Ketua Panitia Kontes Rajawali Silva Club, Yeddy Surahman mengatakan, para pencinta burung hatus tetap menjaga kelestarian alam dengan mencegah kelangkaan dan kepunahan sejumlah burung di Bumi Uncak Kapuas Hulu ini.
“ Kepunahan dengan terus melakukan pemeliharaan dan peremajaan burung yang mulai jarang terlihat dan terdengar di Kapuas Hulu,” Surahman, Minggu (13/3).
Menurutnya, kicauan burung sebagai bagian lestarinya hutan di Kapuas Hulu, terlebih 50 persen hutan di KH merupakan kawasan konservasi hutan.
Dengan menjaga kelestarian hutan, para pencinta burung, seperti dituturkan Yeddy juga turut mempromosikan potensi wisata alam dan aneka ragam burung milik Kapuas Hulu kepada para pelancong wisata.
“ Para wisata yang hobi suara burung yang jarang didengar di daerah perkotaan, bisa datang ke Kapuas Hulu,” harapnya.
Sementara itu, Bupati Kapuas Hulu, AM. Nasir, punya pengalaman unik dengan dunia burung. Ceritanya, banyak burung khas Kapuas Hulu yang sekarang
mulai punah akibat perkembangan jaman dan alih fungsi hutan.
“ Burung Tinjao lagi susah, dulu yak mudah dilihat didengar dibelakang rumah,” ingatnya sewaktu menceritakan semasa kecil.
Ada juga burung Kerakau populasinya hampir punah. Padahal dulu pencinta burung dari lintas Selatan bawa burung isinya dalam kandang hingga ratusan, sekarang semakin sedikit jumlahnya.
Nasir minta, kelestarian burung sama dengan melesatarikan ikan arwana yang telah menjadi ikon Kapuas Hulu. Selama ini, menurutnya, Kapuas Hulu memiliki burung-burung khas seperti Cicak Hijau, tapi ia minta pemeliharaannya dengan penangkaran dan pengembangbiakkan lebih diutamakan.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
