Bupati Kabupaten Pontianak, Ria Norsan mengatakan untuk meningkatkan Pedapatan Asli Daerah (PAD) pihaknya akan mengoptimalkan pemungutan pajak golongan C (Bahan Galian).
Bupati Kabupaten Pontianak, Ria Norsan mengatakan untuk meningkatkan Pedapatan Asli Daerah (PAD) pihaknya akan mengoptimalkan pemungutan pajak golongan C (Bahan Galian).
“Kedepan kita akan optimalkan pajak golongan C seperti bahan galian batu dan tanah, dan mencarikan investor yang mau menanamkan investasinya. Karena potensi kita di bidang itu cukup besar, agar dapat meningkatkan PAD,” ungkap Norsan ditemui pekan kemarin.
Norsan mengungkapkan sejak dimekarkan menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya (KKR), PAD Kabupaten Pontianak berubah drastis. Dari 100 persen hanya tinggal 15 PAD Kabupaten Pontianak, selebihnya 85 persen berada di KKR.
“Ini konsekuensi dari pemekaran PAD juga harus terbagi, sebagian besar sumber PAD Kabupaten Pontianak memang berada di Kubu Raya. Sehingga kita harus mencari alternatif penambahan PAD,” kata dia.
Selama ini juga diungkapnya hasil pajak tergantung dari perkebunan dan pertambangan. Kebanyakan sumber pajak tersebut berada di KKR. Sehingga saat pemekaran terasa berkurangnya pendapatan. Selain itu bagi hasil pajak pusat ke daerah untuk Kabupaten Pontianak setelah pemekarang juga sangat rendah.
Tahun 2009 lalu Kabupaten Pontianak menerima DAK Pendidikan sebesar Rp 28 Miliar, DAU sebesar Rp 185 M, Ad Hock sebesar Rp 45 M dan bantuan dari Pemerintah Provinsi sebesar Rp 5 miliar. Dana tersebtu belum dapat mencukupi anggaran Kabupaten Pontianak sehingga defisit Rp 42 miliar.
“Kita memang sempat kristis keuangan, bahkan SKPD banyak yang tidak beraktivitas karena tidak ada pendanaan. Tapi saya siasati dengan memotivasi mereka, Alhamdulillah sekarang sudah mendapatkan dana untuk pembangunan,” ucap Norsan.
Tahun 2010 ini diungkapnya Kabupaten Pontianak mendapatkan Dana Alokasi Umum (DAU) Rp 315 miliar, Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp 28 miliar dan Dana Dekonsentrasi sebesar Rp 22 miliar. Serta PAD meningkat menjadi RP 18 miliar, berasal dari pajak, retribusi, penghasilan lain-lain.
“Paling besar dan satu-satunya yang jelas saat ini memang dari pengelolaan rumah sakit yang masuk dalam penghasilan lain-lain. Target tahun 2010 ini Rp 7 miliar. Untuk menambah kemampuan keuangan daerah kita juga pinjam ke Bank Kalbar sebesar Rp 15 miliar,” papar Norsan.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
