You are here

Aktifitas Peti dan Tuba, Ancam Habitat Ikan Sungai

Aktifitas Penambangan Emas Tanpa Ijin (Peti) di Kabupaten Melawi masih marak terjadi di beberapa daerah. Baik penambangan yang dilakukan di daratan maupun di sungai. Hal ini mengakibatkan rusaknya lingkungan dan mengancam kesehatan manusia.

Aktifitas Penambangan Emas Tanpa Ijin (Peti) di Kabupaten Melawi masih marak terjadi di beberapa daerah. Baik penambangan yang dilakukan di daratan maupun di sungai. Hal ini mengakibatkan rusaknya lingkungan dan mengancam kesehatan manusia.

Tidak hanya itu saja, habitat ikan sungai juga ikut terancam akibat dari kegiatan Peti tersebut. Parahnya lagi, habitat ikan sungai semakin terancam akibat proses menangkap ikan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara menggunakan racun atau menuba (Tuba, red) untuk memperoleh hasil tangkapan yang banyak.

Hasil pantauan koran ini, di pasar tradisional Kota Nanga Pinoh, Senin (8/3), harga jual ikan sungai, seperti ikan tapah dan ikan semah masih relatif tinggi, yaitu diatas Rp 60.000 per kilogramnya. Meski demikian, daya konsumsi masyarakat terhadap ikan sungai juga terlihat tinggi.

Saat ditemui, Misnah salah seorang pembeli ikan mengatakan, konsumsi ikan sungai menurutnya lebih enak ketimbang mengkonsumsi ikan laut. Dikarenakan, masih segar dan juga menjadi kegemaran. Meskipun harga jualnya cukup tinggi, wanita berjilbab ini mengaku tidak mempersoalkan. Karena saat ini, untuk mendapatkan ikan sungai sudah sangat sulit dan jarang sekali masyarakat ada menjualnya ke pasar.

“Biar mahal yang penting ada, karena sangat jarang sekali masyarakat saat ini menjual ikan sungai, padahal daya konsumsi ikan sungai oleh masyarakat masih tinggi,” ucap Ibu dua anak ini.

Ditempat yang sama, Beni salah seorang penjual ikan sungai, mengatakan saat ini untuk menangkap ikan di Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, sudah sangat sulit. Hal tersebut, dikarenakan populasi ikan sungai yang sudah mulai berkurang setiap tahunnya, akibat dari aktifitas peti dan juga menuba.

“Sudah sulit bang, untuk mendapatkan ikan sungai saat ini, sudah mulai sedikit. Mungkin karena air sungai sudah tercemar Peti dan juga menuba, sehingga populasinya menurun,” ungkap pria berjenggot ini.

Masalah ikan tangkapannya, Beni mengaku didapatkan dengan cara memukat dan memasang perangkap ikan yang dibuat dari bambu (Bubu,red).

“Saya dapatnya pakai pukat dan bubu yang dipasang di sungai, tidak mau pakai tuba racun, takut ikan-ikan kecil juga ikut mati, selain memang tidak baik bagi kesehatan,” bebernya.

Menurut  Wahyudi, salah seorang aktivis lingkungan, akibat  dari aktifitas peti dan juga tuba tersebut,  jelas  akan membuat populasi ikan sungai di Kabupaten Melawi akan mengalami penurunan setiap tahunnya. Karena tidak sedikit ikan-ikan sungai yang masih kecil juga ikut mati akibat dari kegiatan mengancam tersebut yang dilakukan oleh manusia.

“Belum besar ikan-ikan tersebut, saat tercemar Peti dan juga aksi menuba yang dilakukan oleh masyarakat tentu akan ikut mati, jika begitu terus maka bukan hal yang mustahil populasi ikan sungai akan habis, secara perlahan namun pasti,” pungkas salah satu pentolan Ciwanadri ini.