Pasca terbitnya berita tarif pasang baru dari PLN untuk masyarakat Desa Dabong, Kecamatan Kubu beberapa waktu lalu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) KKR, Bahtiar, dipukul oleh dua orang pria, Jum’at (5/2) pukul 10.00 kemarin.
Pasca terbitnya berita tarif pasang baru dari PLN untuk masyarakat Desa Dabong, Kecamatan Kubu beberapa waktu lalu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) KKR, Bahtiar, dipukul oleh dua orang pria, Jum’at (5/2) pukul 10.00 kemarin.
Terhadap penganiayaan pada dirinya, Bahtiar yang membeberkan pemberitahuan ini via telepon mengaku sudah mengadu ke Mapolsek Sungai Raya. “Pelaku mempermasalahkan kenapa berita pasang tarif tersebut dimasukkan di berbagai media massa,” ujar Bahtiar, yang mengaku baru saja melapor ke Mapolsek.
Sebelumnya, Bachtiar ditelpon untuk bertemu dan mereka janjian bertemu di warung kopi dekat Randayan. Semenjak awal, Bahtiar merasa bahwa janji pertemuan di warung kopi, di sebelah Randayan tersebut, sudah ada firasat tidak enak. Hanya saja rasa tersebut tak dihiraukannya karena dia hanya merasa membela kepentingan masyarakat Desa Dabong juga.
Setelah sempat berbincang-bincang, Bachtiar yang sedang meminum segelas kopi langsung dipukul oleh pria tersebut dengan tangan sehingga wajahnya memar. Korban pun sempat kaget dan berusaha menghindar pukulan lagi. Setelah dua pria tadi langsung langsung pergi. Tak berapa lama datang seorang teman korban yang mengenali
Sebelumnya berbagai media massa memberitakan bahwa keinginan masyarakat desa Dabong, Kecamatan Kubu untuk merasakan nikmatnya aliran listrik menjadi terkendala. Pasalnya tarif pasang baru yang diminta PLN terbilang sulit untuk dijangkau masyarakat kecil.
Dimana saat itu, masyarakat Dabong diminta untuk menyetor Rp3.5 juta untuk biaya sambung saja. Jelas saja jumlah tersebut sulit dipenuhi ole masyarakat Dabong yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.
Akibatnya kerinduan masyarakat untuk merasakan aliran listrikmenjadi tertunda. Padahal setelah 64 tahun merdeka, desa Dabong tetap saja belum bisa menikmati aliran listrik.
Saat itu, Bahtiar mengaku masyarakat Dabong juga tidak meminta gratis. Namun terlepas dari itu, tarif yang wajar setidaknya bisa menjadi opsi. “Ya, paling tidak tarif yang ditentukan bisa disanggupi oleh masyarakat lah,” harap Bahtiar saat itu.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
