Kanker ginjal biasanya tidak memiliki gejala sampai penyakit itu menyebar ke organ lain, ketika kanker tersebut juga sudah berada pada tahap paling sulit untuk disembuhkan.
Dalam salah satu temuan pertama mengenai penyakit tersebut, para peneliti dari University of California, Davis, telah mengidentifikasi cara untuk menghalangi mekanisme perbaikan sendiri oleh gen kanker dan, dalam melakukan itu, membantu kemoterapi bagi kanker ginjal jadi lebih efektif dan lebih dapat ditolerir.
Hasilnya disiarkan di dalam jurnal Cancer Biology and Therapy, terbitan Desember.
"Sel kanker sangat terkenal dalam kemampuan mereka untuk secara cepat menciptakan salinan diri mereka. Meskipun pengobatan paling akhir memperlambat proses itu, pengobatan tersebut tidak cenderung menyembuhkan dan mungkin memiliki dampak," kata pemimpin penelitian itu Robert Weiss, Selasa.
"Kami ingin menemukan cara membantu membuat kemoterapi seefektif mungkin dengan dosis paling rendah," ujarnya.
Pengobatan yang lebih baru bekerja dengan merusak kestabilan sel kanker di tingkat DNA, yang mengurangi kemampuannya untuk menggandakan diri.
Para peneliti itu, yang mengetahui bahwa gen p21 memiliki peran penting dalam memulihkan DNA sel kanker dan berpotensi memangkas manfaat bagi pengobatan itu, berusaha mengidentifikasi susunan yang dapat mengganggu jalur tersebut.
Tim itu menguji ribuan bahan dan 12 didapati mengikat protein "recombinant" p21. Ujicoba tambahan memperlihatkan tiga bahan itu menurunkan ekspresi p-21, dan menghalangi kemampuan sel kanker ginjal untuk memperbaiki diri dan membuatnya lebih responsif terhadap pengobatan yang merusak DNA.
Untuk kajian masa depan, tim peneliti tersebut akan memusatkan perhatian pada tiga calon bahan guna memastikan konsentrasi paling rendah yang mungkin membuatnya tetap efektif dan guna lebih mengoptimalkan kandungan anti-kankernya.
Mereka kemudian akan menguji bahan itu dengan pengobatan standard dalam contoh hewan dan, pada akhirnya, dalam ujicoba pada manusia.
| < Sebelumnya |
|---|
