You are here

Program CDM Terhalang Gambut

Wakil Walikota Pontianak, Paryadi, mengatakan program Clean Development Mechanism (CDM) atau Mekanisme Pengembangan Bersih di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang terhambat karena sedimentasi lahan yang gambut.

Akibat dari lahan gambut tersebut, program CDM yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Pontianak dengan PT. Gikoko belum dapat menghasilkan gas secara maksimal.

“Gas yang dihasilkan di TPA Batu Layang tidak stabil, kadang bisa mencapai 50-60 ton, tapi bisa juga tidak ada sama sekali,” kata Wakil Walikota Pontianak, Pariyadi, di ruang kerjanya, Rabu (27/4) pagi.

Selain terhalang karena sedimentasi lahan gambut, Paryadi menambahkan, program CDM di TPA Batu Layang juga terhambat karena kondisi iklim Kota Pontianak yang memiliki curah hujan yang tinggi.

Dengan sedimentasi lahan gambut serta tingginya curah hujan, ditambahkan Paryadi, membuat pipa sebagai saluran gas metan menjadi tersumbat sehingga tidak dapat menghasilkan gas yang maksimal. Selain itu alat yang digunakan untuk penutupan sampah selalu turun karena kuatnya tumpukan sampah.

Untuk menghasilkan gas yang maksimal, menurut dia, seharusnya perlakuan dan tata cara program CDM di TPA Batu Layang harus berbeda dari CDM di Bekasi, Makassar, dan Palembang, karena lahan di ketiga tempat tersebut keras.

“Mungkin kita harus menggunakan konsep baru dan kajian yang lebih mendalam pada program CDM di TPA Batu Layang,” imbuhnya.

Meskipun kini belum dapat menghasilkan gas yang maksimal, namun kata dia, pihaknya masih diberikan batas waktu oleh PT. Gikoko untuk lebih mengoptimalkan peran program CDM hingga pada tahun depan.

Paryadi menambahkan, jika program CDM di TPA Batu Layang dapat berhasil dalam waktu dekat maka akan sangat membantu masyarakat Kalbar, karena dapat digunakan untuk kebutuhan sumber energi listrik.

Sebelumnya, program CDM di TPA Batu Layang merupakan salah satu TPA di Indonesia yang digunakan untuk menghasilkan gas untuk ditangkap serta dapat mengurangi emisi karbon di dunia.

Oleh karena itu, Paryadi mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi untuk menemukan cara terbaik dan lebih meningkatkan komitmen untuk membantu dunia luar agar terbebas dari gas emisi karbon.