Borneo Tribune, Pontianak
Herry Djaung, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, menyatakan bahwa koperasi perlu membangun citra, agar koperasi dan masyarakat, juga mendukung semua kegiatan koperasi. Dia katakan itu di Pontianak, Selasa (3/2).
Sikap pemerintah daerah terhadap koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM), sangat tinggi. Sekarang koperasi dan UMKM sudah mempunyai kantor sendiri. Untuk kedepannya, koperasi dan UMKM akan memberdayakan koperasi dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat khususnya UMKM.
"Salah satu tindakan yang akan diambil koperasi untuk para UMKM, koperasi bisa memfasilitasi bertemunya pihak pembeli atau pemilik modal," kata Herry.
Dengan hanya memberi modal, tanpa adanya kerja sama dengan pemilik modal, maka usaha yang dilakukan tidak bisa berjalan dengan lancar.
Sebenarnya UMKM bukan butuh modal, melainkan butuh pembeli tetap atau pemilik modal. Sehingga perputaran transaksi berjalan dengan lancar.
Dalam mekanisme kerja di koperasi, mereka biasanya tidak tergantung dengan modal. Koperasi hanya menjadi fasilitator untuk mendatangkan pemilik modal. Sehingga pemilik modal bisa bekerja sama dengan UMKM, secara berkesinambungan.
Dalam menjalankan program, koperasi harus terfokus dengan satu jenis produk. Misalnya satu koperasi mengatasi UMKM mengenai mebel, atau adanya komoditas yang menjadi unggulan tiap kabupaten. Dengan cara itu diharapkan terpetakan potensi yang ada pada setiap kabupaten. Sehingga mempermudah kerja koperasi.
Dengan adanya berbagai potensi yang diketahui, membuat koperasi bisa memasarkan lebih banyak lagi promosi kedepannya.
Karenanya, koperasi selain mempromosikan dengan cara pameran, juga bakal mempromosikan melalui media massa dan elektronik, yang tersebar dan mempunyai jaringan lebih luas. Sehingga masyarakat bisa membeli sebuah barang, tidak hanya saat pameran saja, tapi juga bisa melalui media elektronik, atau internet.
"Jadi, kita harus juga bisa mempergunakan perkembangan teknologi yang ada," kata Herry.
Dengan menggunakan teknologi yang ada, maka UMKM bisa bersaing dengan produk lainnya. Dengan menggunakan internet, UMKM bisa tahu barang-barang apa saja yang laku dan banyak diminati pangsa pasar. Waktu yang diperlukan untuk melakukan transaksi, tidak butuh waktu lama. Beda kalau melakukan pameran. Biaya yang dikeluarkan juga besar. Contohnya untuk sewa tempat yang cukup mahal. Sedangkan para pengunjung, belum tentu ada yang membeli. "Jadi, kita harus mempertimbangkan semua itu," katanya.
Masalah yang dihadapi koperasi adalah masalah profil koperasi. Misalnya, bidang apa saja yang ada, untuk mempermudah kerja koperasi dan dananya sudah ada, tetapi besar kecilnya belum diketahui.
Pada anggaran tahun 2008-2009 ada peningkatan. Namun, mengenai besar dan kecilnya anggaran yang ada, koperasi tetap bergerak secara efektif. Yaitu dengan adanya pembinaan atau pelatihan secara kongkrit, untuk para UMKM. Termasuk masalah pemasaran, pengepakan dan dukungan dari pelatihan managemen.
"Jadi program yang harus dijalankan adalah, kebijakan yang harus ditingkatkan dalam pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
