Selama UN berlangsung, Dinas Pendidikan (Disdik) dan seluruh Pengawas ujian nasional (UN) harus terus waspada. Sebab banyak oknum yang tidak bertanggungjawab siap memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan pribadi dengan menjual soal dan kunci jawaban UN.
Indikasi adanya oknum yang berusaha menjual soal dan kunci jawaban UN pada siswa terungkap saat saya mewawancari beberapa siswa peserta UN, Senin (20/4) pagi kemarin.
Selama UN berlangsung, Dinas Pendidikan (Disdik) dan seluruh Pengawas ujian nasional (UN) harus terus waspada. Sebab banyak oknum yang tidak bertanggungjawab siap memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan pribadi dengan menjual soal dan kunci jawaban UN.
Indikasi adanya oknum yang berusaha menjual soal dan kunci jawaban UN pada siswa terungkap saat saya mewawancari beberapa siswa peserta UN, Senin (20/4) pagi kemarin.
Seperti diungkapkan oleh Rv, siswi kelas XII IPS2 SMAN 1 Pontianak bahwa teman-temannya pernah ditawari soal dan kunci jawaban UN oleh orang tidak dikenal.
Ia menceritakan tawaran ini berawal ketika teman-temannya berusaha mencari contoh-contoh soal UN sebagai persiapan mereka mengikuti UN. Kemudian tanpa sengaja teman-temannya ini ditawari oleh orang tidak dikenal untuk membeli soal UN beserta kunci jawabannya.
“Orang tidak dikenal tersebut menawarkan satu paket soal UN untuk semua mata pelajaran yang diujiankan beserta kunci jawabannya seharga Rp6 juta,” ungkapnya.
Namun karena tidak punya uang sebesar itu dan tidak yakin dengan kebenaran soal yang di jual bakal sama dengan soal UN sesungguhnya, para siswa SMAN 1 Pontianak ini menolak tawaran tersebut.
“Sayangnya saat ditanya identitasnya, orang tidak dikenal tersebut tidak mau menjawab,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Rv mengakui, sebelum UN pertama yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia dimulai, teman-temannya jurusan IPS membagikan kunci jawaban soal Bahasa Indonesia. Kunci jawaban yang dibagikan ada dua versi yaitu versi paket A dan paket B.
“Usai UN Bahasa Indonesia, teman-teman saya mengatakan kunci jawabannya ada yang sama dan ada yang tidak sesuai,” tuturnya.
Dikatakan Rv, teman-temannya menuliskan kunci jawaban Bahasa Indonesia di HP atau di kertas selebar yang dibawa masuk ke kelas.
Ia yang mengaku tidak ikut-ikutan mencatat kunci jawaban yang disebarkan teman-temannya mengatakan soal-soal Bahasa Indonesia tidak terlalu sulit. Model-model soalnya juga tidak berbeda dengan yang ada di SKL. Namun untuk soal Sosiologi diakuinya cukup sulit.
“Saya hanya bisa menjawab sebagian saja dari 40 soal,” ungkapnya.
Di tempat terpisah, Amalia siswi Kelas XII IPA1 SMAN 1 Pontianak mengakui untuk pelajaran Bahasa Indonesia, soal-soalnya cukup mudah tapi pelajaran Biologi, ada 8 soal yang tidak ia ketahui jawabannya.
Berbeda dengan dua siswi di SMAN 1 Pontianak, Sari, siswi Kelas XII IPA3 SMA Mujahiddin mengakui hanya bisa menjawab soal Biologi 50 persennya saja. Diakuinya soal-soal Biologi yang keluar sangat berbeda dengan soal-soal uji coba dalam try out. Sedangkan Sutrisna, siswi Kelas XII IPS SMA Mujahiddin juga mengakui kesulitan dalam mengerjakan soal-soal Sosiologi.
“Hanya sebagian saja soal yang bisa saya jawab,” ujarnya.
Menyikapi maraknya indikasi kebocoran UN, Sekertaris Pengawas Independen yang juga Ketua LPMP Kalbar, Abdul Hadi menegaskan seluruh pengawas dari perguruan tinggi harus benar-benar ketat dalam mengawasi UN. Pengawas jangan segan-segan memberikan teguran pada pengawas ruangan jika terlihat membiarkan adanya kecurangan yang dilakukan siswa.
Hadi menghimbau, seluruh pengawas segera melaporkan jika ada temuan-temuan kebocoran atau pelanggaran dalam UN.
“Berikan catatan khusus pada sekolah jika ditemukan kecurangan UN,” ungkapnya.
Ia juga meminta agar pengawas dari perguruan tinggi dapat lebih awal datang ke sekolah. Sebab sering kali terdengar banyak siswa datang pagi-pagi untuk berbagi kunci jawaban pada sesama temannya.
Pada lembaga-lembaga bimbingan belajar, Hadi menegaskan agar tidak menjanjikan kelulusan 100 persen pada siswa yang mengikuti bimbel di tempatnya dengan memberikan soal dan kunci jawaban UN palsu.
