You are here

Sidang Tahunan Gereja PPIK Ditunda

Sidang tahunan Gereja Persekutuan Pemberitan Injil Krtistus (GPPIK) Se-Kalimantan Barat yang semula direncanakan pada tanggal 26 Oktober ini ditunda. Penundaan Sidang Tahunan GPPIK antara lain persiapan panitia selain itu beberapa pengurus GPPIK yang berkepentingan dan masih berada di luar daerah.

Sehingga Sidang Tahunan disepakati dan ditetapkan menjadi tanggal 9-10 Nopember bulan depan bertempat di GPPIK Timotius Ngabang Kacamatan Ngabang Kabupaten Landak. Sebagai Ketua Pelaksana Akonardi,SE dan Sekretaris Silas Akian,SE ditambah dengan seksi-seksi.

Demikian dikatakan pengurus BPP Ketua III Bidang Pengembangan Ekonomi Gereja GPPIK Kalimantan Barat Pdt.Aswin.B.Sadji,M.Th kepada wartawan ditemui di Pastory GPPIK Timotius Ngabang Minggu (23/10).

Surat undang telah diedarkan kepada seluruh gereja PPIK termasuk Pos PI berjumlah 154 gereja sejak tanggal 20 September lalu supaya mempersiapkan utusan dari masing-masing gereja dengan tidak dibatasi sesuai kemampuan gereja masing-masing.

Karena selain mengikuti sidang tahunan juga akan diadakan “Workshop” Badan Pimpinan Jemaat (BPJ). Maka yang akan hadir antara lain Pengurus Badan Pimpinan Pusat (BPP) Gereja PPIK Kalimantan Barat,Badan Pimpinan Daerah (BPD) dan Badan Pimpinan Jemaat (BPJ) yang diperkirakan 350 orang atau lebih.

Ditanya apa saja yang akan dibicarakan dalam sidang tahunan, sesuai masukan dari hasil rapat pengurus  Lembaga Pengembangan Pegawai dan Wiraswasta (LP2W) GPPIK beberapa waktu lalu ada beberapa Indikator antara lain: Banyak jemaat yang tidak punya gembala, kurangnya kader (Pendeta) untuk ketua synode, adanya gembala/pendeta yang pindah organisasi, adanya jemaat yang pindah atau diambil oleh organisasi lain, kondisi 5 tahun terakhir cenderung stagnasi, pengerja dan anggota tidak militan.

Salah satu faktor penyebab (internal) kurangnya pengkaderan (penyiapan SDM Pengerja), rendahnya penghargaan terhadap Pendeta/Gembala, rendahnya gaji Gembala, lunturnya komitmen Pendeta/Gembala, gembala belum diberi kapasitas yang penuh, manajemen organisasi kurang berfungsi.

Kurangnya penyiapan SDM Pengerja Gereja, kurangnya sosialisasi/kampanye untuk menjadi pengerja, tidak ada program (bea siswa), tidak ada upaya kerja sama dengan sponsorship, STT Berea tidak dioptimalkan, persekutuan pemuda belum dijadikan sebagai wadah pengkaderan, Sekolah Minggu kurang dioptimalkan (seadanya saja), kurangnya pembinaan yang intensif antara lain hanya berupa kursus singkat, dll (Kegiatan hanya rutinitas berupa ibadah hari Minggu).

Rendahnya penghargaan terhadap Pengerja Gereja dipandang perlu peningkatan pengasilan Gembala.

Tidak ada rasa kepastian (jaminan) yang diberikan kepada pengerja Gereja, pengerja Gereja belum dijadikan sebagai seorang tokoh yang berwibawa (berkarisma), anggota jemaat belum mengabdi kepada pengerja Gereja (Imam).

Rendahnya gaji pengerja gereja juga akan dibahas berkaitan dengan pemahaman jemaat terhadap pemberian /persembahan masih rendah, tentu berkaitan juga dengan rendahnya disiplin jemaat membayar iuran, persembahan, persepuluhan, kekeliruan manajemen organisasi dalam menata keuangan Gereja, juga berhubungan erat dengan rendahnya penghasilan anggota jemaat, penjelasan ajaran keselamatan tuntas (Keselamatan sebagai anugerah,bukan usaha manusia sehingga dianggap tidak perlu melakukan perbuatan baik/amal.

Sehingga berdampak lunturnya komitmen pengerja gereja, ditambah lagi Gembala belum diberi kapasitas yangb penuh; karena menganggap gembala bukan ketua Jemaat.  

Gembala bukan sebagai Ketua Jemaat atau Badan Pimpinan Jemaat (BPJ): Karena

Gembala adalah jabatan profesi yang dipegang oleh orang yang memiliki kualifikasi dan kompetensi di bidangnya, akibatnya Gembala tidak memiliki otoritas penuh, Gembala hanya bertugas sebagai pengkotbah (“Tukang Khotbah”), jemaat dipimpin oleh salah satu anggota dalam struktur BPJ yang tidak memiliki kualifikasi dan kompetensi (bisa bersifat sementara dan administratif).

“Selama ini manajemen organisasi masih  dinilai kurang berfungsi,” papar Pdt.Aswin.(Amat Dasa/Freelancer)