Guyuran hujan sepekan terakhir di Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau, telah menyebabkan banjir bandang. Empat ribu lebih rumah warga di 12 desa terendam banjir. Kerugian ditaksir miliran rupiah.
Guyuran hujan sepekan terakhir di Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau, telah menyebabkan banjir bandang. Empat ribu lebih rumah warga di 12 desa terendam banjir. Kerugian ditaksir miliran rupiah.Dari 12 desa yang terendam banjir itu, dua desa yang paling parah, yakni Desa Mahap dan Desa Karang Betung. Data sementara yang berhasil di input pihak kecamatan, untuk Desa Mahap sebanyak 400 rumah atau sekitar 598 kepala keluarga (KK) dan Desa Karang Betung tidak lebih dari 500 rumah.
Demikian laporan yang disampaikan Camat Mahap, Rupinus yang dihubungi via telepon, Senin (28/12) kemarin. Camat Rupinus menuturkan pihaknya masih mengalami kesulitan dalam mendata rumah warga yang terendam banjir, karena disebabkan ketinggian air yang tak kunjung surut.
“Data belum masuk semuanya, tapi saya perkirakan sekitar 4000-an rumah yang terendam banjir, atau bahkan lebih,” tutur Camat ramah ini.
Rupinus mengatakan saat ini warga mengungsi di empat tempat, diantaranya asrama putri, lokasi bukit baru, daerah mungguk dan semilang.
“Peristiwa ini sudah kita laporkan ke kabupaten, sekarang menurut laporan yang disampaikan oleh Kabag Sosial dan Kesejahteraan, Bonivasius, pihaknya sedang rapat dengan Sekda Sekadau untuk membahas masalah ini. Mereka rapat untuk merinci berapa bantuan yang akan disalurkan. Sekarang datanya lagi dikirim,” ujar Rupinus.
Akibat terjangan banjir yang cukup deras itu kata Rupinus selain merendam rumah warga juga menyebabkan jembatan sepanjang 50 meter putus dan dua rumah warga terjabut hanyut.
Rupinus menuturkan, sepanjang sejarah, baru tahun 2009 ini banjir di Kecamatan Nanga Mahap yang paling besar. “Banjir tahun ini sejarah yang paling besar setelah 30 tahun yang lalu pada peristiwa yang sama,” ungkapnya seraya mengatakan warga menganggap banjir ini biasa-biasa saja dan terkesan tidak peduli, karena setiap tahun memang terjadi banjir, tapi tidak sebesar yang sekarang.
Dibalik peristiwa yang telah meluluh lantakan rumah warga ini, ungkap Rupinus merupakan dampak penebagan pohon, terutama durian yang dilakukan oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan kebutuhan sesaat dan tidak peduli terhadap kepentingan umum. Untuk itu, kata Rupinus ini sebagai peringatan yang menjadi pelajaran bagi masyarakat.
Sementara itu, khusus untuk Desa Nanga Mahap seperti yang dilaporkan Kepala Desa setempat, John saat ini ketinggian air di badan jalan raya pasar Nanga Mahap mencapai tiga meter.
Pihaknya bersama anggota DPRD Sekadau Radius Efendi sudah menyalurkan bantuan secukupnya berupa mie instant khusus untuk Desa Mahap. Kerugian yang dialami khusus untuk Desa Mahap ucap John tidak kurang dari dua miliar rupiah bahkan lebih.
“Banyak harta benda termasuk karet dan kayu warga dan pedagang tidak bisa diselamatkan, karena air datang mendadak sehingga warga tidak sempat mau berkemas,” tutur John.
Ramlan, tokoh masyarakat yang juga mantan kepala desa Mahap berharap agar peristiwa ini segera ditangani pemerintah terutama Pemkab Sekadau karena tidak sedikit warga yang kehilangan harta benda. “Kami salurkan bantuan makanan serta pakaian,” tuturnya.
Dari sejarah yang pernah diceritakan oleh para orang tua, ucap John banjir pernah terjadi di Kecamatan Mahap pertama kali terjadi pada tahun 1958. Selang beberapa tahun kemudian, peristiwa yang sama juga terjadi yang kedua kali pada tahun 1979. Berjalan 10 tahun baru tahun 2009 yang paling besar.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sekadau Awang Asnawi saat dikonfirmasi via telepon, mengatakan Pemkab Sekadau siap memberikan bantuan kepada warga yang rumahnya terendam banjir, tetapi yang terpenting pihak kecamatan harus segera membuat laporan atau data selengkap-lengkapnya bagi warga yang membutuhkan bantuan.
Awang juga meminta kepada pihak kecamatan, jika ada masalah yang sangat mendesak dan urgen silahkan ditangani terlebih dahulu. Misalnya bagi warga yang betul-betul tidak bisa mendapatkan makanan, minuman, pakaian dan lain sebagainya.
“Kita minta pihak kecamatan tangani dulu jika ada masalah yang sangat mendesak, nanti baru kabupaten ganti, yang penting, penggunaan anggaran jelas sehingga tidak menjadi tersangka, ini masalah kemanusian harus segera kita ditangani,” ucap pria asal Singkawang itu. Dalam pernyataanya, Awang mengatakan Selasa (29/12) hari ini tim dari kabupaten akan turun langsung ke kecamatan Nanga Mahap dan Nanga Taman.
“Besok (hari ini, red) tim kabupaten akan turun ke lapangan. Kita mau mendata berapa ton beras yang diperlukan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan,” ujarnya seraya mengatakan belum dapat memprediksi berapa anggaran yang dibutuhkan, tetapi yang jelas bantuan yang akan disalurkan ini menggunakan anggaran tidak terduga yang khusus untuk menangani bencana seperti banjir dan kebakaran.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
