You are here

Arahkan Pendidikan untuk Penciptaan Lapangan Pekerjaan

Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak, Chairil Efendi mengatakan, pendidikan merupakan suatu proses membebaskan manusia dari barbagai kendala kehidupan dan diarahkan kepada penciptaan lapangan pekerjaan baru.


Melalui proses pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi dalam dirinya secara optimal. Ada dua jenis pendidikan dalam suatu perguruan tinggi, katanya di Pontianak, Senin.


Pertama pendidikan akademis, yang bertujuan mengarahkan mahasiswa menjadi insan bersifat akademis. Kedua bersifat focasional, yang mempersiapkan mahasiswa untuk dapat bekerja setelah selesai kuliah.


Untuk pendidikan akademik, tidak selalu berkaitan dengan lapangan pekerjaan karena salah satu tujuannya adalah sebagai media pembebas bagi manusia dari berbagai kendala kehidupan.


Mantan Dekan FKIP Untan ini mencontohkan, jika suatu SDM akan di jadikan sekrup dari sebuah mesin raksasa ekonomi, maka sebaiknya di arahkan kepada pendidikan yang bersifat focasional.


Salah satu pendidikan tinggi yang ada di Kalbar yang dapat mengarahkan mahasiswa memiliki keterampilan untuk dapat langsung bekerja setelah selesai kuliah adalah Politeknik.


Perguruan tinggi bersifat fucasional, Polnep merupakan lembaga pendidikan tinggi yang tepat bagi mereka yang menginginkan pekerjaan setelah lulus dari kuliahnya.


"Di untan juga memiliki fakultas serupa seperti FKIP, Pertanian, Teknik, Kehutanan, Kedokteran dan Mipa. Mereka yang duduk di bangku kuliah pada enam fakultas di atas merupakan mahasiswa yang dipersiapkan untuk menduduki lapangan pekerjaan," kata Chairil.


Jika seorang mahasiswa masuk pada fakultas bersifat akademik seperti Hukum, Ekonomi dan Fisipol merupakan mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjadi seorang akademisi atau seorang pemikir.


Mereka tidak disiapkan untuk itu, melainkan lapangan pekerjaan sendiri. Kelebihan mereka mampu melakukan suatu gebrakan dengan pemikiran yang mereka miliki.


"Kelemahannya adalah terjadinya ketimpangan, di mana semua orang berlomba-lomba untuk dapat masuk ke perguruan tinggi favorit tanpa merencanakan akan ke mana setelah lulus nanti," bebernya.


Namun, pada 2009 lalu, pemerintah menyadari ketimpangan ini dan memberi perhatian besar terhadap pendidikan fucasional. Pemerintah mengarahkan siswa sejak dari jenjang pendidikan SMP, SMK hingga ke Perguruan Tinggi.


"Jika kita ingin berbicara mengenai lapangan pekerjaan, sebaiknya suatu SDM di arahkan untuk memasuki pendidikan fucasional," sarannya.


Kendati demikian, tujuan dari pendidikan bukan seperti itu, karena pendidikan merupakan suatu proses transformasi budaya. Jika seseorang masuk perguruan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan maka hal tersebut adalah keliru.


Lanjut Chairil, paradigma kita mengenai pendidikan harus di luruskan terlebih dahulu. Untuk itu, dari awal dia telah memaparkan pengertian dari pendidikan agar dapat memberikan pemahaman bagi masyarakat.


"Adalah salah besar jika pemerintah dan banyak orang berteriak-teriak mengatakan Perguruan Tinggi melahirkan pengangguran. Sekali lagi saya tegaskan, tujuan pendidikan bukan untuk itu," tegasnya.


Masyarakat Indonesia kebanyakan berpikir untuk menjadi PNS dengan alasan terjaminnya masa depan.


"Tentunya tidak demikian. Yang namanya pendidikan akademik bukan untuk mempersiapkan mahasiswa mengisi lapangan pekerjaan, melainkan menciptakan lapangan pekerajaan," tukas.