You are here

DKP Perlu Tambah Stasiun

Marak terjadinya pencurian ikan (illegal fishing) di perairan Kalimantan Barat memaksa pihak terkait harus waspada dan meningkatkan kesiap-siagaan.

Marak terjadinya pencurian ikan (illegal fishing) di perairan Kalimantan Barat memaksa pihak terkait harus waspada dan meningkatkan kesiap-siagaan.

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalbar, Gatot Rudiono mengatakan dalam komitmen mengurangi illegal fishing tersebut DKP Kalbar memerlukan tambahan stasiun.

“Untuk itu kami mengharapkan bantuan dari DKP pusat, karena kita tidak punya apa-apa terutama dalam fasilitas stasiun     karena Kalbar hanya memiliki satu di Sungai Rengas,” kata Gatot ditemui di Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (16/12)

Dia mengatakan bahwa dampak dari Illegal Fishing merugikan semua pihak. Baik itu pemerintah maupun masyarakat nelayan sendiri. Sebab itu masih diperlukan tambahan stasiun untuk membantu pemantauan.

Saat ini, ia menerangkan bahwa stasiun yang ada di Sungai rengas merupakan stasiun satu-satunya yang ada di Kalbar dengan kapasitas muatan kapal kurang lebih 13 kapal.

”Tentu kedepan kami mengharapkan dapat memiliki stasiun di beberapa tempat di Kabupaten/Kota yang ada di seluruh Kalbar, karena selama ini menumpang dipelabuhan ikan, dan lain-lain,” imbuhnya.

Dia juga berharap kedepan ada rumah khusus untuk semua barang-barang bukti, jika terjadi kasus Illegal Fishing di tiap-tiap Kabutapen/Kota. Sehingga memudahkan melakukan pengawasan.

Beberapa waktu lalu Komisi IV DPR RI telah berkunjung ke Kalbar, Gatot mengungkapkan telah menyampaikan permasalahan ini. Berharap DPR RI segera dapat merealisasikan bantuan untuk itu.

Selain dengan menambah stasiun dalam mengurangi illegal fishing DKP juga akan segera merubah pola cara menangkap ikan. Nelayan-nelayan nantinya akan diberikan  bantuan alat tangkap. Sebab selama ini dalam hal penangkapan nelayan local kalah bersaing dengan nelayan illegal berasal dari luar negeri.

“Mudah-mudahan dapat sesegera mungkin terealisasi. Jangan sampai kalah saing dengan Thailand yang merupakan negara pertama untuk eksporter ikan, padahal mereka sama sekali tidak mempunyai laut, jadi kedepan  Indonesia sendiri dapat menjadi yang pertama karena kita kaya akan laut dan yang terkandung didalamnya,” tukas dia.