You are here

Tokoh Animasi Lebih Populer dari Pahlawan Nasional

Naruto, Sasuke, Gara, dan Konoha, semua karakter super hero tersebut, kini akrab bersama anak-anak, terlebih disajikan setiap hari TV swasta nasional. Kejadian tersebut berlangsung setiap hari, hingga anak-anak sangat dekat dengan tokoh super hero tersebut. Lebih parahnya lagi, tokoh tersebut lebih tenar ketimbang, pahlawan Nasional. Seperti, Ahmad Yani, Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, Soekarno, dan lainnya.

Misalnya saja kondisi di Sukadana. Setiap sore hari anak-anak sudah dengan setia duduk manis di depan pesawat televisi, untuk menyaksikan pahlawan mereka beraksi membela kebenaran.

Yuli misalnya, anak kelas lima SD ini sangat mengagumi Naruto. Menurutnya, Naruto sosok pahlawan yang patut dicontoh. Dia mengatakan, Naruto pantang menyerah dan punya ilmu tinggi. Semua musuh akan dilibasnya.

“Saya ingin sekali jadi seperti dia,” kata Yuli, yang tak sekalipun melewatkan adegan demi adegan yang tersaji di pesawat televisinya.

Sama halnya dengan Asa (10), dia pun mengidolakan Naruto. Bahkan, sering mengikuti gerakan yang dilakukan Naruto, saat menghadapi musuh-musuhnya.

Kejadian itu sangat miris, disaat sebuah bangsa sangat menghargai pahlawannya, dan mereka memberikan pelajaran berharga kepada anak mereka, untuk mengenal para pendiri bangsa. Namun tidak di negara ini. Kondisinya sekarang berganti. Anak-anak hanya mengenal sosok pahlawan bangsa lewat buku pelajaran yang mereka dapatkan dua jam pelajaran, sementara Naruto dan rekan-rekan setiap hari tersaji hingga tiga jam setiap hari. Keadaan itu membuat tokoh pahlawan nasional kalah saing dengan tokoh animasi buatan Jepang.

Melihat kejadian tersebut, LO Dandim KKU, Kapten TNI Suparman angkat bicara. Menurutnya, generasi muda sering lupa semangat juang para Bapak Pendiri Bangsa, dalam upaya merebut, memproklamirkan dan mempertahankan kemerdekaan.

“Mereka berjuang tanpa pamrih, mengorbankan jiwa raga sampai titik darah penghabisan,” jelasnya. Namun harus kalah dengan Naruto maupun Avatar.

Guna mengatasi masalah tersebut, perlu pengenalan kembali Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) yang relevan dalam era reformasi. Sebab, pondasi kecintaan kepada tanah air, apabila generasi muda telah memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kejuangan bagi tanah air.  

Seperti kata bijak yang pernah dikatakan Presiden John F. Kennedy dari Amerika Serikat. “Don’t ask what your country can do for you, ask what can you do for your country”. Artinya, jangan tanyakan apa yang dapat dilakukan oleh negaramu untukmu, tapi tanyakan apa yang dapat kamu lakukan untuk negaramu. Semoga.