Di tengah karut marut persolan pada bangsa ini, mindset “Emang Gue Pikirin” yang selama ini ada dalam otak pemuda-pemuda zaman sekarang itu harus segera diubah. Masalah bangsa bukan cuma urusan pemerintah saja, tetapi kita (para pemuda) juga sebagai agent of change.
Saya selalu percaya istilah agent of change bukan cuma semboyan belaka. Saya selalu percaya bahwa kaum muda memang ada untuk melakukan sebuah perubahan.
Tapi perubahan tidak bisa dilakukan hanya oleh satu-dua orang saja. Dibutuhkan sebuah kebersamaan dengan didasari tekad kuat dan niat yang sama untuk melakukannya.Teladan dari Ahmad Wahib
Hemat saya, hal yang terpenting untuk peduli adalah paham tentang masalah-masalah bangsa. Kalau tidak tahu, kenapa kita harus berpikir kan? Nah, agar tahu, kita harus mencari informasi dari berita di tv, atau koran, dan lain-lain. Makin banyak pengetahuan yang kita punya, makin peduli juga kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi bangsa. Pedulilah, karena bangsa ini membutuhkan kontribusi dari kita sebagai kaum muda, kaum yang berani membuat perubahan. Tidak selalu harus menjadi pimpinan puncak dalam organisasi sosial tertentu baru mau berbuat.
Pada era tahun 60-an, tersebut seorang pemuda yang sangat fenomenal yang terkenal hingga sekarang. Dia terutama dikenal melalui catatan-catatan hariannya yang diterbitkan dengan judul Pergolakan Pemikiran Islam Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES, 1981). Dia adalah Ahmad Wahib, seorang aktivis HMI era 60-an. Wahib lahir pada 9 November 1942 dan meninggal 31 Maret 1973. Ironisnya, dia meninggal setelah tertabrak sepeda motor usai keluar dari kantor majalah Tempo, tempatnya bekerja sebagai calon reporter. Wahib tidak dikenal sebagai aktivis HMI yang berada di pimpinan puncak.
Djohan Effendi, dalam pengantar karya di atas, menyebut Wahib sebagai “orang belakang layar” atau “aktor intelektual”. Meski demikian, Wahib sangat pantas disebut sebagai seorang aktivis, sekalipun dia tidak lebih sebagai aktor di belakang layar. Orang yang berada di belakang layar dari suatu organisasi sosial, memang layak disebut sebagai aktivis. Karena, sebagaimana halnya Wahib, seringkali mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap hitam putihnya organisasi. Tokoh yang berada di balik layar kerapkali berperan sebagai konseptor, ideolog, dan menjadi penggerak. Ini merupakan salah satu tipikal dari seorang aktivis yang dapat ditiru para generasi muda/ mahasiswa.
Sekadar ilustrasi, sekalipun berada di balik layar, seorang Wahib mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisasi HMI waktu itu. Antara pertengahan tahun 1967 hingga akhir tahu 1971, Wahib dan beberapa koleganya di HMI menggelar sebuah forum “Lingkaran Diskusi Limited Group.” Beberapa anggota intinya kini merupakan tokoh-tokoh besar, seperti Dawam Rahardjo dan Djohan Effendi. Diskusi tersebut diadakan setiap Jum‘at sore di kediaman HA Mukti Ali. Sebagai pengantar diskusi sering diundang beberapa orang, seperti Syu’bah Asa, Saifullah Mahyuddin, Djauhari Muhsin, Kuntowijoyo, Syamsuddin Abdullah, Muin Umar, Kamal Muchtar, dan Simuh.
Sebagai forum diskusi para aktivis, lingkaran diskusi tersebut membicarakan berbagai masalah, terutama masalah-masalah yang berkaitan dengan agama, budaya, dan masyarakat. Melalui lingkaran diskusi ini ataupun berbagai kesempatan, pemikiran-pemikiran Wahib sangat mewarnai HMI. Wahib adalah seorang aktivis HMI yang menonjol, baik itu dalam kegiatan maupun dalam pemikirannya. Sehingga meskipun tidak menjadi pimpinan puncak, Wahib masuk dalam lingkaran elit HMI. Kemenonjolannya inilah yang setidaknya menjadikan Wahib pantas disebut sebagai aktivis pemuda, yang punya kontribusi besar dalam memperjuangkan perubahan.
Tidak perlu menunggu “besar” untuk berkontribusi
Maka, tunggu apa lagi? Kita tidak perlu besar untuk mulai berkontribusi, tetapi kita harus mulai berkontribusi agar menjadi besar. “Siapa mau mencari mutiara, haruslah berani selam ke dalam laut yang sedalam-dalamnya, siapa yang dengan kecil hati berdiri di pinggir saja dan takut akan terjun ke dalam air, ia tak akan dapat sesuatu apa,” demikian perkataan Bung Karno dalam Suluh Indonesia Muda, 1928.
Apabila pemuda Indonesia mampu mengimplementasikan semua idealisme dan segala potensinya dalam kehidupan nyata, maka dapat dipastikan lompatan quantum bagi progresivitas kemajuan bangsa Indonesia akan relatif lebih mudah terwujud. Wahai pemuda jangan layu sebelum berbuah!.***
*) Penulis, Mantan Wakil Pimpinan Umum Majalah Sinergi HMI Cabang Yogyakarta. Tinggal di Pontianak.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
