Corps Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (Menwa) Kalimantan Barat menggagas untuk melakukan sosialisasi nasionalisme di perbatasan. Kegiatan tersebut dalam rangka membantu pembinaan teritorial Komando Daerah Militer XII Tanjungpura dan Pemerintah Provinsi Kalbar, yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.
“Alumni Menwa Kalimantan Barat menggagas sosialisasi nasionalisme di perbatasan bersama kodam dan Pemprov Kalbar ke depannya,” terang Ketua Kelompok Kajian Teritorial Alumni Menwa Indonesia Kalimantan Barat, Hapsoro Rahardjo, dalam silaturahmi Menwa dan alumni Menwa Indonesia Kalbar dengan Panglima Kodam XII Tanjungpura, Mayjen TNI Moeldoko beserta jajarannya di hotel Gajahmada Pontianak, Selasa (31/8).
Ketua Ikatan Alumni Menwa Kalimantan Barat, W. Suwito, pada kesempatan itu mengatakan, alumni Menwa dan Menwa merupakan generasi penerus pewaris nilai-nilai perjuangan dan kejuangan pelajar dan mahasiswa pejuang dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dan komponen rakyat terlatih, pelopor dalam pelestarian dan pengamalan Pancasila serta UUD 1945 dengan menanamkan sikap kepemimpinan, kesadaran dan kehormatan dalam pembelaan negara, mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Pangdam XII Tanjungpura, Mayjen TNI Moeldoko menyambut baik gagasan alumni Menwa tersebut. Menurut Jenderal bintang dua itu, gagasan yang disampaikan alumni Menwa sangat bagus, mengingat TNI khususnya Kodam XII Tanjungpura tidak bisa bekerja sendiri, pihaknya pun akan membicarakan hal tersebut dengan Pemerintah Provinsi Kalbar, mengingat kegiatan tersebut juga merupakan program pembinaan teritorial.
Jangan Terpancing
Disatu sisi, Moeldoko mengharapkan agar masyarakat Kalbar jangan terpancing dengan gejolak yang terjadi sekarang antara Indonesia-Malaysia, karena menurutnya masih bisa dibicarakan dengan jalan diplomasi.
“Perang itu mudah, tapi kita tidak tahu kalau akibat perang masyarakat yang menderita, jangan terpancing emosi, sikapi dengan bijak setiap informasi yang datang,” terang Moeldoko.
Menurut dia yang terpenting adalah masyarakat diminta untuk menjaga jiwa kebangsaan.
Hal sama disampaikan tokoh masyarakat Dayak Kalbar, Jacobus F. Layang.
Pensiunan PNS dan mantan Bupati Kapuas Hulu itu menghimbau agar menyelesaikan masalah dengan negara asing, utamanya Malaysia, dengan diplomasi.
Dia tegas menolak penyelesaikan dengan cara perang, karena itu akan membuat rakyat menderita. ”Ingat konfrontasi Dwikora, betapa rakyat perbatasan menderita lahir batin,” kata pria yang juga tercatat sebagai veteran Dwikora pembela kemerdekaan RI itu.
Jalan diplomasi adalah pilihan terbaik bagi kedua negara, kasihan rakyat di perbatasan kedua negara yang masih ada ikatan keluarga, bila sampai terjadi perang, katanya lagi.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
