You are here

Aku Rindu ‘Suara Kecil’ Itu

Mama lihatlah kodok melompat

Mama kemari, dia sembunyi

Mama lihatlah dia melotot

Mulutnya lebar bunyi kok kok kok

Yoana...

Ya Mama..

Kodoknya eh lucu sekali

Kemari, biarkan si kodok

Melotot sendiri


Mama kodoknya lucu sekali

Perutnya buncit gendut sekali

Mama tolong Ma tangkapkan dia

Yoan takut Ma... lihat matanya


Yoana, dengarkan

Tak usah kita menangkapnya

Biarkan si kodok

Bebas melompat dan bermain


Masih ingat dengan lagu ini? Yang pernah dinyanyikan oleh Joan Tanamal pada tahun 1980-an? Ia adalah penyanyi cilik, demikianlah, lagu yang didendangkannya. Aku masih ingat, lagu berjudul Si Kodok ini dilantunkan ketika aku berumur 4 tahun. Namun aku masih ingat dengan lirik aslinya. Demikian pula dengan Adi Bing Slamet dengan lagunya ‘Eh Copot-copot, Chica Koeswoyo dengan lagunya ‘Helly’, Ira Maya Sopha dengan ‘Sepatu Kaca’, dan deretan penyanyi-penyanyi cilik lainnya hingga akhir tahun 1990-an. Kini namanya hanya sekadar sejarah karena mereka-mereka telah beranjak dewasa. Namun diakhir ‘masa’ tersebut, justru pengganti nama mereka kini telah ‘usai’. Sederet penyanyi anak-anak yang menamakan dirinya penyanyi cilik, malah tidak pernah melantunkan alunan nada yang pantas untuk mereka.

Terdengar miris, ketika penyanyi cilik saat ini hanya mampu menyanyikan lagu-lagu percintaan yang seharusnya didendangkan oleh tante, om atau ayah dan ibunya. Meski tidak tahu arti sebenarnya lirik yang telah mereka nyanyikan. Namun sebenarnya lirik yang pas untuk anak-anak saat ini sangat dibutuhkan, selain sebagai pengajaran juga berdampak pada prilakunya yang positif. Mereka mengetahui betul makna dari lagu-lagu yang mereka dendangkan, karena lirik yang ada tercakup pada aktivitasnya sehari-hari.

Di layar kaca sering kali kita lihat berbagai acara yang mengusung dunia anak-anak sebagai pilihan menu utama. Berbagai kontes dan lomba penyanyi anak bermunculan di banyak stasiun televisi. Setiap anak dari penjuru Nusantara yang terpilih berlomba-lomba mengeluarkan kemampuan terbaik dalam berolah vokal.

Jawabannya simpel karena syair lagu yang dibawakan senantiasa bertemakan cinta dan asmara sehingga memposisikan anak-anak dalam satu ruang yang penuh keterbatasan. Kesemuanya memberi ikon masa kanak-kanak yang khas lewat lagunya tentang persahabatan, pendidikan, kasih sayang ibu, sebuah harapan dan cita-cita. Kini, ke mana tema-tema lagu anak tersebut? Kasihan, jangan-jangan anak-anak telah kehilangan dunianya.

Berbicara masalah musik, musik juga dapat diibaratkan bahasa. Di dalamnya mengandung berbagai alunan kata yang penuh muatan pesan. Apabila disuarakan oleh orang yang pas, pesan dapat tersampaikan dengan baik dan komunikatif terlepas dari implikasi baik dan buruknya. Apabila tidak, layaknya seorang dalang wayang Jawa yang mementaskan diri di Provinsi Papua, yang terlihat aneh dan membingungkan.

Hal ini juga dapat diibaratkan dengan musik di dunia anak-anak kita saat ini. Mereka harus bersuara, tetapi yang disuarakan bukan lagi dari hati yang mewakili mereka, bukan lagi tema-tema dunianya yang dibawa. Mereka harus bernyanyi dengan bertemakan pendidikan, persahabatan, cita-cita, kasih sayang ibu.

Kini, mereka hanya menjadi semacam wadah yang dieksploitasi sedemikian rupa guna memenuhi tuntutan materi. Patut kita sadari, membiarkan anak-anak membawakan lagu-lagu bertema asmara dan cinta-cintaan akan membawa banyak konsekuensi logis bagi mereka.

Bangkit kembali penyanyi cilik, suarakan isi duniamu...