You are here

Proses Penyadapan Menentukan Hasil Produksi Karet

Selain hidup dari bertani, sebagian besar masyarakat Melawi hidup dari sektor perkebunan. Salah satu contoh ialah berkebun karet. Namun sayangnya, dalam hal permanen karet yang dilakukan petani selama ini tidak mengikuti metode yang benar.

Selain hidup dari bertani, sebagian besar masyarakat Melawi hidup dari sektor perkebunan. Salah satu contoh ialah berkebun karet. Namun sayangnya, dalam hal permanen karet yang dilakukan petani selama ini tidak mengikuti metode yang benar.

Sehingga dapat merusak batang pohon penghasil getah tersebut. Salah penyadapan batang karet ini menajdi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan perkebunan karet rakyat. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Lingkungan Hidup (Hutbun LH) Melawi, Wahidin, saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

“Persoalan yang dihadapi dalam pengembangan perkebunan karet adalah metode pemanen karet yang salah. Masyarakat tidak mengikuti cara yang benar. Padahal PPL kita sudah sering memberikan pemahaman tentang hal tersebut,” ungkapnya.

Pria ramah ini menjelaskan penyadapan yang dilakukan petani diluar kemampuan pohon karet. Dalam artian, karet dipaksa untuk berproduksi yang lebih. Padahal jika metode yang benar dalam penyadapan sangat menentukan sekali hasil produksi karet tersebut. “Bahkan ada yang penyadap karet lebih dari satu kali dalam sehari. Tentu ini akan berdampak pada umur tanaman tersebut,” ujar Wahidin.

Penyadapan yang salah tersebut berdampak jangka panjangnya membuat pohon karet tidak sehat, sehingga karet tidak akan berproduksi secara maksimal pada umur produktif. “Mereka menyadap tanpa perhitungan produksi dalam waktu dalam, penyadap hampir seluruh lingkaran pohon. Jelas ini membuat pohon karet tidak mati atau tidak produktif. Jelas akan merugikan petani sendiri,” ujarnya.