Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Jelimpo Kabupaten Landak Kalimantan Barat, adalah BPP yang bisa memanfaatkan lahan di sekitar kantor mereka. Tidak heran hamparan lahan seluas kurang lebih 2 Ha bisa ditanami berbagai macam tanaman seperti jagung, kacang panjang, cabe, pepaya, labu dan budidaya ikan lele.
Mungkin di Indonesia tidak banyak yang bisa melakukan hal semacam ini, setidaknya untuk membangun satu yang baik ini dan bisa dicontoh masyarakat. Hambatan pertama adalah pendanaan. Kata pendanaan adalah hal yang vital bagi yang ingin membangun satu usaha. Lalau siapa penggerak usaha ini tidak lain Kepala BPP Jelimpo Sumardiono, S.PKP. Bersama 13 tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bisa mewujudkan lahan tidur itu menjadi lahan yang bisa bermanfaat.
Sumardiono mengatakan umur BPP Jelimpo hingga bulan Oktober 2011 belum genap 2 tahun, tapi sudah bisa memberikan atau mencontohkan apa yang harus dilakukan seseorang PPL untuk masyarakat. “Saya melihat lahan kami ada sekitar 2 ha, mengapa saya tidak coba untuk memanfaatkannya agar lahan yang ada kita manfaatkan untuk bercocok tanam,” kata mantan PPL Dara Itam ini.
Niat baik ayah tiga anak ini, ternyata disambut baik 13 PPL dan ditambah 1 tenaga kebun, dimana lahan yang sebelumnya kosong dan hanya ditanamipadi bisa disulap menjadi lahan untuk bercocok tanam dan membuat kolam. “Sawah yang tidak jauh dari kantor BPP, kami buat beberapa buah kolam ikan. Kolam pertama berukuran 8 x 20, kolam kedua 6 x 23, dan kolam ketiga 20 x 26,” kata alumni Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) Bogor Jawa Barat ini.
Khusus kolam ketiga, sistemnya berbeda dinamakan Mina Padi. Ini artinya, di tengahnya kolam ada tanaman padi. Adapun tujuan dari Mina padi ini, yaitu mendukung peningkatan produksivitas lahan, meningkatan pendapatan petani, dan meningkatkan kualitas makanan bagi penduduk pedesaan.
Sedangkan kolam pertama sudah diisi ikan lele, serta kolam kedua akan diisi 2000 bibit lele. “Sistem air kami gunakan tadah hujan. Bila hujan datang air akan masuk ke kolam. Jika kemarau panjang misalkan 3 bulan kami tidak khawatir karena persediaan air tetap ada,” jelasnya.
Khusus untuk tanaman jagung dan kacang panjang, dimanfaatkan pupuk organik yang ada di kantor BPP. Memang pengolahan pertama, hasil tanaman kurang baik. Masuk pengolahan kedua hasil tanaman lumayan baik, dan pengolahan ketiga tanaman sudah baik, seperti memakai pupuk kandang. “Saya yakin jika kami tidak memanfaatkan pupuk organik itu maka lahan tersebut tidak sebaik sekarang,” beber Sumardiono.
Bagaimana dengan pendanaan? Pendanaan dilibatkan semua 13 tenaga PPL, setiap PPL memberikan uang Rp. 200 ribu, uang ini dimanfaatkan untuk membeli bibit tanaman, bibit ikan, obat-obatan tananam, upah membuat kolam dan lain-lain.
Jauh Dari Harapan
Meskipun hasil percontohan ini sudah baik, namun, nilai jual masih jauh dari harapan. Menurut Mislan (49) tenaga kerja kebun BPP Kecamatan Jelimpo, hasil produksi tanaman kacang panjang mereka hanya dihargai Rp. 4000/kg. Sementara pedagang sayur mayur melempar ke pembeli berkisar antara Rp. 10.000-12.000/kg. “Inikan namanya tidak adil, mbok ya, dihargai setidaknya Rp. 7000-8000/kg,” pintanya.
Lalu bagaimana dengan tanaman jagung? Jagung yang ditanam adalah jagung hibrida,, dijual saat muda, tidak dijual tua, hitunganya rugi. Dimana dengan harga per buah, jika buah kelas A bisa Rp. 1000, buah kelas B atau C Rp. 500-700. ”Tergantung besar atau kecil buah jagung. Dan kebanyakan pembeli datang ke sini,” kata Mislan .
Untuk hasil panen jagung, lanjut dia, sudah dipanen ketiga kali dan akan masuk pada bulan Oktober 2011, panen yang ke empat.
Dalam urusan pengolahan tanah, tambah Mislan, dimana ia menggarap lahan yang sangat luas, agak kesulitan. Ia berharap baik dari Dinas Pertanian atau Badan Penyuluhan memberikan bantuan sebuah alat hand traktor, sehingga ke depan mengolah tanah akan mudah. “Memang dulu ada bantuan dari Badan Penyuluhan untuk membuat parit, terus memberi cangkul. Tapi sekarang tidak pernah ada lagi,” katanya.
Pentingnya ada alat moderenisasi seperti hand traktor, tambah Mislan, setidaknya sebagai memberikan contoh kepada masyarakat, bahwa lahan yang kosong bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Bila ditekuni dan kita punya lahan yang luas, maka akan bisa mendatangkan produksi yang banyak, dan tentunya bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. (Amat Dasa/Freelancer)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
