You are here

Gua Maria Sajikan Panorama Alam Hijau

Ada yang unik dari pembangunan Gua Maria Segala Hati (RSH) di Siut, Kecamatan Putussibau Selatan. Kehadiran goa itu, masyarakat Kapuas Hulu dapat mempromosikan budaya asli kepada masyarakat luar, selain meningkatkan spirit keimanan bagi jemaat Katolik.

Gua Maria RSH sendiri baru diresmikan Uskup Sintang, Mgr. Agustinus Agus, belum lama ini. Ino Sensius, Anggota DPRD Kalbar mengatakan, kehadiran goa itu harus dimanfaatkan dengan baik dari masyarakat sekitar untuk mengenalkan budaya asli masyarakat Kapuas Hulu kepada jemaat Katolik dari luar Kapuas Hulu.

“Gua Maria ini bisa menjadi simbol komunikasi penduduk setempat atau Kapuas Hulu kepada masyarakat luar,” kata Ino, Minggu (31/11). Yakni dengan cara melakukan komunikasi lewat budaya penduduk setempat. Atau bisa juga melalui cenderamata asli seperti aksesoris manik-manik dan beragam ukiran khas daerah.

Ia menyebutkan, secara religius Gua Maria dapat menjadi spirit menumbuhkan keimanan bagi umat Katolik. Tetapi juga secara ekonomis. Masyarakat yang memiliki jiwa kreatif bisa memanfaatkan kemampuan membuat manik-manik, aksesoris, dan jenis ukiran bisa dijual di sini.

“Souvenir itu kan bisa dibawa ke tempat asal pengunjung yang datang ke sini. Ini juga promosi. Manik-manik itu dari Kapuas Hulu. Makanya promosi ini harus bisa berjalan,” saran Ino.

Tapi dengan catatan, sarana transportasi menuju Gua Maria harus dibangun dengan baik. Seperti pembangunan jalan aspal. Apalagi masyarakat kota Putussibau yang minim hiburan bisa mendapatkan suguhan suasana rekreasi di lokasi goa.

Di sana akan menyuguhkan daya tarik panorama alam hijau yang asri dan sejuk. Lantaran dibangun di atas hutan lindung dan alam.

“Tidak ada masalah sejauh tidak merusak hutan. Justru dengan dibangun di hutan lindung sebetulnya menjaga supaya hutan lindung tetap terpelihara,” kata Ino. Ia juga menjamin pembangunan goa tidak dibangun dengan menebang hutan, dan merusak tanah. Sebaliknya, justru memelihara alam yang masih segar.