You are here

Pengerukan Alur Kapuas Tak Masuk Anggaran Pusat

Pengerukan alur sungai Kapuas Pontianak tidak masuk dalam anggaran Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Perhubungan. Hal tersebut diungkap Wakil Ketua Komisi DPRD Kalimantan Barat, Sy. Izhar Assyuri usai kunjungannya ke Departemen Perhubungan di Jakarta pekan kemarin.

“Saat kunjungan kita ke Departemen Perhubungan kemarin terungkap kalau pengerukan alur sungai Kapuas tidak masuk dalam prioritas anggaran. Karena PT. Pelindo II tidak pernah memberikan laporan data teknis,” ungkap Izhar diwawancarai Selasa (16/3) kemarin.

Karena PT. Pelindo II tidak memberikan laporan data teknis pada direktorat pengerukan alur dan reklamasi pantai, Dephub menganggap alur sungai Kapuas tidak bermasalah. Sehingga tidak masuk dalam anggaran pengerukan. Di seluruh Indonesia hanya tujuh alur sungai yang dianggarkan, tidak termasuk sungai Kapuas.

Untuk itulah kata Izhar pihaknya bernegosiasi dengan Departemen Pehubungan memasukkan anggaran pengerukan alur Kapuas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan. Selain itu upaya yang dilakukan dengan menyurati komisi V DPR RI.

“Kita meminta agar pengerukan alur sungai ini masuk dalam prioritas,” imbuhnya.

Atas persoalan ini, Izhar mengatakan pihaknya menyayangkan sikap PT. Pelindo II yang tidak memberikan data teknis kondisi alur Kapuas kepada Dephub. Mengakibatkan tidak masukknya alur sungai Kapuas sebagai prioritas pengerukan.

“Seharusnya dengan kondisi alur kita saat ini, mendesak untuk masuk dalam program prioritas. Kalau tidak perekonomian Kalbar akan lumpuh akibat dari tidak dapat keluar masuknya kapal,” tegas dia.

Sebelumnya, Manajer PT. Pelindo II, Ditar Rozano mengatakan dalam hal pengerukan alur sungai PT. Pelindo diposisikan sebagai operator sesuai dengan UU 17/2008 tentang pelayaran.

“Persoalan pendangkalan alur sungai ini sudah menjadi masalah nasional. Karena Kalbar satu-satunya daerah yang pelabuhannya mempunyai alur sungai. Setiap tahun kita lakukan pengerukan tapi sendimentasinya terlalu cepat,” jelas Ditar.

Tahun 2010 ini diungkap Ditar PT. Pelindo menyiapkan dana Rp 15 miliar mengeruk alur sungai Kapuas. Itupun hanya bisa menaikkan alur sungai menjadi 4 LWS.

“Padahal pengguna meminta 5-6 LWS. Untuk mencapai itu mohon bantuan dan dukungan dari semua pihak. Kalau perlu perusahaan-perusahaan pelayaran bikin asosiasi membantu sama-sama dalam hal pengerukan ini,” imbuhnya.

Ditar menjelaskan adapun panjang alur pelayaran dari muara sungai Kapuas kecil hingga ke pelabuhan Dwikora Pontianak sepanjang 31 km (17 knot/mil). Lebar alur perlayatan muara 80 meter dengan kedalaman 3,5 LWS. Sering bermaslah pada bui 3-4.

Sementara itu Ketua Administrasi Pelabuhan (Adpel) Pontianak, Yudustar mengatakan alur sungai Kapuas merupakan urat nadi keluar masuknya barang dan orang di Kalbar.

“Dengan kondisi seperti ini rawan kecelakaan. Jika begitu perekonomian akan terhenti, karena selama ini pengangkutan barang menggunakan transportasi laut,” jelasnya.

Untuk itu pihaknya telah meminta bantuan dari Dirjen Perhubungan Laut membantu pengerukan alur sungai Kapuas. Dana yang diajukan sebesar Rp 27 miliar. Dengan dana sebesar itu akan dapat digunakan untuk meningkatkan kedalam alur dari 3,5 LWS menjadi 5 LWS.

Guna mengantisipasi keluar masuknya kapal di pelabuhan Pontianak pihaknya mengeluarkan selling draf. Setiap kapal yang akan keluar masuk mengisi daftar ini mengatur keluar masuk kapal pada saat kondisi air pasang.

“Sekarang kedalaman 3,6 LWS ditambah dengan pasang tertinggi 1,6 LWS maka dapat dilayari. Tapi kadang air pasang hanya satu jam, sehingga kita memaksimalkannya dengan mengatur menggunakan Selling draft itu,” ungkap dia.

Kalau tidak diatur demikian kata dia maka kapal-kapal akan kandas dimuara. Jika begitu maka pasokan barang ke pelabuhan akan terhenti.

“Kita berharap dana itu segera turun sehingga bisa langsung digunakan, karena tidak bisa menunggu lagi pendangkalan terus terjadi,” imbuhnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Pelindo Setiap tahun  ratusan ribu ton arus barang keluar masuk pelabuhan Pontianak. Tahun 2009 arus barang eskpor/impor keluar/masuk sebanyak 476.883 TON. Tahun 2010 ini saja pada bulan Januari sebanyak 13.698 ton barang ekpsor/impor keluar masuk pelabuhan.

Sedangkan arus bongkar muat antar pulau tahun 2009 sebesar 3,68 ribu ton. Bulan Januari 2010 sudah mencapai 285.785 ton barang bongkar muat di pelabuhan Pontianak.