You are here

“Labek Ni” Hery Hanwari dan Hadari

Satu-satu…Bunga-bunga berguguran. Tak kenal tangis. Tak kenal tawa. Redalah, reda. Begitu salah satu lirik lagu Iwan Fals yang digandrungi Tok Ambo. Tok Ambo memang generasi AKG (Angkatan Kakek Gue) tapi soal kekinian Beliau tetap setia mengikuti perkembangan. Tak terkecuali si megabintang Iwan Fals.

Satu-satu…Bunga-bunga berguguran. Tak kenal tangis. Tak kenal tawa. Redalah, reda. Begitu salah satu lirik lagu Iwan Fals yang digandrungi Tok Ambo. Tok Ambo memang generasi AKG (Angkatan Kakek Gue) tapi soal kekinian Beliau tetap setia mengikuti perkembangan. Tak terkecuali si megabintang Iwan Fals.

Tok Ambo tak sekedar gandrung pada figur Iwan Fals sebagai sosok anak manusia yang berhasil keluar dari kotak jati dirinya. Yakni dari seorang pengamen yang kemudian mencuat sebagai penyanyi tenar. Lebih daripada itu, yang digandrungi Tok Ambo adalah bait-bait kritis dan filosofis yang dihantarkan Iwan Fals kepada pendengarnya. Salah satunya adalah satu-satu…bunga-bunga berguguran. Tak kenal tangis. Tak kenal tawa. Redalah, reda.

Lirik lagu ini dinilai Tok Ambo universal. Universal berarti sesuatu yang berlaku umum di berbagai tempat, situasi dan kondisi.

Nah, pada suatu hari Tok Ambo tidak seceria biasanya. Jika biasanya cerah ceria, kali ini tampak sedih. Beliau seperti kurang darah serta tak bergairah.

“Magi Mbo? Engka mepeddik ga?” tanya saya dalam Bahasa Bugis yang artinya ada apa Ambo? Ada yang sakitkah?

Tok Ambo mengangkat muka sambil menjawab, “Labek ni.” Labek ni berarti lewat sudah. Yang labek—baca e seperti enggang—adalah warga Sungai Raya Dalam yang menderita sakit. Dan setelah mendengar alasan tersebut barulah saya tahu kalau Tok Ambo hari ini sedang berdukacita atas wafat atau meninggalnya rekan sesama sejawatnya masih kecil.

Tok Ambo mengingatkan bahwa kematian harus disambut dengan Inaalilaahi wainnaa ilaihi raji’un. Bahasa Alquran yang berarti segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan akan kembali semuanya juga kepada Tuhan.

Saya kena semprot karena tak reflek menjawab dengan letter luck Innaalillahi. Saya justru menimpali dengan mengangguk-angguk. Tapi semprotan Tok Ambo saya camkan dalam hati karena nasihat Tok Ambo selalu baik, dan yang baik pantaslah untuk diikuti. Toh kalimat Innaalillaahi wainnaa ilaihi raji’un juga bernilai universal, berlaku umum di mana-mana. Bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, melainkan sementara. Nilai universalitas Innaalillahi jauh lebih universal ketimbang lirik lagi Iwan Fals di atas.

Kesedihan Tok Ambo bisa saya duga karena kampung halaman kami Sungai Raya Dalam unik. Sungai Raya Dalam berbeda dengan daerah-daerah lainnya di Kota Pontianak soal kematian.

Di Sungai Raya Dalam dalam pemantauan saya, jika ada satu orang “labek” seringkali berjurut-jurut. Jumlahnya tak kepalang tanggung bisa 7-12 orang. Dan kondisi itu sudah terjadi sejak zaman saya masih kecil hingga sekarang.

Kemarin saya berkunjung ke rumah paman. Paman mengatakan Wak Nusi labek ni. Beberapa hari sebelumnya ada tujuh warga yang juga sudah lewat. Maka jika SMS masuk subuh, saya jadi kuatir. Kini entah siapa lagi yang labek? Apalagi jika telepon berderang-dering—maaf sekarang ring tone yang kelentang-kelenting bernyanyi di tengah malam buta—saya cepat kaget. Maklum sepuh-sepuh sudah banyak yang labek, sudah barang tentu sepuh-sepuh berikutnya akan segera menyusul.

Kekuatiran saya tentu juga dirasakan oleh orang-orang lainnya. Karena setiap orang punya ikatan lahir dan batin, sehingga terasa berat jika harus berpisah dengan apa-apa yang dicintai.

Setakat ini sejumlah tokoh juga labek ni. Lokasinya tak jauh dari Sungai Raya Dalam. Pertama, Ketua PWI Drs H Hery Hanwari yang menghembuskan napas terakhirnya di Gang Pandu Jalan Imam Bonjol depan Islamiyah. Kedua, Ketua Majelis Sinergi Kalam, mantan anggota DPRD Kalbar Drs H Hadari H Majrie di Parit Haji Husin II.

Daun-daun dan bunga-bunga berguguran. Seperti lirik lagu Iwan Fals, semoga tunas-tunas muda, bersemi.

Hery Hanwari dan Hadari Majrie keduanya adalah tokoh pada bidangnya masing-masing. Tak mudah mendapatkan calon pengganti manusia-manusia telaten seperti mereka. Hery Hanwari adalah akademisi cum jurnalis. Hadari adalah dai, qori sekaligus politisi. Hanya tengadah kedua tangan berharap  Kalbar mendapatkan generasi pengganti kedua orang ini. Semoga tunas-tunas muda bersemi.