Segala hal mengenai almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selalu menarik untuk dibahas. Banyak buku yang mengisahkan sosok presiden ke-4 RI itu. Salah satunya buku Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur karya Mohammad Sobary.
Segala hal mengenai almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selalu menarik untuk dibahas. Banyak buku yang mengisahkan sosok presiden ke-4 RI itu. Salah satunya buku Jejak Guru Bangsa, Mewarisi Kearifan Gus Dur karya Mohammad Sobary.
Hari ini (17/7), doa dan bedah buku jejak guru bangsa mewarisi kearifan Gusdur akan dibuka oleh Wakil Walikota Pontianak, Paryadi di Aula Rumah Jabatan Wakil Walikota Pontianak jam 08.00 hingga 13.30 WIB.
Menurut Koordinator Pelaksana, Paulus Florus yang juga sebagai Direktur Centre For Research and Inter-Religious Dialogue (CRID) kegiatan merupakan kegiatan bersama CRID, PC Gerakan Pemuda Ansor Kota Pontianak dan PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Kubu Raya.
“Tujuannya terbangunnya saling pengertian sebagaimana yang dilakukan Gus Dur. Ia sebagai tokoh pluralisme, paham demokratis, terbiasa membela kaum lemah dan banyak hal yang bisa dicontoh dari sosok Gus Dur, karena itulah diharapkan nilai-nilai yang dibagun Gus Dur dapat disosialisasikan dan tersebar di Kalbar,” jelasnya.
Menurut Anggota Panitia Pelaksana, Muhammad, Kegiatan ini akan dihadiri para tokoh agama, pejabat, tokoh masyarakat dari multietnis, NGO, jajaran akademisi dan mahasiswa.
Bahkan, penulis buku, Mohammad Sobary hadir sebagai Keynote Speaker bertajuk Catatan Harianya tentang Gus Dur dan selanjutnya buku ini akan dikupas oleh tiga pembedah yaitu XF Asali sebagai tokoh Tionghoa Kalbar, DR. Laurentius Sutadi dari STT Pastor Bonus Pontianak dan Abdul Mukti Rouf, MA dari STAIN Pontianak.
Sinopsis
Buku ini sebagai catatan tentang sosok Gus Dur dari dalam, potret pemikiran dan wawasan, aspirasi dan idealisme, dan segenap wujud pengungkapannya di dalam hidupnya yang tak datar. Hidup penuh ombak dan gelombang, yang telah membuat Gus Dur tampil dalam dua wajah yang sama menariknya. Satu, Gus Dur sebagai remaja “awal”, yang baru tumbuh, yang kecewa oleh kematian ayahnya, yang menjadikannya Gus Dur si “luka hati” yang suka rebellious dan tak peduli menabrak batas-batas yang “wajar”: sebuah “kenakalan” yang justru membuatnya istimewa. Dua Gus Dur Dewasa, yang bijak, pemberani, dan tulus melawan ketidakadilan.
Gus Dur dewasa masih “pemberontak” dan nakal, tetapi bagi para “pemuja”-nya. Itu hanya menegaskan tanda keistimewaanya sebagai “wali”. Mungkin kewalian itu tak penting bila kita hanya ingin menyebutnya pelindung danpembebas dari segenap kebelengguan. Demokrasi terbelenggu. Media terbungkam. Minoritas tertindas. Dia Pembebasnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
