You are here

Mega Naga

Jangan salah duga dengan dua kata ini: mega naga! Ini dua kata Bugis yang kerap digunakan Tok Ambo untuk menyatakan, “Banyak Sekali”. Jadi, mega berarti banyak, besar, megah. Naga berarti sekali yang sesungguhnhya perpaduan antara dua akhiran na dan ga sehingga menjadi naga. Oleh karena itu dalam bahasa Bugis naga bukan kata dasar asli.

“Mega naga…” ungkap Tok Ambo sambil geleng-geleng kepala melihat buku terhampar di perpustakaan sehingga menurutnya aneh jika generasi muda sekarang berkualitas lembek dan bodoh. Betapa tidak karena ilmu pengetahuan tersebar demikian cepat lewat buku. Buku adalah gudang ilmu.

Tok Ambo yang hobi jalan-jalan melihat penyakit anak muda adalah malas baca. Tidak hanya anak muda, orang tua juga malas baca. Bagi mereka yang hobi membaca sedikit banyak ada ilmu yang terserap di akal pikirannya sehingga membentuk pola pikirnya.

Bacaan positif seperti bagaimana beternak akan membentuk keinginan dan kemahiran dalam beternak. Dari mulai yang kecil-kecil akhirnya menjadi besar. Dari sedikit menjadi banyak. Dari miskin menjadi kaya.

Tok Ambo menimang-nimang buku. Di kepalanya menimang-nimang pikiran yang berperang antara keanehan kenapa manusia memiliki kesadaran yang rendah terhadap ilmu yang telah dituangkan ke dalam buku. “Hanya orang-orang sukses yang bergaul dengan buku,” wejangnya.

Membaca merupakan satu dunia tersendiri yang mengasyikkan. Untuk itu membaca butuh ruang dan waktu. Di sini letaknya masalah itu terjadi. Kebanyakan orang malas membaca karena tidak ingin masuk ke dalam dunia yang waktunya tercuri. Manusia tipe ini lebih suka bicara, gosip, berbual-bual. Budaya pelisanan dijunjung tinggi, sedangkan budaya baca disekap dalam-dalam. Menurut Tok Ambo, sejak dulu sampai sekarang kondisi itu belum berubah signifikan di Indonesia walaupun sudah banyak yang makan bangku sekolah.

Entah mengapa gejala ini menjadi seperti penyakit akut? Padahal sudah berbuih-buih mulut guru menjelaskan bahwa membaca adalah kunci keberhasilan. Membaca adalah kunci memasuki gudang ilmu. Ilmu adalah jendela dunia. Di mana orang yang hobi membaca, banyak pengetahuannya, banyak kunci-kunci suksesnya. Menjadi orang yang kreatif.

Tok Ambo melihat kecenderungan anak-anak zaman sekarang yang tumbuh dalam budaya ngerumpi dan pelisanan adalah menonton. Untuk itu Tok Ambo jalan-jalan ke lokasi lain yang memajang film-film. “Alamak mega naga…” ujarnya geleng-geleng kepala. Tok Ambo menyaksikan kepingan-kepingan film yang berjumlah ratusan, ribuan, bahkan jutaan. Film bukan barang asing.

Dalam kesadaran diri Tok Ambo bahwa film itu adalah karya kreatif. Jika film-film itu ditonton dengan benar, positif, juga akan membentuk pola pikir yang positif. Contohnya heroisme akan melahirkan pendidikan kejuangan. Membela kebenaran dan membasmi kebatilan.

Tok Ambo juga membolak-balik film yang tersaji lewat kepingan dan gambar-gambar di atasnya. Nilainya macam-macam. Persis seperti buku-buku di mana judul, gambar dan isinya juga bermacam-macam. “Mega naga…” Tok Ambo terkesima.

Saking banyaknya produksi dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, Tok Ambo jatuh-jatuhnya kuatir anak-anak dan remaja salah pilih…Banyak yang memilih negatif dan erotik sehingga tertipu nafsu. Nafsu terbakar sangat singkat, sisanya arang dan debu. Ketika terbakar, akal ditinggal sehingga gagal. Hidup bahagia dan sukses digadaikan sebagai asap akibat salah pilih.

Tok Ambo manggut-manggut dengan kalimat, “Jangan salah pilih dalam melangkah menjalani hidup dan kehidupan ini.” Ujung dari langkah baik akan berakhir dengan baik. Di sini rahasia khusnul khatimah.