Ketua Pokja Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara, Agun Gunandjar Sudarsa, menanggapi skeptis pernyataan Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Aminuddin Manaf, yang menyatakan bahwa dirinya merasa bingung dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.
”Bagaimana pemerintahan akan berjalan baik jika seorang pejabat eselon I di daerah saja menyatakan kebingungan dengan suasana negara kita saat ini,” tegas Agun Gunandjar Sudarsa, saat penutupan TOT 4 Pilar di Pontianak, Rabu (27/4).
Sebelumnya, Aminuddin saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Kalbar, Cornelis, menyatakan bahwa kondisi negara saat ini sungguh memprihatinkan dan sangat rentan, karena seringnya terjadi kerusuhan komunal, tawuran antarwarga masyarakat. Dan di pusat pun karut marut politik yang membuat masyarakat pesimistis akan kondisi negara. Bahkan di lingkungan birokrasi daerah terjadi kegalauan akan dibawa ke mana nasib bangsa ini.
Mendengar pernyataan tersebut, politisi Partai Golkar itu menegaskan, ”Itulah perlunya dibangun kebersamaan dalam mengelola negara dan bangsa ini. Eksekutif tidak perlu terlalu banyak bicara, karena tugas mereka adalah bekerja. Sementara tugas partai politik dan DPR adalah berbicara dalam ranah kebijakan politis, legislasi dan pengawasan jalannya pemerintahan. Sebuah negara demokrasi tidak mungkin tegak tanpa adanya partai politik,” tegasnya.
Menurutnya, NKRI terbentuk dan tumbuh dari kesamaan pengalaman, bukan karena satu kesamaan, misalnya kesamaan bahasa. Hal ini berbeda dengan negara Swis atau Polandia, yang bersatu lantaran bahasanya yang satu. ”Sementara Indonesia terbentuk dari beragam suku bangsa, bahasa, etnik namun tersatukan oleh pengalaman sejarah yang sama,” lugas legislator Partai Golkar tersebut.
”Hal inilah yang harus selalu dijaga sebagai implementasi dari Bhinneka Tunggal Ika sebagai salah satu landasan berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.
Meski demikian, Agun menyatakan salut dan gembira atas peran serta para peserta TOT yang secara tekun dan antusias mengikuti seluruh kegiatan sampai tuntas. Dari laporan ketua panitia penyelenggara diperoleh informasi bahwa terjadi kenaikan signifikan pengetahuan dan pemahaman peserta atas materi-materi yang disampaikan para narasumber.
Jika pada pretest nilai rata-rata peserta berada pada kisaran 30, maka pada posttest nilai rata-rata peserta berada pada kisaran 55 lebih. “Jika dinilai dengan standar Ujian Nasional pelajar, maka semua peserta TOT lulus karena melampaui standar minimal,” ungkap Kepala Biro Persidangan Setjen MPR RI, Rizal.
Pada kesempatan itu, Agun didaulat untuk menyerahkan sertifikat kelulusan kepada seluruh peserta TOT dan sebelumnya menerima rekomendasi peserta TOT tentang Tindak Lanjut Hasil TOT.
Sementara itu, para peserta yang berasal dari pendidik di pondok pesantren, organisasi keagamaan, guru PKN dan dosen merasa puas dengan terselenggaranya TOT tersebut. Apalagi narasumbernya berasal dari pimpinan dan anggota MPR RI. (ZA/Humas Kanwil)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
