Kampus sebagai tempat para intelektual muda menuntut ilmu untuk bekal menjadi pemimpin masa depan, ternyata dinodai ulah oknum mahasiswa berbuat anarkis.
ampus sebagai tempat para intelektual muda menuntut ilmu untuk bekal menjadi pemimpin masa depan, ternyata dinodai ulah oknum mahasiswa berbuat anarkis.Seperti tersaji di kampus Univesitas Tanjungpura Pontianak. Kaca seluruh gedung pecah dan belasan motor dirusak oknum mahasiswa Fakultas Teknik yang melalukan penyerangan ke kampus biru tersebut.
Bahkan sekretariat bengkel seni mahasiswa Fisip ludes terbakar oleh aksi anarkis ratusan oknum mahasiswa yang kalap, Jumat (12/3) sekitar pukul 16.30 sore kemarin.
Tindak kriminalitas tersebut sungguh bertolak belakang dengan kampus yang merupakan kumpulan orang-orang pintar dan seharusnya malu untuk berbuat anarkisme.
“Mereka membawa kayu dan bensin lalu melakukan penyerangan kampus kami dari segala penjuru,” ungkap Dede, mahasiswa Fisip yang ditemui di tempat kejadian, kemarin.
Saat penyerangan itu, Dede mengaku berada di sekretariat bengkel seni yang dibakar. “Saat mahasiswa Teknik menyerang, saya lari ke belakang,” katanya.
Selain membakar sekretariat bengkel seni, oknum mahasiswa Teknik juga menghancurkan kaca-kaca fakultas dan merusak belasan motor milik mahasiswa Fisip. Akibatnya semua ruangan kuliah rusak.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, puluhan anggota Kepolisian dari Poltabes Pontianak dan Polda Kalbar tiba. Polisi sempat menghalau massa dengan dua kali tembakan peringatan.
Hampir terjadi serangan balik dari mahasiswa Fisip terhadap Fakultas Teknik. Namun Polisi tertindak cepat dan berhasil menahan emosi ratusan mahasiswa yang hendak melakukan serangan balik itu.
Sementara petugas pemadam kebakaran bahu-membahu menjikakan kobaran api sehingga tidak sampai menjalar ke gedung lainnya. Tapi sekretariat bengkel seni sudah terlanjur ludes di jilat api.
Sekitar pukul 17.30, Kapolda Brigjen Pol Erwin TPL Tobing didampingi Wakapoltabes tiba di kampus Fisip dan berupaya meredam emosi mahasiswa.
Tampak juga Pembantu Rektor III, Edy Suratman, Pembantu Dekan Fisip, Sukamto. Kapolda Erwin dengan sikap ramahnya berhasil mendinginkan suasana. Ia lalu mengajak perwakilan mahasiswa Fisip berdialog di salah satu ruangan.
Kepada Kapolda perwakilan mahasiswa Fisip minta agar petugas baju coklat itu menangkap dan menindak tegas pelaku penyerangan. Sebab itu sudah perbuatan kriminalitas.
“Kita minta aparat menangkap pelaku pembakaran dan pengrusakan kampus. Karena itu jelas tindakan kriminalitas,” kata perwakilan mahasiswa dalam dialog tersebut.
Balasan
Sebetulnya aparat Kepolisian sudah mengetahui ketegangan antar fakultas tersebut. Sebab pada Kamis (11/3) sekitar pukul 23.00, terjadi bentrokan antara mahasiswa kedua fakultas yang memang sudah menyimpan cerita lama itu.
Bahkan saat tawuran pertama dimana oknum mahasiswa Fisip kabarnya menyerang menyerang kampus Fakultas Teknik. Namun urung terjadi karena aparat kepolisian sigap. Dan Wakaoltabes sempat menjamin tidak terjadi apa-apa pada kampus Fisip.
Masih menurut mahasiswa Fisip, Polisi tidak tegas dalam menangani kasus tawuran mahasiswa. Sebab tawuran di Untan sudah berulang kali terjadi.
“Mahasiswa Teknik seringkali melakukan penyerangan ke kampus lain tapi Polisi seperti tidak bisa menindak tegas pelaku-pelaku penyerangan,” kata mahasiswa di depan Kapolda.
Sementara Kapolda menyatakan keprihatinannya atas kejadian pembakaran dan pengerusakan kampus yang dilakukan mahasiswa. Ia menjamin akan ada tindakan tegas dari kepolisian. “Kita akan usut dan tangkap pelaku pembakaran itu,” ujarnya.
Ia meminta, mahasiswa Fisip untuk menahan diri dan tidak membalas serangan atau membalas membakar sarana kampus. Karena yang rugi bukan mahasiswa tapi Untan.
Erwin menegaskan agar mahasiswa mempercayakan kepada kepolisian untuk menindak tegas pelaku pembakaran dan pengerusakan kampus.
“Ini musibah yang memalukan di Untan. Kita harus redam masalah ini,” kata Kapolda sembari menjamin keamanan di Fisip khususnya dan Untan umumnya.
Purek III Untan, Edy Suratman menyatakan sangat menyayangkan kejadian tersebut.
“Saya tidak habis pikir, mengapa mahasiswa yang notabe-nya adalah kaum intelektual tapi bertindak tidak intelektual,” ujarnya.
Dikatakannya, ia menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada Kepolisian untuk memproses hukum pelaku-pelaku penyerangan.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
