You are here

Dibalik Prestasi Mereka, Cornelis: Ternyata Kita Mampu

Dewi Suryana, berseri-seri walaupun harus menunggu penyerahan penghargaan dari Gubernur Cornelis masih beberapa jam lagi.

Ia bersama Leopratama Limas dan Yohana LA. Suyati yang seorang guru, ditemani beberapa guru pendamping dan Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Alexius Akim, tampak tenang duduk di ruang tunggu depan ruang kerja Gubernur, Senin (11/1).

Dewi Suryana, berseri-seri walaupun harus menunggu penyerahan penghargaan dari Gubernur Cornelis masih beberapa jam lagi.

Ia bersama Leopratama Limas dan Yohana LA. Suyati yang seorang guru, ditemani beberapa guru pendamping dan Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Alexius Akim, tampak tenang duduk di ruang tunggu depan ruang kerja Gubernur, Senin (11/1).

“Mereka akan mendapat penghargaan dari Gubernur,” terang Kepala Dinas Pendidikan Alexius Akim kepada para wartawan yang juga akan mengabadikan peristiwa itu melalui tulisan, video maupun foto.

Dewi Suryana dari SPMK Imanuel Kota Pontianak, meraih juara II International Junior Science Olimpiade (IJSO) tingkat Internasional di Baku Azerbaijan, 2-11 Desember 2009, dan Leopratama Limas, siswa SMA Immanuel Kota Pontianak, meraih juara III lomba pidato Bahasa Mandarin tingkat Internasional kategori perorangan di Chongqing Cina, 14 Oktober-2 November 2009.

Sementara, Yohana LA. Suyati, guru SMP Negeri 4 Sanggau, berhasil menyabet juara satu sayembara penulisan naskah buku pengayaan tingkat nasional dengan judul kelapa sawit dan pemanfaatannya sebagai sumber bio energy. Kepada mereka bertiga diberikan penghargaan berupa piagam, laptop dan uang pembinaan dari Gubernur dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar.

Berawal dari pengalaman

Yohana, tidak menyangka, kalau dirinya dinobatkan sebagai juara I tingkat nasional dalam penulisan naskah buku pengayaan pembelajaran.

Ia menceritakan, ide briliannya tersebut karena pengalaman sehhari-hari melihat masyarakat yang susah mencari bahan bakar minyak (BBM) apalagi krisis yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, sehingga idenya untuk membuat memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan untuk membuat bio diesel pengganti BBM.

“Potensi sawit di Sanggau besar, kenapa tidak dibuat bio diesel saja,” kata dia dengan logat khas Sanggau Kapuas.

Alumni Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Yogyakarta, 1998, tersebut pun menulis sebuah buku mengenai bio diesel tersebut, sehingga mengantarnya ke Jakarta untuk meraih juara I menggalahkan 818 peserta dari seluruh Indonesia.

Buku karya dia tersebut rencananya akan diterbitkan sebuah percetakan di Jawa.

Lain cerita Dewi Suryana. Siswi berprestasi ini ketika mengikuti lomba di Azerbaijan, sempat gugup, karena soalnya sulit. “Soalnya itu untuk siswa SMA dan perguruan tinggi, saya gugup mengerjakannya,” aku Dewi yang kelahiran Pontianak 9 September 1995.

Namun, karena target harus bawa medali karena sudah jauh-jauh dari Indonesia, maka Dewi harus melupakan gugup yang dirasakannya, dan harus bisa berkompetisi melawan peserta dari 48 negara. Alhasil, dari 280 peserta siswi yang baru menginjak kelas III tersebut berhasil menggondol medali perak ke Indonesia.

Prestasi tersebutlah yang mengantarkannya mendapat beasiswa dari Pemerintah Pusat sampai menempuh strata II di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri, dan mendapat penghargaan dari Gubernur dan Dinas Pendidikan Kalbar.

Banyak yang terkejut

Leopratama Limas yang meraih juara II pidato Bahasa Mandarin, memiliki pengalaman menarik ketika mengikuti lomba, kontestan dari Indonesia yang hanya dua orang termasuk dirinya dari harus pulang dan mengharumkan nama negara, “Harusnya kami bertiga, namun yang dari Singkawang menjelang keberangkatan ke Cina sakit, jadi tinggal saya dan teman dari Jakarta,” ujarnya.

Indonesia sendiri menurut siswa kelahiran Pontianak 6 April 1991, tersebut harus mengalahkan 105 peserta dari 29 negara yang terdiri 35 tim, agar mendapat juara, “Banyak yang terkejut ketika ada peserta dari Idonesia, itu yang memotivasi saya,” kata dia lagi.

Leo, panggilan akrab Leopratama Limas, menunjukan kebolehannya berpidato Mandarin, dengan tema, ”Bagaimana belajar Bahasa Mandarin menyenangkan”.

Dari hasil jerih payah tersebut, sudah layak dan sepantasnyalah penghargaan yang mereka dapatkan, terutama Dewi dan Leo yang bebas memilih mau kuliah di dalam atau di luar negeri, dengan biaya Pemerintah Pusat, sementara guru Yohana, akan menjadi teladan bagi guru-guru lain di Kalbar dalam menoreh prestasi.

 “Ternyata kita mampu,” ujar Cornelis mengomentari prestasi dunia yang telah ditorehkan putra putri terbaik Kalbar itu.