You are here

Ujian Nasional Ujian Bagi Kejujuran Bangsa

Menurut Undang Undang  Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan berfungsi membentuk dan mengembangkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.  Dalam banyak pidatonya, Presiden Soekarno menyebutkan “Kita bukan bangsa tempe (gembus, pen)”.

Bagi masarakat Jawa (tempo doeloe) tempe gembus bukan barang yang asing. Tempe gembus adalam tempe yang bahan bakunya ampas tahu. Kedelai jika diperas sarinya dibuat tahu. Ampas perasan kedelai ini pada umumnya ’dibuang’ untuk makanan ternak.

Namun, bagi sebagai orang Jawa ampas perasan ini dibuat menjadi tempe. Tempe gembus namanya. Jika dipegang terasa lembut. Karena bahan bakunya dipungut dari bahan ’yang terbuang’ maka harganya pun ’murah-meriah’. Dulu, harganya satu dibanding sepuluh terhadap tempe kedelai. Tidak semua orang senang makan tempe gembus ini. Tempe gembus menjadi makanan orang kelas bawah.

Bagi Bung Karno, sifat yang lembek diumpamakan seperti tempe gembus. Tidak memiliki karakter sama sekali. Tidak punya pendirian. Tidak berani menghadapi masalah. Cengeng. Sebentar-sebentar mengeluh. Tidak tahan banting. Tidak memiliki kalori. Tidak membuat orang bertenaga. Tidak berani menatap masa depan. Sifat-sifat seperti ini oleh Bung Karno diibaratkan seperti tempe gembus.

Mungkin, bagi sebagian orang dalam menghadapi Ujian nasional juga dapat disamakan dengan tempe gembus. Mereka lembek, cengeng, mengeluh,  was-was, khawatir,  ketakutan. Intinya, mereka takut tidak lulus.

Bagi mereka tidak lulus merupakan ’akhir’ dari perjalanan. Bagi mereka tidak lulus berarti aib bagi diri sendiri dan keluarga. Bagi mereka tidak lulus berarti merendahkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Mereka merasa malu.

Akibatnya, mereka berusaha dengan segala kemampuannya untuk menghindar dari ketidaklulusan. Mereka menempuh berbagai cara baik yang rasional maupun yang tidak rasional, baik yang halal maupun yang tidak halal.

Bagi sebagian orang, demi lulus ujian nasional rela mengorbankan martabat pribadinya. Demi lulus ujian nasional, mereka berani menempuh jalan berliku dan curam menuju lembang kecurangan.

Mereka mendekati siapa saja yang dirasa terlibat dengan ujian nasional. Mereka mencari para pembuat soal. Mereka menemui orang-orang yang bekerja di penerbitan. Mereka ’sowan’ kepada para guru, para pejabat Diknas. Seua dengan tujuan yang satu, memdapatkan ’bocoran’ soal.

Dengan perkataan lain, ujian nasional sangat dekat dengan lembah kecurangan bagi siapa saja dan kapan saja. Mereka itu para penyusun soal, para karyawan di percetakan, para guru, para pejabat Diknas, para dosen calon pengawas ujian dikelingi oleh para pencari bocoran soal dan kalau mungkin sekaligus bocoran kunci jawaban.

Jika mental mereka mebtal tempe gembus maka dengan mudah akan menurunkan martabatnya, menjadi tidak jujur. Mereka tidak lagi menghormati diri sendiri. Kepribadiannya menjadi lembek dan menjadi sangat pragmatis.

Karena itu, ujin nasional menjadi ujian bagi kita semua. Apakah kita masih menjunjung tinggi nilai kejujuran. Bagi siswa jujur akan memampuan dirinya. Bagi orang tua jujur akan sikapnya yang menganggap kegagalan itu suatu keaiban. Bagi para penyusun soal jujur akan tugasnya mengemban amanat bangsa. Bagi para karyawan penerbitan jujur akan tugasnya yang tingkat kerahasiaannya yang tinggi. Para guru jujur akan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Para pengawas jujur akan tugas negara yang diembannya untuk mengamankan ujian nasional dari tindak kecurangan. Bagi para politisi jujur akan yang diucapkan membela rakyat.

Kalau ini semua terjadi tentu bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa tempe gembus. Bangsa yang lembek!, cengeng!, penakut!, bertopeng!, pura-pura!.  Sebaliknya, justru akan menjadi bangsa yang bermartabat. Bangsa yang gagah berani membela kebenaran. Bangsa yang mau mengakui kekurangannya. Bangsa yang berani menunjukkan kemampuannya di depan yang lain. Semoga!