Jalan Trans Kalimantan poros selatan, merupakan jalan arteri primer dan merupakan salah satu lintas utama perekonomian di Kalimantan. Pembangunan jembatan Tayan akan menjadikan lintas selatan Kalimantan, berfungsi secara optimal untuk melayani kinerja transportasi darat. Direktur Bina Teknik Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Danis H. Sumadilaga, menyampaikan hal tersebut dalam pemaparan ekspose pembangunan Jembatan Tayan di Pontianak, Selasa (7/4).
Jalan Trans Kalimantan poros selatan, merupakan jalan arteri primer dan merupakan salah satu lintas utama perekonomian di Kalimantan. Pembangunan jembatan Tayan akan menjadikan lintas selatan Kalimantan, berfungsi secara optimal untuk melayani kinerja transportasi darat. Direktur Bina Teknik Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, Danis H. Sumadilaga, menyampaikan hal tersebut dalam pemaparan ekspose pembangunan Jembatan Tayan di Pontianak, Selasa (7/4).
Namun, pembangunannya masih dihadapan dengan tiga faktor utama yang harus diselesaikan. Agar pembangunannya kedepan, tidak terkendala. Ketiga faktor tersebut tata ruang, pembebasan lahan, dan faktor sosial. Mengenai pendanaan jembatan semua diambil dari APBN.
Danis mengharapkan, ketiga permasalahan tersebut supaya diselesaikan sebelum keberlanjutan pembangunan jembatan yang terletak di Kecamatan Tayan Hilir, penghubung Kota Tayan dengan Piasak, Kabupaten Sanggau.
Saat ini, lalu lintas kendaraan dilayani oleh kapal ferry yang dioperasikan PT ASDP. Mengenai tahap pembangunan sudah melewati tahap persiapan, perencanaan, detail desain jembatan dengan desain lifenya 100 tahun. Namun bukan berarti, setelah 100 tahun, jembatan tersebut tidak bisa digunakan.
Danis menjelaskan, jembatan tersebut sebagai tindaklanjut dari hasil studi kelayakan Bintek tahun 2004. Tujuan dibangunnya jembatan Tayan, merupakan trase yang memiliki akses dari dan menuju Pulau Tayan. Sesuai dengan pengembangan wilayah. Yaitu sesuai dengan rencana tata ruang kota Tayan di Pulau Tayan, rencana lintasan yang turun ke Pulau Tayan, dengan pertimbangan bahwa, pulau memiliki fungsi sebagai kawasan perdagangan, pemukiman, dan wisata.
Ini meminimalkan dampak dekstruktif terhadap lingkungan dengan memperkecil pembebasan hutan produktif sekitar 12 Ha. "Dengan dibangunnya jembatan ini, akses pengangkutan karet dan kelapa sawit secara aspek pelaksanaan, lebih mudah dilaksanakan karena sebagian konstruksi berada di pulau," katanya.
Pembangunan jembatan dengan panjang total 1354 meter, dua jembatan terbagi panjang total Pile Slab 70 meter. Panjang total Oprit 233 meter, sisi utara dan selatan. Lebar jembatan 11,5 meter dua jalur. Pembuatan jembatan butuh biaya Rp 500 miliar. Untuk jembatan Rp 450 miliar. Jalan penghubung Rp 50 miliar.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Jakius Sinyor, dana yang sudah disiapkan lima miliar untuk pengerjaan awal, belum pengerjaan utama. Jakius mengatakan, pembangunan jembatan tersebut, bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 tahun.
Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, mengharapkan pengerjaan jembatan Tayan, segera dan serius. Alasannya, pembangunan butuh biaya besar. Ia tidak ingin pembangunan jembatan dengan desain rangka baja terbaru di dunia, seperti digunakan Cina, sama nasibnya seperti jembatan Kapuas II. Bautnya diambil orang. Sehingga bisa membahayakan penggunanya.
Gubernur berkata, jembatan Tayan yang mulai dibangun tahun ini, nilai seninya tinggi. Jembatan tersebut akan dijadikan juga sebagai tempat wisata. Sehingga, dalam pembangunan nanti, konsultan diharapkan bekerja secara profesional. Terutama konsultan pengawas, harus selalu berada di lokasi, ketika proses pembangunan berjalan.
"Jangan sampai jembatannya belum diresmikan sudah roboh, konsultan bertanggungjawab terhadap kualitas, kalau tidak mampu diganti," kata Gubernur.
Ia mengungkapkan, tidak ada gunanya jalan Trans Kalimantan dibangun, tanpa ada jembatan Tayan.
Kepada masyarakat yang mungkin terkena pembebasan lahan, Gubernur mengharapkan kerjasama dan niat baiknya, untuk kepentingan umum. Ia mengharapkan Pemkab Sanggau, mengurus masalah tersebut, agat tidak muncul permasalahan yang menghambat pembangunan jembatan tersebut.
Menurut data PU, untuk pembebasan lahan seluas 230.262 atau 23 Ha. Pembebasan bangunan, ada 18 bangunan. Terdiri dua bangunan pemerintahan dan 16 rumah penduduk.
Mengenai nama jembatan tersebut, Gubernur menjelaskan kalau nama Jembatan Sui Tayan kurang tepat. Semestinya nama jembatan tersebut adalah, Jembatan Kapuas di Tayan.
Mengenai penamaan supaya dikoreksi dari awal, karena berhubungan dengan aspek yuridis formalnya. "Jembatan ini melintasi Sungai Kapuas melalui Pulau Tayan. Diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di pulau tersebut," ujarnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
