
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada 10 November 1945 silam, di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
Pertempuran ini merupakan perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar serta terberat dalam sejarah revolusi nasional yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme di ‘Bumi Pertiwi’.
Namun, ketika berbicara tentang sejarah perjuangan yang dilakukan masyarakat Kalbar dalam mengusir kolonialisme di seantero ‘Bumi Borneo Barat’, ternyata tidak sedikit dari kaum muda Kalbar yang kala itu terpanggil jiwanya untuk ikut mengangkat senjata guna mengusir penjajah. Mulai dari zaman kolonialisme Jepang hingga Belanda.
Sebut saja Sultan Hamid II, Rahadi Oesman, Mayor TNI (Purn) Mohammad Ali Anyang serta masih banyak lagi para pejuang lainnya yang gugur sebagai kesuma bangsa dalam mempertahankan tanah air tercinta.
Namun ironisnya, sampai hari ini Provinsi Kalbar hanya memiliki satu orang pejuang saja yang diakui sebagai pahlawan nasional. Pahlawan nasional itu adalah Abdul Kadir yang bergelar sebagai Raden Tumenggung Setia Pahlawan dari Kerajaan Sintang.
Abdul Kadir yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Melawi (bagian dari kerajaan Sintang) pada 1845 silam itu dikenal gigih melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Sehingga dirinya dinobatkan sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 114/TK/tahun 1999.
Sementara para pejuang Kalbar yang meraih tanda kehormatan berupa Satya Lencana Perintis Kemerdekaan jumlah cukup banyak.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial Provinsi Kalbar, ada 13 pejuang asal Kalbar yang memperoleh tanda kehormatan berupa Satya Lencana Perintis Kemerdekaan. Para pejuang itu adalah Sabran, Gusti Sulung Lelanang, Muhammad Sohor, Djaranding Abdurrahman, Gusti Situt Mahmud, Ahmad Marzuki, Ahmad Sood, H Rais Abdurrahman, Gusti Hamzah, Mohammad Hambal, Gusti Johan Idrus, Apang Semangai dan Pangsuma.
Entah apa yang menjadi parameter Pemerintah Pusat dalam memberikan gelar pahlawan nasional bagi para pejuang asal Kalbar sehingga sampai hari ini Kalbar hanya mempunyai satu pahlawan nasional.
Padahal, salah satu diantara putra-putri terbaik Kalbar yang berjuang melawan penjajah dengan mengorbankan segenap jiwa dan raga serta tumpah darah mereka demi kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah, yakni Sultan Hamid II yang merupakan seorang perancang lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlambang burung garuda. Sejatinya juga harus dianugerahi sebagai pahlawan nasional. Serta para pejuang asal Kalbar yang lainnya. Mereka semua pantas dianugerahi sebagai pahlawan nasional.
Tetapi sudahlah. Apapun yang telah terjadi dan yang akan terjadi kelak, sejatinya para pahlawan terbaik bangsa itu tidak pernah dan tidak akan pernah mengharapkan pamrih sedikit pun atas apa yang telah mereka korbankan demi bangsa dan Negara, termasuk mengharapkan ganjaran sebagai pahlawan nasional.
Namun demikian, semangat kejuangan serta ketulusan mereka dalam berkorban demi lahirnya NKRI akan senantiasa mengiringi setiap gerak dan langkah para generasi penerus bangsa dalam melaksanakan serta memegang tongkat estafet kepemimpinan di republik ini.
Selamat Hari Pahlawan para pejuang. Niscaya apa yang telah engkau korbankan demi lahirnya kemerdekaan serta terbentuknya NKRI tentu akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Esa. Meskipun perjuangan yang kalian lakukan belum atau tidak sama sekali dianugerahi sebagai pahlawan nasional. Merdeka.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
