Pihak yang berkuasa di Bangladesh mengirimkan tentara ke daerah pegunungan tenggara, setelah lebih dari 100 orang luka dalam bentrokan antara suku-suku dan penduduk Bengali, kata polisi dan media lokal, Minggu (21/2).
Pihak yang berkuasa di Bangladesh mengirimkan tentara ke daerah pegunungan tenggara, setelah lebih dari 100 orang luka dalam bentrokan antara suku-suku dan penduduk Bengali, kata polisi dan media lokal, Minggu (21/2).
Sedikitnya dua orang tewas dalam bentrokan yang terjadi sepanjang Sabtu di Daerah Pegunungan Rangamati, sekitar 350 kilometer dari ibu kota Dhaka. Ini adalah kerusuhan terburuk di daerah tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini.
Ratusan warga Bengali yang tidak punya tanah, sebagian besar korban erosi sungai, dimukimkan di wilayah Pegunungan Chittagong pada tahun 1980-an, untuk mengurangi tekanan kependudukan di dataran itu, dan juga untuk meredam pemberontakan suku.
Hubungan antara pemukim dan kelompok-kelompok suku telah tegang berkaitan kepemilikan tanah, dan sering menimbulkan tindakan kekerasan.
"Pasukan angkatan darat telah dikirim dan situasinya kini sudah terkendali, tapi masih sangat tegang," kata seorang wartawan local melalui telepon.
"Pertemuan lebih dari lima orang telah dilarang."
Polisi mengatakan, mereka mendapati tubuh-tubuh dengan luka peluru pada seorang pria dan seorang wanita di distrik Rangamati, di mana bentrokan itu meletus,lebih dari 100 rumah telah dibakar.
Pada 1997, pemerintah Bangladesh menandatangani kesepakatan perdamaian dengan gerilyawan suku Shanti Bahini, yang telah memberontak selama 25 tahun untuk menuntut status otonomi politik di Pegunungan Chittagong seluas 14.200 kilometer persegi yang berbatasan dengan India dan Myanmar.
Polisi mengatakan, satu kelompok suku menentang kesepakatan perdamaian itu dan menyerang sebuah desa permukiman, yang kemudian memicu aksi-aksi kekerasan selanjutnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
