

beliau agar segera pulang ke Pontianak untuk menjadi moderator dalam acara

penyelesaian kasus ‘Seruan Pontianak.’  Kasus tersebut melibatkan 77 penanda

tangan seruan, anggaplah sebagai tesis. Kemudian ada 7 lembaga adat serta

sejumlah fihak yang keberatan dengan seruan itu sebagai antitesis. Mantan

KaPolDa prihatin dengan suasana panas antara tesis dan antitesis. Ia tampil

tegar dan mengajak saya mendampinginya selaku penengah atau sintesis. Saya hanya

dapat menulis sebuah artikel dan dikirim via E-mail ke PolDa dan dimuat dalam

tiga surat kabar Pontianak untuk menyejukkan suasana kontroversi sekitar Seruan

itu. Dengan arifnya, sang Mantan KaPolDa, layaknya seorang abang bersama “obat

penyejuk” dari Bandung, akhirnya kasus, yang sempat memanaskan kota Khatulistiwa

ini, menjadi dingin kembali,


Jaringan dengan Luar Negeri.

Ketika bertemu dengan Prof. Dr. Timo Kivimaki dan saya awal Nopember 2009 lalu,

dengan sedikit bergurau tapi serius, Mantan KaPolDa yang satu ini, mengundang

secara khusus Prof. Timo -- Dosen University of  Helsinki, Finlandia dan

University of Copenhagen, Denmark-- agar datang lagi ke KalBar untuk memberikan

pendidikan dan latihan kepada para KaPolRes, KaPolSek beserta jajaran dan

perwira polisi di lingkungan PolDa KalBar seperti kami lakukan sebelumnya. Saya

heran dan meragukan. Punyakah PolDa dana khusus untuk mendatangkan Profesor,

seperti Timo Kivimaki, warga Negara Finlandia yang menjadi peneliti senior  di

Nordic Institute of Asian Study (NIAS) di Copenhagen, Denmark. “Mengundang pakar

dari Eropah bukan perkara mudah,” fikir saya. Biaya untuk itu sangat mahal.

Universitas-universitas besar di Jawa mengalami kesulitan biaya mendatangkan

seorang dosen tamu.


Karena kedekatan kami sejak tahun 2000, apalagi ia adalah mitra UNTAN dan

beberapa PemKab dan PemKot di KalBar sebagai dosen tamu dan trainer, Prof. Timo

 menerima undangan itu,  bahkan ia datang ke Pontianak bersama kawannya, Prof.

Dr. Tonnesson, dari Norwegia, Juni 2010, untuk memberikan pelatihan kepada para

pejabat PolDa dengan menggunakan seluruh biaya dari pemerintahnya dan Uni

Eropah, tanpa membebani PolDa dan UNTAN. Kedua Prof tersebut, Bang Irwin dan

saya juga punya obsesi yang sama untuk memberdayakan polisi di PolDa KalBar

dalam masyarakat Madani.

Kewaspadaan dan Pencegahan.

Selama di KalBar, mantan KaPolDa ini banyak menghabiskan waktu di lapangan.

Hampir sebagian besar kawasan kecamatan di seluruh kabupaten dan kota di daerah

ini telah dikunjunginya. Bang Erwin akan mengintensifkan kunjungannya bilamana

terjadi ketidakamanan di kawasan itu, seperti ekses negatif  dari PilKaDa.

Karena itu, ia sampai dua sampai tiga kali ke Sintang dan Ketapang dengan jumlah

tim dan perhatian jauh lebih besar, karena PilKaDa pada dua daerah ini mengalami

sedikit masalah. Untuk mencegah kekerasan, ia memerintahkan jajarannya pada

kabupaten-kabupaten tersebut untuk tembak ditempat terhadap para perusuh.

“Gertak” atau “ancaman” ala “Sumatera Utara” ini ternyata berhasil membuat calon

perusuh di KalBar berfikir 10 kali untuk melakukannya.


Seminar Makalah Kesultanan Melayu

Keprihatinan kami terhadap kontroversi mengenai satu hal yang tidak berdasarkan

pada motif yang logis dan rasional, anarkhisme dan kekerasan tampaknya tidak

berbeda, walau Bang Erwin dan saya tidak berasal dalam spesialisasi keilmuan

yang sama. Karena itulah ketika terjadi kontroversi dalam sebuah makalah yang

menyatakan bahwa Kesultanan dari kelompok etnis tertentu adalah “perompak” dan

tugu/patung naga di Singkawang termasuk ritual/tidak sehingga penempatannya

dipersoalkan. Hal itu memicu pembelahan tiga kelompok etnis bersaudara yang

mengarah pada pembakaran dan kekerasan lainnya. Kami berdua sepakat bahwa kasus

makalah dan patung naga mesti diselesaikan secara terpisah. Pro-kontra makalah

dibicarakan dalam seminar akademis sedangkan patung naga  diselesaikan melalui

penelitian ilmiah atau polling.

Dalam konteks ini, mantan KaPolDa KalBar ini tidak hanya sekedar memiliki

strategi yang bersifat teknokratis dan praktis berkenaan dengan tugas

kepolisian. Namun lebih dari itu, ia memiliki pemahaman cukup terhadap paradigma

dan perspektif sosial budaya dan ekonomi dalam memahami masalah sosial,

khususnya di KalBar. Karena itu, seminar akademis tentang makalah Melayu

didukung sepenuhnya oleh mantan KaPolDa KalBar dengan seluruh jajarannya.

Kasus Singkawang ini membawa juga hikmah terutama bagi kerjasama yang begitu

sinergis antara Kantor Sekretariat Wakil Presiden, UNTAN, STAIN, PolDa, Lembaga

Jaringan Studi Konflik dan Perdamaian Indonesia (ICPSN) dan Yayasan Swadaya Dian

Khatullistiwa (YSDK). Hal menarik dalam seminar itu adalah KaPolDa hadir

menyampaikan kata sambutan, walaupun ia harus menghadiri acara penting yang

sudah diagendakan lama sebelumnya dan sudah akan mengirim seseorang mewakilinya.

Ini terbukti bahwa KaPolDa memiliki kepedulian dan komitmen yang tidak diragukan

terhadap perdamaian dan kehidupaan akademis. (Dosen FISIPOL UNTAN dan Ketua Indonesia Conflict and Peace Study Network/ICPSN)