Warga yang tinggal di Desa Sukabangun Kecamatan Delta Pawan menolak keberadaan rumah penangkaran burung walet yang berdiri di wilayah tempat tinggal mereka. Warga khawatir terhadap penyakit flu burung dan demam berdarah, akibat lingkungan tercemar kotoran burung walet.
Warga yang tinggal di Desa Sukabangun Kecamatan Delta Pawan menolak keberadaan rumah penangkaran burung walet yang berdiri di wilayah tempat tinggal mereka. Warga khawatir terhadap penyakit flu burung dan demam berdarah, akibat lingkungan tercemar kotoran burung walet.
“Kami menolak rumah walet karena dibangun di tengah pemukiman. Apalagi di lingkungan kami ini juga ada sekolah dan rumah ibadah, keberadaan rumah-rumah walet sangat mengganggu," kata Dedi, warga setempat kepada koran ini, Kamis (8/4).
Menurutnya, keberadaan penangkaran sarang burung walet, terutama yang berada di dekat rumah penduduk sangat mengganggu dikarenakan suara bising dari tape recorder yang dipasang di bangunan penangkaran sarang burung Walet itu.
"Kami meminta kepada Satpol-PP agar menertibkan bangunan penangkaran sarang burung walet yang tidak mempunyai izin ini dan jangan mengeluarkan izin rumah walet di pemukiman kami,” kata Dedi.
Misni, warga lainnya, mengatakan di wilayah Jalan Gajah Mada Desa Sukabangun terdapat SD 08 dan Masjid Baiturahmah, keberadaan rumah walet ini katanya dapat mengganggu proses ibadah dan belajar mengajar.
"Bagaimana kita mau ibadah kalau nantinya suara burung walet itu mengganggu dan bagaimana anak-anak bisa belajar dengan tenang,” ungkapnya dengan nada bertanya.
Wilayah bangunan penangkaran sarang burung walet yang diberikan izin oleh Pemkab Ketapang adalah wilayah Ketapang Kecil, Desa Negeri Baru dan Desa Baru.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
