You are here

Tali Layang Jembatan Gantung Tekelak Putus

Akibat tidak pernah diganti dan dilakukan pengecekan rutin. Salah satu tali layang Jembatan Tekelak, Kecamatan Pinoh Utara, Sabtu (26/3) mengalami putus. Penyebab putusnya tali penahan jembatan yang dibangun sejak tahun 1972 itu, dikarenakan kondisi tali yang sudah berkarat atau korosi.

“Karena tali layangnya salah satu ada yang putus, kini kondisi jembatan menjadi agak miring. Sehingga sangat membahayakan bagi masyarakat yang ingin melewatinya,” ungkap Kepala Desa Tekelak, H. Anam Sukmayadi, saat menginformasikan kepada Borneo Tribune, Minggu (27/3).

 Jembatan Tekelak itu sendiri, lanjut pria yang akrab dipanggil Haji Anam ini merupakan jembatan utama yang setiap harinya dilalui oleh masyarakat. Terutama menghubungkan masyarakat menuju Kantor Camat Pinoh Utara dan SMP Negeri 3 Pinoh Utara. Panjang jembatan mencapai 68 meter dengan lebar 1,80 meter.

“Awalnya, saya berencana untuk menutup jembatan tersebut agar masyarakat tidak melewatinya, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu terhadap warga. Karena yang namanya musibah kita tidak tahu, hanya bisa mencegah. Namun di lain sisi pula, jika tidak lewat jembatan itu, akses jalan darat menjadi terputus. Sehingga warga setempat ataupun anak sekolah terpaksa harus lewat sungai menggunakan sampan,” katanya.

Haji Anam meminta kepada pemerintah kabupaten melalui instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk segera mengambil tindakan perbaikan. Karena jembatan tersebut sangat berarti sekali bagi masyarakat disana, dalam beraktifitas sehari-hari.

“Jembatan Tekelak merupakan urat nadi perekonomian masyarakat disini. Seharusnya kalau menurut saya, jembatan gantung Tekelak ini ditingkatkan menjadi jembatan komposit. Mengingat perkembangan daerah di Pinoh Utara yang kian berkembang,” sarannya.

Ketika ditanya apakah ada anggaran perawatan jembatan setiap tahunnya yang diberikan pemerintah, Haji Anam mengaku sering mendengar bahwa setiap tahunnya, jembatan gantung Tekelak mendapat kucuran anggaran perawatan. Namun yang dilakukan perbaikan hanya seperti lantai dan pengecetan. Sedangkan untuk tali laying yang ada pada jembatan tidak pernah sama sekali diganti.

“Sejak dibangun tahun 1972, tali layang jembatan tidak pernah diganti. Jadi, wajar saja jika sekarang tali itu putus. Karena memang sudah termakan usia,” pungkas pria ramah ini.