Malaysia kirim daging ilegal yang diduga melewati pintu perbatasan Entikong. Tidak hanya daging ayam dan sapi beku, ayam broiler hidup masuk ‘bebas’ lewat pintu resmi Entikong. Demikian dibeberkan Ketua Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalimantan Barat, Bambang Mulyantono, di Pontianak, Kamis (2/9).
Dituturkan Bambang, kasus ini sudah berjalan sejak Mei 2010. Dari pengecekan di lapangan pada 27-29 Juli 2010 di pintu perbatasan Entikong dan daerah sekitarnya seperti Balai Karangan, Tembayan, Sosok, Bodok, dapat dilaporkan sebagai berikut.
“Tanggal 27 Juli 2010 sore jam 17.00, saat beristirahat di Balai Karangan, kami mendapat keterangan dari seorang pedagang kelontong yang baru saja datang dari seberang, ia mengatakan saat masuk pintu batas beriringan dengan pick up yang membawa ayam hidup,” jelas Bambang.
Dari informasi tersebut didapatkan informasi, ayam hidup masuk melalui pintu resmi Entikong ketika pagi awal pintu perbatasan dibuka dan sore hari 10-15 menit sebelum pintu ditutup.
Hasil pemantauan di pintu batas Entikong dari pukul 14.00 – 16.00, tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan kecuali menyaksikan beberapa mobil box yang diperiksa petugas untuk dibuka pintunya, setelah dilihat-lihat begitu saja oleh petugas lalu mobil dipersilahkan melanjutkan perjalanan masuk ke wilayah Kalbar.
Pagi jam 07.00 tanggal 28 Juli 2010, di depan pertokoan di Balai Karangan yang umumnya masih tutup, ditemukan ayam-ayam broiler hidup yang baru datang dari Serawak sedang dibuka plastik pembungkusnya oleh si pemilik. Pada tempat ini ada sekitar 200 – 300 ekor broiler dengan berat hidup rata-rata 2,0 kg. Sedangkan di Balai Karangan ada 3 pengusaha penampung semacam ini yang rata-rata sehari mengambil ayam broiler di Entikong sekitar 200-300 ekor dengan harga Rp 22.000/kg.
Bambang juga membeberkan, pengakuan Ibu Hajah ‘X’ penjual ayam potong di pasar Balai Karangan yang sehari rata-rata menyembelih 50-60 ekor. Ibu Hajjah ini mengaku 3 (tiga) bulan terakhir ini dipasok oleh pedagang pengumpul yang mendatangkan ayam broiler dari jiran. Ibu Hajjah membeli ayam broiler hidup dengan harga Rp 23.000/kg hidup. Bandingkan dengan harga ayam yang dipelihara peternak Sosok dan Bodok yang harganya Rp 26.000/kg hidup ex-farm.
Pedagang ayam di Bodok yang mengaku mendapat penawaran ayam dari jiran sebanyak 700 ekor dengan berat badan 2,0 kiloan lebih. Bila ambil sendiri di Entikong harganya Rp 22.000/kg sedangkan apabila diantar di Bodok harganya Rp 24.000/kg. Pedagang ayam broiler lokal yang memasok sejumlah kecamatan di Kabupaten Sanggau ini memperkirakan ayam broiler hidup asal jiran yang masuk antara 1.500 - 2.000 ekor per hari
Di Kembayan saja daging ayam beku bermerek Malaysia di toko dijual bebas, harga partai besar Rp 20.000/kg harga eceran Rp 22.000/kg, berat karkas yang dibeli 1,85 kg dan 2,15 kg. Ketika kembali ke Entikong (28/7) untuk menyaksikan langsung masuknya ayam hidup dari jiran lewat pintu resmi Entikong, pemantauan dilakukan antara jam 16.00 – 17.30, ternyata tidak menemukan yang ditunggu-tunggu sampai pintu ditutup. Saat itu memang ada kunjungan dari pihak tentara Kalbar dengan rombongan 5-6 kendaraan berwarna hijau yang meninggalkan lokasi sekitar pukul 17.00.
Petang itu tim investigasi singgah ke gudang milik seorang pedagang ikan, daging ayam, dan daging sapi (beku), menyaksikan pembongkaran 5 mobil box yang baru tiba. Berisi ikan-ikan dan daging ayam beku di dalam karung. Tumpukan ikan diletakkan didekat pintu, sedangkan daging ayam di bagian dalam. Satu mobil box memuat 10 karung daging ayam, bila per karung beratnya 50 kg dan sehari ada sekitar 10 mobil box yang masuk, maka daging ayam beku yang diperkirakan masuk sebanyak 5 ton sehari.
Selain satu pengusaha daging/ikan yang didatangi itu di Balai Karangan ada empat lagi pedagang daging/ikan yang sama besar. diperkirakan daging ayam beku yang masuk beredar di Kabupaten Sanggau sekitar 20 - 25 ton sehari.
Dari pedagang ikan/daging ini mendapat keterangan : harga beli daging ayam beku di Serawak Rp 20.000/ekor sudah dipotong, harga jual partai besar di Balai Karangan dan Entikong Rp 20.000/kg, berat rata-rata daging ayam beku ini 2,0 kg. Kemudian dugaan biaya-biaya ‘meloloskan’ barang dagangannya tersebut, narasumber mengaku, total sekitar Rp 5 juta per satu mobil box; untuk bea cukai Rp 1 juta/mobil box, untuk karantina Rp 300.000/mobil box, keamanan (polisi, tentara, dll) Rp 2 juta. Termasuk memberi ‘ringgit’ kepada petugas Malaysia, total biaya per mobil box Rp 5 juta.
Harga ayam broiler hidup di wilayah Malaysia; pasar Tebedu RM 6.30 = Rp 17.829/kg. di pasar Serian RM 5.50 = Rp 15.565/kg hidup. Dijual di pasar Entikong dan Bale Karangan (Kalbar) Rp 22.000/kg hidup. Pembelinya adalah pedagang pengumpul/pangkalan yang rata-rata membeli ratusan sampai 1000 ekor. Kepada pemotong yang membeli 50 – 150 ekor per hari dijual dengan harga Rp 25.000 – 26.000/kg (sama dengan harga broiler hidup ex-farm yang dipelihara oleh peternak di Kabupaten Sanggau dan sekitarnya). Kepada konsumen akhir ayam broiler dijual Rp 28.000 – 30.000/kg karkas
Sebelum meninggalkan Bodok untuk kembali ke Pontianak, penulis mendapatkan kabar dari seorang pedagang ayam di Bodok yang memperoleh tawaran dari pedagang di Balai Karangan, apakah bersedia ambil ayam broiler hidup sebanyak 800 ekor yang baru datang pagi itu, pedagang tersebut mengaku punya ayam broiler dari jiran sebanyak 1.200 ekor.
“Bila peredaran ayam broiler hidup hanya ‘terbatas’ pada wilayah Kabupaten Sanggau dan sekitarnya, peluang masuknya daging ayam dan daging sapi beku keluar Kabupaten Sanggau, bahkan hingga ke Pontianak, sangatlah besar. Diperkirakan terus berlangsung hingga menjelang puasa Ramadhan bahkan menjelang Lebaran,” beber Bambang.
Masalah Hankam
Terpisah, Kepala Dinas kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf Mustafa, membenarkan adanya dugaan penyeludupan daging dan Ayam dari Malaysia, dia berharap aparat PPLB tegas dan bekerja dengan benar.
Manaf menyayangkan hal ini terjadi karena dapat merugikan peternak lokal, padahal stok ayam di Kalbar sampai lebaran tidak ada masalah. Pihak Diswanak juga akan bekerjasama dengan Kodam XII Tanjungpura untuk memperketat pemeriksaan masuknya daging dan ayam illegal dari Malaysia, “Penyelundupan daging tidak bisa dibiarkan, ini berkaitan dengan masalah pertahanan dan keamanan, lagipula tidak dijamin apakah halal dan sehat, coba kalau disuntik virus antrax bisa habis masyarakat kita,” terang Manaf.
Dijelaskan Manaf, untuk stok ayam sampai lebaran mencapai tiga juta ekor, belum lagi ayam merah mencapai 900 ribu ekor yang siap di drop dari Singkawang. Terkait penyeludupan ini juga sudah lapor ke Gubernur dan Menteri Pertanian, untuk diberi peringatan tegas karena ini urusan antar negara,“Tidak ada alasan, untuk impor daging Ayam, maupun daging sapi, karena stok dalam negeri cukup, masyarakat jika membeli daging supaya teliti, resmi atau tidaknya,” terang Manaf.
Sementara Itu, Kapolda Kalbar Brigjen Sukrawardi Dahlan, menghimbau masyarakat meneliti barang-barang yang akan dibeli, jika barang yang tidak elok dimakan jangan dibeli, “Ayam yang tidak jelas dipotongnya kapan jangan dibeli, belilah yang diproduksi sendiri (dalam negeri)” terang perwira bintang satu itu. Terkait dugaan penyeludupan Ayam dari Malaysia di Perbatasan Entikong, jika memang ditemukan barangnya akan diadakan penertiban bila sudah masuk wilayah hukum Indonesia.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
