You are here

Media Lokal Belum Berspektif Gender

Gender, selalu menarik untuk dibicarakan. Apalagi jika bicara persoalan kesetaraan gender. Sebab tidak semua orang mempunyai cara pandang yang sama dalam memandang persoalan ini.

Gender, selalu menarik untuk dibicarakan. Apalagi jika bicara persoalan kesetaraan gender. Sebab tidak semua orang mempunyai cara pandang yang sama dalam memandang persoalan ini.

Media contohnya. Sebagai penyampai informasi sekaligus edukasi tentu sebelum menyampaikan semua pemberitaan ke publik harus lebih dahulu memahami persoalan. Media erat kaitannya dengan cara pandang publik.

Alih-alih memeberikan pencerahan terhadap masyarakat salah memberikan informasi berarti membuat salah berfikir masyarakat. Begitu juga dengan berita-berita terkait gender.

Anggota DPD RI asal Kalimantan Barat, Erma Suryani Ranik mengkritik peberitaan media lokal yang cenderung terjebak pada rutinitas. Sehingga masih belum memiliki perspektif sendiri, seperti persepektif gender.

“Sebagai penikmat media saya melihat media lokal yang ada di Kalbar masih sangat seremonial. Dalam konteks gender, masih belum bersepktif gender semua terjebak pada angka dan seremony. Terutama pada pemberitaan-pemberitaan kriminal dan life style,” demikian kritik yang disampaikan Erma saat menjadi pembicara dalam acara pelatihan jurnalis berspektif gender yang diadakan Ikatan Perempuan Pelaku Media (IPPM) di Pontianak, Sabtu (6/2) kemarin.

Dikatakannya banyak berita di media cenderung bersifat statistik dan seremonial, ini menyebabkan pemberitaan terjebak pada angka dan jumlah. Sifatnya hanya menggambarkan kulit luar dari sebuah peristiwa. Masih jarang sekali ada berita di media yang berisikan humant interes tentang suatu kejadian, apalagi yang memperjuangkan hak kaum perempuan.

“Seharusnya media memeberikan ruang yang lebih luas dalam memandang persoalan gender, terutama berita berikatan dengan perjuangan hak-hak perempuan. Tidak hanya sisi negatifnya saja, tapi semua hal positif yang dapat meningkatkan motivasi kaum perempuan,” jelas Erma yang pernah menjadi jurnalis ini.

Dengan diselenggarakannya pelatihan jurnalis bersepktif gender ini dia mengatakan langkah baik. Guna merekonstruksi pemikiran para jurnalis agar mempunyai persepktif gender.

Selain Erma, pembicara lain yang dihadirkan yakni Hairiah. Hairiah merupakan aktivis perempuan Kalbar, pernah menjadi direktur Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-PIK) Kalbar ini mengungkapkan media berperan besar dalam memerjuankan kesetaraan gender.

“Contohnya saja, jurnalis bisa mempertanyakan sejauh mana implementasi dan komitmen pemerintah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Padahal beberapa peraturan sudah dibuat terkait dengan perlindungan perempuan, pemenuhan hak perempuan dan banyak lainnya,” kata Hairiah ya ng juga salah satu ketua kaukus perempuan MPR RI ini.

Sementara itu, Ketua IPPM Kalbar, Nurul Hayat mengakui pamahaman tentang pemberitaan yang berperspektif gender masih sangat kurang dikalangan jurnalis. 

“Untuk itu diperlukan pelatihan ini gara jurnalis-jurnalis yang ada saat ini dapat memahami dan bersepektif gender dalam pemberitaannya,” kata Nurul.

Redaktur Kantor Berita Antara ini mengungkapkan karena keterbatasan maka belum ada media yang konsern memperjuangkan hak perempuan. Kalaupun ada hanya rubric ingguan. Sedangkan berita sehari-hari masih belum bersepktif gender.

Pelatihan diikuti sebanyak kurang lebih 30 orang dari media yang ada di Kalbar. Baik cetak maupun elektronik. Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan. Apalagi saat materi tentang pembuatan Term of Referens (TOR) yang diberikan oleh Muhlis Suhairi. Bebagai tema liputan disampaikan peserta yang dibagi menjadi empat kelompok. Ada yang mengajukan tema tentang perempuan di perbatasan, perempuan dan HIV/AIDS hingga perempuan dan alat kontrasepsi.