You are here

Kinerja PLN Payah

Kinerja PLN dianggap masih payah. Sejak Kamis (8/10) hingga Jumat (9/10), Kabupaten Kayong Utara (KKU) gelap gulita, karena terputusnya aliran listrik.

Akibat pemadaman itu, aktivitas warga sejak siang hingga malam terhenti, terutama perkantoran, dan berakibat terhambatnya pelayanan kepada masyarakat. Mereka yang punya mesin genset dapat memanfaatkan bantuan mesin tersebut, untuk penerangan sementara hingga aliran listrik mengalir lagi.

Kondisi pasar Sukadana, ibukota kabupaten biasanya ramai malam hari, juga terpengaruh putusnya aliran listrik. Keadaan pasar menjadi lenggang. Warga yang biasa beraktivitas malam hari di pasar Sukadana, memilih menutup usahanya lebih awal. Hanya ada satu-dua buah toko dan warung yang buka. Itu pun mereka terpaksa lakukan, karena harus mengeluarkan uang lebih, karena kebutuhan membeli bahan bakar, buat mesin genset yang mereka gunakan.

Sementara itu, salah satu warga di Jalan Bhayangkara Sukadana, Tengku Rahman mengatakan, sudah malas membicarakan aliran listrik.  Menurutnya pemadaman sudah menjadi ritual PLN dan tidak bisa dicegah.

“Sudahlah, susah untuk dikomentari. Tetap saja mereka memutuskan semaunya,” kata Tengku Rahman dengan nada kecewa.

Alumnis STKIP Pontianak ini mengibaratkan PLN ibarat orang yang sudah tua, selalu saja diserang penyakit meski berobat terus-terusan dilakukan. Sebenarnya konsumen sendiri mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan prima dari PLN, namun dengan berbagai alasan yang ada, Tengku Rahman mengaku sudah tidak bisa menuntut lagi, karena pihak PLN akan mengeluarkan jurus andalan, dimana mengaku ada gangguan jaringan dan sebagainya.

Lain halnya dengan Sabirin dan Deny Akbar, dua pelajar dari Pulau Maya Karimata, terpaksa menggunakan penerangan seadanya untuk belajar. “Kami terpaksa membeli lilin, dan terpaksa gelap akibat kehabisan lilin dan tak mampu membeli lagi,” katanya dengan sedih.

Bagi Sabirin dan Deny, tanpa aliran listrik bukan hal aneh. Selama berada di Pulau Maya Karimata, aliran listrik PLN sering terganggu, terkadang mereka terpaksa bergelap lebih satu bulan lamanya, karena mesin pembangkit rusak.

Keputusan dua pelajar ini bersekolah di Sukadana, salah satu alasanya adalah, mudah belajar karena gangguan listrik kemungkinan kecil tidak ada. Tetapi apa yang mereka harapkan, ternyata jauh dari harapan mereka. Aliran listrik tetap saja mengalami gangguan, meskipun di Ibu Kota Kabupaten.

Anggota DPRD Kayong Utara, Effendy Ahmad mengaku kecewa dengan pelayanan yang diberikan PLN. “Bagaiman investor mau masuk kalau ketersediaan listrik kurang,” jelasnya.

Dia mengatakan, sebenarnya banyak peluang KKU mengolah listrik sendiri. Beberapa sumber yang ada mampu mengalirkan listrik. Aliran listrik ke KKU masih diperoleh dari PLN Ketapang. Sehingga bila ada gangguan di Ketapang, otomatis KKU terkena imbasnya.