You are here

Menikmati Kapuas

Temaram malam masih menyisakan jejaknya. Gelap dan dingin. Hari itu Minggu (15/3) pukul 05.00 wib, di Taman Alun Kapuas. Letaknya persis di depan Kantor Walikota Pontianak. Pontianak, salah satu kota yang dilimpasi sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas.  

Subuh itu saya harus terjaga. Berdamai dengan rasa kantuk yang mendera. Sudah lama saya tak menikmati subuh hari Kota Pontianak. Ternyata harus kerja keras mengusir rasa kantuk dan dingin merasuk tulang.  Baju hitam lengan panjang lapisi kaos putih dan jeans ternyata tak berpengaruh. Masih saja dingin menusuk pori-pori.

Subuh itu kami tergabung dalam komunitas cinta ae’ Kapuas harus berkumpul dini hari di taman Alun Kapuas. Berencana seharian mengitari Sungai.  Ikon kebanggan warga Kalimantan Barat. Jumlah peserta 50 orang. Dari berbagai latar belakang profesi. Ada Jurnalis, penulis, pelukis, fotografer, filmaker, musik, dan seni rupa. Juga dari berbagai latar belakang etnis. Ada melayu, jawa, sunda, bugis, dan Tionghoa.

Hari sebelumnya, panitia meminta kepada peserta berkumpul pukul 5 pagi. Namun, tidak sedikit yang datang 15 bahkan 30 menit setelah pukul 5. Subuh itu walau jarum jam menunjukkan angka 05.15 masih tetap gelap.  Subuh itu, kabut melingkupi kota. Tetap tak mengurungkan niat warga merayakan hari minggunya. Di lapangan luas yang konon katanya taman itu. Taman Alun Kapuas.

Disekitar tampak aktivitas. Ada yang tengah menyiapkan sound system, bersiap senam, ada yang mengitari taman berlari-lari kecil, ada yang menggunakan sepeda. Tidak sedikit yang hanya duduk-duduk. Di warung atau trotoar menunggu matahari dan mengusir dingin dengan bercengrama.

Sedangkan teman-teman dari komunitas cinte ae’ Kapuas (Kocak) mengenakan seragam. Kaos putih bergambar sungai Kapuas. Memilih berkumpul di bagian barat taman. Tak berkelompok memang. Ada yang berdiri dua tiga orang, ada yang berlima ber enam menikmati secangkir kopi panas di kios. Ada yang hanya bersedekap dada, mementahkan dingin.

Matahari mulai terjaga menampakkan sinarnya. Walaupun masih tampak jauh dan malu-malu. Bersembunyi di balik awan tipis. Kocak dikomandoi Nunung seorang fotografer Borneo Tribune, meminta peserta berkumpul. Mendekat ke sungai Kapuas.

Satu persatu peserta berjalan menuju tepian taman. Ada yang bekelompok tak jarang memilih berjalan berdua atau sendirian. Dengan perlengkapan masing-masing menuju lokasi yang ditentukan. Kesempatan langka itu dimanfaatkan teman fotografer mengabadikan objek sekitar. Sadar akan moment yang tidak akan berulang, rekan-rekan jurnalis wartawan meminta diabadikan.

“Mainkan kameranya Mut,” pinta Leavy seorang wartawan senior Pontianakpost sekarang bekerja di JPPN berdomisili di Jakarta yang kebetulan datang ke Pontianak.

Mutadi yang dimaksud Leavy langsung membidikkan kameranya. Enam orang jurnalis perempuan dari berbagai media, termasuk saya, bergaya bak foto model. Senyum mengembang dari setiap paras nan elok pagi itu.

Sampai di tepian sungai. Panitia membagi peserta dalam empat kelompok. Tiap kelompok isinya 10 orang. Berbeda latar belakang profesi. Jurnalis, Pelukis, Fotografer, Seniman masing-masing satu orang. Masing-masing kelompok akan berada di satu titik. Dikomandani masing-masing Sugeng, Deni Sofian, Bearing, dan Nunung Prasetyo sebagai koordinator kelompok.

Senghie dan Kapuas Besar, titik pertama. Keraton Kadriah, Masjid Jami’ dan Kampung Beting, titik kedua. Pemukiman di Gang Peniti, titik ke tiga, dan pemukiman tepian sungai di Banjar Serasan, titik ke empat.  Itu untuk lokasi hunting pagi.

Masing-masing kelompok mendapatkan dua speedboat menuju lokasi. Satu persatu peserta kelompok naik ke sampan bermesin tersebut. Setiap boat diisi lima sampai enam orang. Tampak keceriaan di balik wajah teman-teman peserta. Ada juga yang menunjukkan raut ketakutan. Karena harus menaiki sampan kecil dan baru pertama kali.

“Baru pertama kali ini naik sampan di sungai Kapuas,” kata peserta perempuan dari Borneo Fotografi.

Sebelum beranjak jauh, masing-masing teman fotografer membidikkan kameranya ke speedboat. Mengambil momen yang tidak akan  berulang kedua kali. Sungai Kapuas memang sungguh elok menjadi objek foto. Tak hanya itu, Kapuas juga berpotensi sebagai objek pariwisata. Sayangnya belum dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah.

Sebut saja Taman Alun Kapuas. Tempat kami berkumpul pagi itu. Taman berkonsep waterfront city menghabiskan dana milyaran rupiah. Namun, Pemerintah Kota belum optimal mengelolanya. Sampah berserakan di mana-mana. Tentu membuat jengah mata memandang. Padahal jika dikelola dengan baik, ini asset berharga.

Menyadari eksotika yang dimiliki Kapuas. Kocak mencoba mengajak seluruh masyarakat sadar akan potensi dimiliki Kapuas. Dengan cara mendokumentasikan Sungai Kapuas dalam bentuk film, foto, tulisan dan lukisan sebagai upaya mengeksplorasi potensi wisata Kapuas.

Sejak lama Sungai Kapuas merupakan urat nadi bagi  warga Kalimantan Barat. Sungai yang terbentang dari Kapus Hulu bermuara di Pontianak ini dijadikan sarana transportasi air hulu-hilir  sebelum ada jalan darat. Kapuas berjaya pada masanya. Sampai sekarang pun Kapuas masih diperlukan bagi masyarakat Kalbar. Walau tidak sevital tahun sebelum tahun 1990an.

Satu persatu boat membawa kelompok masing-masing menuju lokasinya. Saya dan beberapa rekan jurnalis dari media cetak dan televisi rombongan terakhir.  Diketuai Jurnalis Trans 7, Yan Andrea. Kami harus menunggu lama. Wakil Walikota, Paryadi yang dinanti. Sekitar pukul 07.30 wib baru rombongan berangkat. Setelah Paryadi tiba. Menggunakan kapal wisata Serasan. Menuju lokasi pertama pelabuhan Senghi.

Perjalanan menggunakan kapal Serasan baru pertama kali saya lakukan. Karena tak terbiasa, awalnya mabuk. Gelombang Sungai Kapuas pagi ternyata cukup membuat perut terasa mual. Hal yang sama dirasakan rekan jurnalis perempuan lainnya.

Kami memilih berada di bagian depan kapal. Sambil terpekur. Ada pula yang tertidur berlindung dari rasa mabuknya.

Kurang lebih 10 menit kemudian kapal yang ditumpangi tiba di Pelabuhan Senghi. Pelabuhan yang menjadi sandaran kapal menuju daerah-daerah pedalaman Kalbar. Termasuk bersandarnya kapal cepat ke Kabupaten Ketapang. Pagi itu dan saya pikir pagi-pagi sebelumnya juga begitu. Ramai kerumunan orang yang hendak menuju Ketapang.

Rombongan Wakil Walikota, Dinas Pariwisata dan ada juga Oktohari Oesman Sapta tiba di Senghi. Ratusan orang berada di pinggir pelabuhan. Ada yang hanya berdiri, ada pula yang sibuk hilir mudik memasukkan barang ke Ekspress. Seolah tak menghiraukan rombongan pejabat yang hadir di tengah mereka.

Ekspress Mega pagi itu bertugas mengangkut penumpang. Ratusan orang menjejalinya. Pagi itu diperkirakan ada 160an orang. Maklum karena moda transportasi ini terbilang cepat dan murah.

“Satu hari satu kapal. Sebenarnya tiga, karena penumpangnya berkurang jadi kita cross jak dua. Jadi satu hari datang, satu hari berangkat,” kata Kasi Angkutan Perairan Pelabuhan Senghi, Agus.

Rombongan Wakil Walikota mengayunkan langkah menuju utara pelabuhan. Meninjau lokasi bersandarnya kapal sungai. Kapal motor berukuran kecil, melayani rute Sungai Kapuas. Seperti Terentang, Sungai Radak dan Suka Lanting. Membawa masyarakat dari dan ke kota Pontianak.

Di tengah perjalanan saya menjumpai seorang lelaki berusia separoh baya. Duduk di bibir pelabuhan. Berlindung di Perahu Finisi yang bersandar. Dengan asyik dia menggulung benang yang terjuntai ke dasar sungai.

Warga kota baru tersebut memancing ikan di sungai Kapuas. Setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu dia sempatkan ke Senghi untuk memancing. Sekitar pukul enam pagi dia turun dari rumah. Jam delapan atau jam sembilan kembali.

“Asik mancing di sini. Kadang orang jauh-jauh pergi mancing, saye di sini jak,” ujar Rizal.

Rizal mengakui senang memancing di lokasi ini. Dia kadang mendapatkan ikan lima atau enam ekor sehari.

Di sepanjang pelabuhan terdapat beberapa orang yang berlaku sama dengan Rizal. Menghabiskan waktu dengan memancing. Hanya sekadar hobi atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lain Rizal lain lagi dengan Mathurdi. Setiap pukul enam pagi dia datang ke pelabuhan Senghi. Menggunakan sampan bermotor. Dibelinya beberapa tahun lalu. Harga mesinnya saja dibelinya Rp 5-7 juta. Sedangkan harga sampannya Rp 2 Juta.

Sejak tahun 1983 Mathurdi menjadi penambang speed di lokasi ini. Dengan hanya menambang speed dia dapat menyekolahkan tiga anaknya. Paling tua kelas tiga SMP. Dia mengakui setiap hari mendapatkan Rp 30-50 ribu. Digunakan untuk keperluan rumah tangga. Sehari dia bisa mengeluarkan dana sebesar  Rp 30 ribu. Untuk bensin sebanyak lima liter.

Namun, sekarang akunya tidak seramai dulu. Bahkan, sehari sebelumnya dia hanya mendapatkan satu penumpang.

“Sekarang mulai kurang. Kemaren cuma satu kali bawa. Cuma dua ribu rupiah jak,” aku laki-laki yang lahir tahun 1969 ini.

Mat sudah puluhan tahun mangkal di pelabuhan Senghi. Katanya sejak dari terbuat dari kayu. Hingga kini berganti dengan beton. Bahkan dia kenal dengan semua petugas pelabuhan di tempat itu.

“Pak Mardianto perhubungan tuh yang paling tua di sini,” cerita Mat yang tingal di belakang keraton Kadriah.

Dia berharap pemerintah dapat menata kawasan sepanjang sunagi Kapuas. Sehingga banyak lagi orang yang datang. Mengunjungi dan menggunakan jasanya. Sekadar menikmati pemandangan. Berkeliling sepanjang sungai Kapuas. (Bersambung)