You are here

Susahnya Dokter Daerah Terpencil

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bakal mengeluarkan Inpres untuk menarik para tenaga kesehatan khususnya dokter agar termotivasi bertugas di daerah terpencil.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, ketika kunjungan kerja di Pontianak, Jumat (19/3).

Menurut Endang yang datang bersama Menteri PDT Helmy Faisal Zaini, Inpres tersebut sesuai usulan dari menteri kesehatan karena selama ini terjadi kesukaran distribusi dokter di puskesmas yang menjadi keluhan setiap daerah. “Idealnya satu puskesmas minimal satu dokter. Kalau puskesmas besar bisa lebih dari satu,” terang Endang.

Data Kementerian Kesehatan, 46 atau hampir 50 persen puskemsas Indonesia belum ada dokternya, dan tahun ini semakin meningkat. “Jadi kesannya puskesmas semakin tidak diminati dokter,” sindir Endang.

Dalam rapat kabinet beberapa waktu lalu di Jakarta, hal ini sudah disampaikan presiden. “Kami mengajukan beberapa saran ke Bapak Predisen, kelihatannya nanti yang akan diputuskan Bapak Presiden akan ada Inpres bukan mewajibkan tapi memotivasi menarik dokter untuk bekerja di daerah terpencil dengan insentif materi dan kemudahan prioritas spesialisasi dan diberi kesempatan PNS,” terang dokter lulusan Amerika Serikat itu.

Endang menambahkan, dokter yang bertugas di daerah terpencil juga nantinya ada percepatan kenaikan pangkat.

Pengganti Siti Fadilah Supari itu mengeluhkan, kalau sekarang jangka waktu dokter PTT hanya enam bulan dan sangat tidak efektif, karena untuk mengurus pindah saja bisa satu bulan, kemudian dua bulan berikutnya bertugas, beberapa bulan kemudian sudah mengurus pindah lagi. ”Jadi terlalu singkat,” tambah Endang. Sehingga pihaknya akan mencari program yang tidak melanggar HAM tapi bisa memotivasi dokter yang bekerja di daerah terpencil.