Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kubu Raya menilai, jika anjloknya harga kopra yang ada di Kubu Raya dikarenakan, krisis keuangan global di Eropa, penurunan harga minyak dunia serta fluktuasi (penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar).
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kubu Raya, Syamsurizal mengatakan kopra yang di ekspor untuk dijadikan biodiesel tersebut anjlok karena faktor dari luar negeri. Karena penurunan tersebut merupakan proses global. “Itu merupakan suatu proses global, jadi semua produk yang berkaitan dengan hal tersebut akan terkena dampaknya,” kata Syamsurizal.
Syamsurizal menuturkan, anjloknya harga kopra di pasaran dikarenakan pasar global, pemerintah tidak dapat berbuat banyak. Dirinya mengharapkan jika permasalahan yang terjadi di Eropa dapat segera stabil, agar harga kopra mau pun kebutuhan lainnya yang sempat mengalami penurunan dapat kembali stabil.
“Pemerintah tidak dapat berbuat banyak, kami hanya berharap agar permasalah yang terjadi dapat segera selesai agar petani kopra tidak terus mengalami kerugian yang besar,” ucap Syamsurizal.
Jika saat ini petani mengeluh karena harga kopra yang anjlok, Syamsurizal menilai itu suatu hal yang wajar. Karena kopra merupakan salah satu kebutuhan petani dalam mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
“Keluhan petani kopra itu masih terbilang wajar, karena dari situ kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi. Jika harga kopra anjlok, maka kebutuhan hidup mereka menjadi terbengkalai,” tutur Syamsurizal.
Sementara itu salah seorang petani kopra yang berada di Kecamatan Sungai Kakap, Herianto mengatakan jika harga kopra saat ini anjlok dengan kisaran harga mulai dari Rp 8000 per kilogram menjadi Rp 2.600 per kilogram.
“Kami tidak tahu apa penyebabnya sampai harga kopra dapat turun drastis seperti itu. Kami berharap harga kopra tersebut dapat segera kembali normal. Agar kami tidak semakin merugi. Saat ini para petani harus menabung agar segala kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi,” ungkap Herianto.
Heri menjelaskan jika para petani tetap berupaya agar harga kopra dapat kembali normal. Dirinya dan petani lainnya tetap menjual kopra miliknya meskipun harganya rendah. “Karena terbentur beban ekonomi, jadi kami harus menjual kopra untuk bertahan hidup, meskipun harganya tidak sebanding dan kami tetap merugi,” jelas Herianto.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
