You are here

KELUARGA DAN REMAJA

Sejajar, Bukan Dibawahnya

Borneo Tribune, Jakarta
Komunikasi sejajar merupakan tips yang paling ampuh dalam menjalankan pergaulan dalam sebuah ikatan keluarga. Maknanya adalah membangun komunikasi tanpa memberikan hak istimewa terhadap orang tertentu, misalnya ayah atau ibu mempunyai wewenang lebih banyak untuk berkomunikasi daripada anak, sehingga membangun komunikasi berjalan tanpa strata.
Sebuah perubahan sosial, tentunya sangat mempengaruhi kehidupan sosial itu sendiri. Tak ayal lagi, jika pengaruh tersebut pun menembus dinding-dinding keluarga.
Di dunia barat, emansipasi sudah lebih dahulu diterapkan, tetapi mereka melihatnya secara utuh. Mereka melihat kesamaan hak, diikuti dengan kesamaan peran dalam keluarga.
Sebagai contoh, perempuan menginginkan kesamaan hak, tetapi di lain pihak ia memilih memposisikan dirinya sebagai kaum lemah, mengakui dirinya berada dibawah laki-laki.
Sebuah iklan di TV mampu menyajikan gambaran yang menarik. Seorang istri ikut membantu suaminya membawakan galon air, secara semiotik, pesan ini mengimbau agar perempuan memposisikan pada peran yang sama pula, sehingga akan menghantarkan pasangan suami istri, sebagai satu kesatuan utuh yang kompak.
Laki-laki memang memiliki kecenderungan dominan, maklum saja dan tak usah terpengaruh dengan sifat tersebut, tetapi jangan menurut! Jelaskan kepadanya bahwa membangun keluarga bukan semata bersandar pada pundaknya. Anda juga memiliki peran yang sama.
Bukankah ketika anak memiliki tabiat buruk selalu saja perempuan yang disalahkan sebagai penyebab salah asuhnya? Sementara laki-laki dengan mudahnya berpaling dari tanggung jawab dan beranggapan bahwa mereka bukan faktor penyebab.
Untuk itu, bicarakan dan bangun komitmen bersama. Gali keunikan masing-masing yang mampu menjadi tali pengikat guna menyokong menara kebersamaan yang kalian bangun.
Bicarakan pula pembagian tugas secara rutin dan berkala. Evaluasi diri berdasarkan tugas dan wewenang yang sudah kalian bicarakan bersama, sehingga tidak ada lagi tudingan yang didorong luapan emosi.
Kegiatan ini sekaligus melatih diri sendiri untuk menghindari rasa ego, menyatakan bahwa keluarga ini takkan utuh tanpa kehadiran dan usaha Anda, sekaligus menyadari bahwa sesungguhnya pasangan memang berada sejajar, bukan saling mendahului. Tidak! Tak ada keluarga yang mampu berdiri jika hanya dibangun dengan jalan terpisah, bersatulah dan isi kealpaan pasangan Anda.(perempuan.com).

Menghindari Perselingkuhan

Borneo Tribune, Jakarta
Tidak menjadi jaminan kalau orang yang sudah menikah tidak akan bisa mencintai orang lain. Sering terjadi seseorang yang sudah membangun bahtera rumah tangga, pun berjalan dengan harmonis, namun akhirnya mencintai orang lain tanpa rencana.
Hanya saja, insan dalam keluarga masih membuka hatinya untuk dicintai dan mencintai orang lain, terutama karena siapa yang mampu menolak cinta kala datang mengetuk.
Sebagai penawar paling ampuh, sebaiknya jangan biarkan diri kita terjebak dalam permainan api, jika tidak mau terbakar tentunya. Tetapi, ya itu tadi, Bagaimana menampik cinta?
Terkadang rapatnya hati justru menjadi pintu masuknya cinta baru. Rasa protektif membuat anda tidak merasa bahwa sesungguhnya tengah berpaling hati, anda dengan santai menganggapnya hanya sebagai wujud emosi.
Betapapun anda menerangkan kedekatan emosional tersebut, pasangan anda pasti sulit menerima, terkecuali memang ia tidak memiliki rasa cinta. Tentu rasa cemburu akan menguak.
Meski fenomena ini sering dikaitkan dengan hubungan yang tidak hamonis di dalam keluarga. Namun, betapapun rumitnya masalah dalam keluarga, kita pasti juga tidak akan terima jika dijadikan alasan untuk berpaling ke lain hati.
cobalah untuk memusatkan diri dan hati anda kepada keluarga, terutama anak-anak anda. Mereka adalah orang yang paling berhak atas diri dan perhatian anda.
Sibukkan diri sedemikian rupa, sehingga lama kelamaan bayangan akan orang yang kita cintai memudar. Karena betapapun besarnya cinta, kualitasnya tetap ditentukan oleh interaksi.
Usahakan jangan pernah berhubungan lagi dengan orang yang membuat kita jatuh cinta. Jika anda satu kantor dengannya, sampaikan perasaan tersebut, tetapi ingatkan juga bahwa anda tak mungkin dapat mewujudkan perasaan tersebut menjadi suatu hubungan sosial.
Keterbukaan anda dengan pasangan juga sangat membantu, sehingga pasangan anda akan melakukan introspeksi diri, selain anda pribadi tentunya. Dan Pastikan bahwa keterbukaan anda bukan untuk meminta izin melakukan hubungan atau suatu ancaman, sampaikan dengan rasa sabar berikut penjelasan bahwa ini untuk menguatkan hubungan(perempuan.com).

Dominasi Menghancurkan Keluarga

Borneo Tribune, Jakarta
Dalam rumah tangga, seharusnya suami-istri memiliki hak sekaligus wewenang yang sederajat, tidak ada yang lebih dominan, pun tidak ada yang lebih rendah.

Jika ditinjau secara tradisional, dengan kondisi sosial Indonesia, terutama pandangan agama, laki-laki harus berperan sebagai pemimpin dalam keluarga. Konsekuensinya, laki-laki harus terampil mengarahkan tingkah laku anggota keluarga, memimpin dalam proses pengambilan keputusan dan menjadi pengetuk palu mengenai keputusan mana yang akan diambil.

Namun demikian, yang jauh lebih mengemuka adalah bahwa sebagai pimpinan harus dihormati, diistimewakan, dipatuhi perintahnya, juga dituruti kemauannya. Menjadi gawat kalau segala ucapan kepala keluarga harus selalu dianggap sebagai hal yang baik dan kebenaran.

Di lain sisi, seorang istri dapat berperan dominan dalam keluarga karena berbagai hal. Misalnya, suami sering bertugas ke luar kota, sehingga istri seringkali harus mengambil keputusan sendiri. Suami tidak peduli pada aspirasi anggota keluarga, sehingga istri akhirnya memutuskan sesuatu yang dapat ditanggulanginya sendiri.

Dominansi salah satu unsur keluarga dapat berakibat pengabaian unsur keluarga yang lain apabila tidak disertai dengan sikap yang bijaksana. Seorang istri yang bersemangat menentukan segalanya, mengatur semua sendiri akan membuat suami menjadi tergantung dan anak-anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

Dominasi bersifat menekan, hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada usaha untuk empati atau memperhatikan kebutuhan orang lain. Suami yang berkeyakinan bahwa suami harus dominan di dalam keluarga, tentu saja keberatan. Akibatnya akan terjadi adu kekuatan, ingin saling menguasai yang pada hakikatnya bukanlah situasi yang diharapkan muncul dalam rumah tangga.

Dalam situasi keluarga dengan salah satu orangtua dominan, maka lebih baik membicarakan dengan pasangannya, apabila ada hal-hal yang tidak berkenan terjadi dalam keluarganya. Usahakan tidak memfokuskan diri pada isu kekuasaan, dominasi ataupun penghargaan.

Kalau ada konflik dalam keluarga, tanda-tandanya bisa amat bervariasi. Biasanya suami menjadi depresi, atau karena tidak terpenuhi kebutuhan sebagai kepala di dalam keluarga sebagaimana umumnya, lalu mencari kompensasinya di luar keluarga misalnya menjadi amat dominan dalam pergaulan dengan teman, organisasi atau pekerjaan, menjadi amat ingin dihargai atau berkuasa di lingkungan lain.

Dalam hal istri dominan kembali lagi introspeksi dan tinjau ulang tujuan berkeluarga. Apakah memang sejak awal keluarga itu dibentuk untuk memenuhi kebutuhan dominasi atau ada pengaruh sosial budaya yang kemudian mengubah isteri atau suami mendadak menjadi ingin dominan, haus kekuasaan, ingin diistimewakan, ingin menentukan segala sesuatu atau dihormati berlebihan dalam keluarga.(perempuan.com)

Halaman 3 dari 3