You are here

Pemindahan Ibukota Harus Dipikirkan Mendalam

Belakangan santer berkembang wacana pemindahan Ibu Kota Jakarta. Pemindahan didasarkan pada kondisi Jakarta yang dinilai sudah tidak lagi layak. Namun bagi mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso itu tidak akan merubah kondisi Jakarta yang saat ini sangat amburadul.

Demikian dikatakan Sutiyoso saat mengikuti acara “Chat After Lunch” dengan tema urgensi kepindahan ibukota di Atrium FX Sudirman Jakarta. Selasa (10/8).

Menurut Sutiyoso, Indonesia harusnya belajar dari Australia yang memindahkan ibukotanya dari Sydney ke Cambera  yang dimana, awalnya, Cambera itu merupakan daerah yang kosong, dan strukturnya pun itu dilombakan oleh pemerintah Australia selama enam tahun.

“Itu harus dipikirkan secara mendalam, karena pindahnya ibukota ini harus ke tempat yang tepat, dimana disana masih banyak lahan kosong untuk bangunan pemerintahan, kemudian elemen-elemen yang lain yang mendukung seperti tempat pendidikan dan tempat belanja,” kata Sutiyoso.

Dia menambahkan, kalau wacana tersebut bagus untuk digulirkan bahkan untuk dilanjutkan melalui action, tapi lanjut dia, itu harus focus dan mempunyai tim tersendiri, “karena itu harus dipikirkan secara matang, wacana pemindahan ibukota ini kan karena Jakarta macet saja, sehingga kalau pun mau benahi dulu Jakartanya,” tegasnya.

Teguh Juwarno, wakil ketua Komisi II DPR RI mengatakan, pihaknya tetap mendukung pemindahan ibukota Negara ini, sebab, menurutnya, Jakarta  sangat rawan sekali macet, banjir yang selalu terjafdi setiap tahunnya.

“Ada yang menghitung, akibat kemacetan Jakarta dan banjir Jakarta, kerugian setiap tahunnya mencapai 10 Triliun, bukan hanya itu, para investorpun pada lari karena infrastruktur serta kemacetan yang terjadi di jakarta,” ungkapnya.

Dia menjanjikan akan mencoba mendorong wacana ini dengan berbicara dengan anggota DPR yang lain, sehingga wacana pemindahan ibukota ini menjadi usul inisiatif DPR RI yang nantinya bisa menjadi RUU.

“Sejauh ini saya secara pribadi sudah berbicara dengan teman-teman dari Demokrat, PDIP, Golkar dan yang lainnya, dan secara pribadi mereka sepakat dengan wacana ini, sehingga tinggal kita usulkan saja,” jelasnya.

Teguh juga mengatakan, kalau pemindahan ibukota ini bukan saja untuk dirinya sendiri atau pejabat yang lainnya, tetapi untuk generasi yang akan datang. “Ini harus dikonkretkan, jangan hanya menjadi wacana,” ujarnya.

Tata ulang Jakarta Pakar Otonomi Daerah LIPI, Dr. Siti Zuhro, menyebutkan, dirinya lebih sepakat menata ulang Jakarta dan menata ulang otonomi daerah yang selama ini tidak jalan. Karena lanjut Siti, kondisi  Jakarta dan daerah lain tidak akan berubah.

“Karena Otonomi daerah tidak berjalan dengan baik dan tanpa pengawaan pemerintah pusat, dan saya llebih sepakat membenahi dulu Jakarta dan daerah-daerah lainnya, sambil kemudian merumuskan ibukota Negara akan dipindahkan kemana,” jelasnya.