You are here

“Butul Tegule’-gule’”

Seperti apa bahasa Melayu Pontianak tempo doeloe, tak banyak orang yang dapat mengingatnya. Maklum, bentuk lama itu sudah lama tidak digunakan. Maklum juga, tidak ada lagi orang yang menggunakannya atau mungkin malah tidak ada lagi yang menggunakannya. Dan, lebih-lebih maklum, karena tidak ada dokumentasi mengenai bentuk itu.

Saya merasa sangat beruntung ketika bersama rombongan ekspedisi Pinggiran Kapuas yang dilaksanakan Club Menulis STAIN Pontianak pekan lalu bertemu dengan beberapa warga yang memberikan informasi soal bentuk bahasa Melayu Pontianak.
“Itu, di sana tu bahasa mereka agak lain. Misalnya mereka sebut butul tegule’-gule’,” kata seorang warga. Dia menyebut nama tempat itu.
“Waktu saye keci’-keci’, saye dengar… gitu’lah”.
Informan itu mengingat bentuk tersebut karena dahulu sering mendengar orang-orang tua dari salah satu kampung di pinggir Kapuas menuturkan demikian.
“Pokoknya gitu’-gitu’lah bentuknye”.
Iya, saya dapat menangkap apa yang mereka maksudkan. Dalam pelajaran saya ini disebut perbedaan bunyi. Orang yang  mendalami fonologi (ilmu tentang bunyi bahasa) akan sangat sensitif pada bentuk-bentuk seperti ini.
Secara teoritis, sekecil apapun, jika orang ingin memilih bentuk bunyi itu sebagai ciri, maka bentuk itu bisa menjadi pembeda. Dalam masyarakat yang saya amati, perbedaan bentuk [o] dan [u] dalam kata yang ‘sama’ menjadi pembeda yang cukup ketara.
Keadaan seperti ini memang sering terjadi. Misalnya orang dengan mudah membedakan bunyi [e] pada posisi akhir untuk kesejajaran dengan bunyi [a]; misalnya pada kata [saya] dan [saye]; [apa] dan [ape], dan seterusnya. Orang yang mendengar orang menyebutkan [saye; ape] langsung menebak penutur itu menggunakan bahasa Melayu Pontianak.
 “Apakah sekarang bentuk itu masih ada?”
Informan itu saling pandang. Saya perlu menanyakan hal ini karena ingin memastikan seperti apa bentuk sebenarnya. Apakah bentuk itu nyata? Apakah informasi itu muncul bukan karena ada kesan negatif terhadap penutur lain?
Saya ingat, pernah juga mendapat informasi serupa dengan contoh yang sama. Namun, ketika saya tanya kepada warga di tempat yang disebutkan itu, ternyata warga di tempat itu juga tidak mengakui bentuk “butul tegule’-gule’” sebagai ciri bunyi mereka.
“Mane ade kame’ gitu”.
“Orang sana’ kali’”.
Pengalaman ini membuat saya mengejar informan dengan pertanyaan lagi. Syukur-syukur saya bisa bertemu dengan orang yang bertutur seperti itu.
“Entah ya. Masih nda’ ye?”
Mereka ragu.
Saya maklum. Mereka berkata benar. Mungkin bentuk seperti itu pernah muncul dan digunakan sekelompok penutur. Zaman yang berubah telah menyebabkan bentuk bahasa berubah.
Atau, mungkin bentuk ini pernah muncul, tetapi muncul sebagai bentuk olok-olok antar penutur. Maklum, bahasa sering kali juga menjadi bahan bersenda gurau.