You are here

Menciptakan Ikon Pontianak Kota Seribu Parit

Pontianak sering dibanggakan sebagai kota seribu parit. Kebanggaan itu muncul imbas dari kedudukan Pontianak yang berada di dataran rendah, di delta sungai Kapuas.

Kebanggaan ini sesungguhnya bisa dijual kepada dunia luar. Kebanggaan ini bisa menjadi objek wisata. Tamu jauh bisa datang ke sini untuk melihat keindahan parit dan sekaligus menikmatinya dengan ‘berlayar’ di atasnya.
Kedudukan ini bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan masyarakat. Setidaknya jika Pontianak mau belajar dari Amsterdam – seperti yang pernah dilakukan oleh pejabat pemkot Pontianak beberapa tahun dahulu, kota ini bisa menjual seribu parit itu untuk kepentingan pariwisata.
Ketika ini bisa diwujudkan, maka parit menjadi ikon kota ini. Ikon yang berisi dan bernas. Ikon yang mendatangkan berkah dan kesejahteraan untuk masyarakat.
Namun, kenyataannya, kebanggaan Pontianak sebagai kota seribu parit tidak berisi. Kita bisa tanya dan renungi sendiri: apakah parit memberi berkah untuk warga kota? Berkah seperti apa? Faktanya, selama ini hampir tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh. Parit sekarang ini tidak memberikan nilai jual yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Kosong.
Parit yang kita miliki justru menjadi beban. Parit yang di beberapa tempat bisa dijual, justru di sini memberatkan dan malahan menambah masalah.
Lihat, parit menjadi tempat sampah. Tumpukan sampah menjadi sumber masalah lingkungan. Masalah pertama bau yang mengganggu. Masalah kedua, menyakitkan mata memandangnya. Dan masalah ketiga, mungkin tumpukan sampah itu menjadi medium bagi berbagai sumber penyakit.
Karena tumpukan sampah itu, pemerintah memerlukan biaya khusus untuk mengatasinya. Ada alokasi dana yang harus dikeluarkan pemerintah agar sampah-sampah di parit bisa ditangani. Dan, dana itu mengalir terus karena setiap saat selalu saja ada sampah di parit yang harus dibersihkan, akibat selalu ada warga yang membuang sampah ke dalamnya.
Apa yang dilakukan pemerintah dan apa yang dilakukan warga menunjukkan bahwa perhatian kepada parit sememangnya agak kurang. Keinginan menciptakan parit yang bersih belum ada dalam minda semua pihak. Kita semakin yakin pada dugaan ini ketika melihat sekarang ini perlahan tapi pasti parit semakin mengecil karena ada warga yang memerlukan parit untuk kepentingan mereka. Di sana-sini juga ditancapkan tiang, yang tiang itu menyebabkan parit semakin parah kelihatannya.
Kita berharap situasi ini menjadi perhatian tersendiri dari pejabat dan para pengambil kebijakan Pontianak. Mungkin mereka dapat mendorong bagaimana parit ditata dan dipelihara. Mungkin mereka juga mendampingi masyarakat agar segera sadar untuk memelihara parit-parit yang ada.
Semoga suatu ketika seperti yang kita harapkan, parit bisa menjadi ikon baru kota ini. Semoga potensi alam yang sedia ada diciptakan Tuhan untuk kita, mendatangkan manfaat besar untuk kita semua.

Parit-parit di Kota Pontianak semakin sempit dan payah
Hm… kerjaan siapa tu?