You are here

Potensi Alam Kawasan TNBBBR Rawan Dijarah

Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) yang secara administratif berada di Provinsi Kalbar dan Kalteng, dengan luas hingga 181.090 Ha, menurut salah seorang anggota DPRD Kabupaten Melawi, Malin,  sangat rawan dijarah.

Baik itu seperti kayu, jenis satwa langka, flora dan lainnya. Sehingga perlu adanya upaya preventif yang harus dilakukan pemerintah. Salah satunya ialah dengan melakukan penambahan personil keamanan yaitu Polisi Hutan (Polhut) yang bertugas di Balai Konservasi tersebut serta pembinaan dan pengembangan masyarakat disekitar kawasan taman nasional tersebut.

“Saya dapat informasi, bahwa Polhut yang bertugas menjaga kawasan TNBBBR masih sangat sedikit. Apakah dengan personil segitu, mampu menjaga kawasan yang luas itu. Sehingga sudah seharusnya dilakukan penambahan personil,” Ucap Malin, kepada Borneo Tribune, Kamis (3/10).

Praktisi asal PDI Perjuangan ini khawatir, dengan jumlah personil keamanan yang relatif sedikit untuk menjaga kawasan TNBBBR, membuat potensi untuk merambah hasil hutan oleh pihak-pihak yang tiidak bertanggung jawab didalam kawasan tersebut menjadi terbuka lebar. Tidak menutup kemungkinan, selama ini perambahan hasil hutan di TNBBBR seperi kayu telah terjadi.

“Yang kita khawatirkan lagi, jika ada perusahaan kayu yang sangat berdekatan dengan TNBBBR. Kawasan produksinya ternyata masuk kedalam TNBBBR. Dan itu bisa saja terjadi, jika peta yang dipegang oleh TNBBBR dengan pihak perusahaan ternyata tidak singkron atau tumpang tindih. Sehingga berujung saling klaim,” terang Malin.

Ia meminta kepada pemerintah untuk tidak menyepelekan keberadaan kawasan TNBBBR yang sangat rawan dijarah. Terlebih, kawasan tersebut merupakan kawasan penyangga air hujan yang sangat penting. Lebih lanjut Malin katakan bahwa,potensi yang dimiliki TNBBBR berupa keanekaragaman hayati, panorama keindahan kekayaan alam dan budaya masyarakat, merupakan aset berharga yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata maupun penyedia jasa lingkungan.

“Bisa dibayangkan jika kawasan TNBBBR lambat laun, terjarah secara perlahan. Maka potensi rawan bencana seperti banjir, menjadi tamu yang siap berkunjung kapan saja,” ingatnya.

TNBBBR yang mempunyai ekosistem asli harus dikelola dengan sistem zonasi dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata maupun rekreasi.

“Bukan justru untuk dikomersilkan yang berujung merusak alamnya. Upaya konsevasi sumberdaya alam hayati dan fisik untuk menjaga kelestariannya, harus terus dilakukan. Dengan harapan kekayaan alam yag ada di TNBBBR dapat menjadi warisan bagi generasi yang akan datang,” jelas Malin dengan ramah.

Informasi yang dihimpun koran ini, bahwa dalam pengelolaan TNBBBR total pegawai yang dimiliki kurang lebih sebanyak 66 orang, yang dibagi beberapa fungsional, baik itu Polhut, tenaga penyuluh, Non stuktural dan lain-lainnya.