Menjaga kelestarian hutan dan habitatnya, bukan saja tugas pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tetapi tugas semua pihak. Hal itu yang dilakukan LSM Peramas--sebuah lembaga yang melakukan pemberdayaan masyarakat di desa-desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).
Menjaga kelestarian hutan dan habitatnya, bukan saja tugas pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tetapi tugas semua pihak. Hal itu yang dilakukan LSM Peramas--sebuah lembaga yang melakukan pemberdayaan masyarakat di desa-desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).Saphani, staf lapangan Peramas menjelaskan wilayah kerja mereka berada di Kayong Utara yang meliputi tiga desa di Kecamatan Sukadana. “Kita lakukan dampingan terhadap masyarakat setempat agar mereka tidak melakukan perusakan kawasan hutan,” jelasnya.
Mengapa harus dilakukan pendampingan terhadap masyarakat di sana, Saphani beralasan kondisi TNGP mulai mengalami gangguan, yang akhirnya dapat menimbulkan kerusakan habitat orangutan, dan habitat di dalamnya, terlebih masyarakat lebih senang melakukan perburuan dan penebangan liar.
Melalui lembaganya mereka memberikan penyadaran di setiap desa, dalam bentuk kader konservasi desa yang diharapkan bahwa kerusakan hutan yang mereka lakukan sangat berdampak sekali terhadap keberlangsungan hidup mereka dan habitat di dalamnya. Guna memudahkan memudahkan, masyarakat disarankan melakukan kegiatan ekonomi, di antaranya pembuatan tambak, berkebun, di sekitaran wilayah TNGP
Guna memberikan efek jera,Peramas bersama masyarakat desa bersama mencoba membuat peraturan desa (Perdes). “Kita mengharap adanya Perdes sedikit membantu penyadaran masyarakat menjaga kelestarian hutan,” jelasnya.
Untuk memudahkan kerjanya Sapahani mengaku akan segera menjalin kerja sama dengan pihak pemeritah seperti Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Dinas Perdagangan. Dia mengharapkan para pemegang kebijakan itu mampu memberikan andil menjaga keberlangsungan hutan dan habitatnya.
Memang diakui Sapahani perlu proses panjang mengubah pola pikir masyarakat, yang sejak lama terbiasa melakukan perabahan hutan, sehingga beberapa program yang ada lebih ditekankan bagaimana mengelola potensi di daerah menjadi sumber yang menghasilkan, tanpa merusak hutan dan habitatnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
