Pendangkalan sungai Kapuas mulai mengkhawatirkan sejumlah pihak, sehingga mendesak untuk dilakukan pengerukan. Sedimentasi lumpur di sungai yang menjadi urat nadi perekonomian Kalbar ini, bukan saja mengganggu lalu - lintas transportasi air, namun berpotensi menghambat aktifitas perekomomian.
Pendangkalan sungai Kapuas mulai mengkhawatirkan sejumlah pihak, sehingga mendesak untuk dilakukan pengerukan. Sedimentasi lumpur di sungai yang menjadi urat nadi perekonomian Kalbar ini, bukan saja mengganggu lalu - lintas transportasi air, namun berpotensi menghambat aktifitas perekomomian.Hal tersebut disampaikan anggota Komisi B DPRD Provinsi Kalbar Setyo Gunawan dalam Rapat Kerja dengan 4 BUMN di gedung DPRD Provinsi Kalbar Senin lalu.
Legislator Demokrat itu menyontohkan kapal Mega Ekspress dari Ketapang-Pontianak, kandas akhir bulan lalu, setelah menabrak kabel bawah laut, akibat ketinggian lumpur di dasar muara yang telah melewati ambang batas.
Setyo Gunawan meminta PT. Pelindo II Pontianak segera melakukan pengerukan, terutama pada lintasan muara Jungkat di Kabupaten Pontianak.
Perwakilan PT. Pelindo II Pontianak Kiskan menjelaskan, pendangkalan akibat sedimentasi lumpur di sungai Kapuas tergolong cepat, sehingga memerlukan pengerukan rutin. Pihaknya bersama Administrator Pelabuhan Pontianak telah membahas rencana tersebut, dan dibawa ke Pemerintah Pusat.
Disamping menjajaki kemungkinan pembangunan beberapa dermaga di alur sungai Kapuas, PT. Pelindo juga mengupayakan pembangunan pelabuhan baru. Mengingat Pelabuhan Dwikora yang saat menjadi gerbang utama keluar masuk barang, semakin padat, sementara intensitas kapal yang memanfaatkan jasa pelabuhan, semakin lama kian meningkat.
Sehingga pihak Pelindo mencari alternatif lain, yakni pelabuhan yang representatif dan mendukung arus lalu lintas barang dari dan keluar Kalbar.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
